
Mobil yang dikemudikan Ilalang menepi di pelataran sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu adalah rumah di mana Aurel tinggal.
Aurel tinggal dengan Bagas, pamannya. Sementara orang tuanya berada di London. Tadinya mereka tinggal di Bandung. Namun karena Bagas ditugaskan dirumah sakit di Jakarta, akhirnya mereka pun pindah ke Kota Metropolitan itu.
"Aku langsung masuk, ya!" Aurel berniat membuka pintu mobil.
"Bentar, Aurel." Ilalang mencekal lengan Aurel yang sudah bersiap mau keluar dari mobil.
Gadis itu menoleh dengan wajah heran pada Ilalang. Apa yang Ilalang inginkan darinya? Aurel mulai curiga pada pacarnya itu.
"Rel, aku minta maaf atas perbuatan aku tadi. Kita pacaran 'kan sekarang?" tukas Ilalang sembari menatap lembut pada gadis manis di sampingnya itu.
Aurel tersenyum tipis lalu berkata, "Terus kalo kita sekarang pacaran kamu mau ngapain? Mau ajak aku buat anak?" Aurel tertawa kecil kemudian. Dia sangat senang karena akhirnya dirinya dan Ilalang sudah resmi berpacaran sekarang.
"Kamu ngomong apa sih, Rel? Aku serius lho!" Ilalang tampak kesal karena Aurel tidak serius menanggapi ucapannya tadi. Dia lantas memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
"Iya deh iya aku serius sekarang." Aurel menahan tawanya. Dia meraih jemari Ilalang yang sedang memegang kemudi mobil.
Ilalang mentambut dengan tersenyum gemas. "Rel, aku boleh minta kiss dong, ya?"
Pemuda itu bergegas mendekatkan wajahnya pada gadis manis di sampingnya itu.
"Ih, nggak mau! Nanti kamu kemablasan lagi kayak tadi." Aurel segera mendorong dada Ilalang darinya.
"Nggak, Yang. Aku janji cuma kiss aja kok. Boleh, ya?" Ilalang menatap dalam pada Aurel. Tatapan layaknya seorang anak yang meminta dibelikan mainan.
Gadis itu pun mengangguk dengan kedua pipinya yang merona merah. Ilalang tersenyum senang. Dia lantas segera mendekatkan wajahnya pada Aurel.
Tangan Aurel meremas lengan Ilalang yang berada di pinggangnya. Ciuman pemuda itu sangat liar. Dia sampai kewalahan.
"Ih, nakal kamu, Lang! Udah pernah ciuman sama cewek lain, ya! Atau Jangan-jangan kamu udah nggak perjaka lagi! Ayok ngaku!" Aurel menunjuk wajah Ilalang dengan wajah kesalnya. Pemuda itu cukup mahir berciuman. Pasti Ilalang sudah pernah sebelumnya, pikirnya curiga.
"Aurel, cuma kamu cewek pertama yang aku cium. Beneran!" Ilalang menunjukkan dua jarinya membentuk hurup V.
__ADS_1
Dia memang tak pernah menyentuh seorang gadis sebelumnya. Hanya Aurel yang membuatnya merasakan gairah dan hasrat layaknya seorang laki-laki.
Mikha juga pernah hampir menciumnya, namun dia menolaknya dan tidak merasakan apa pun. Sangat berbeda dengan sentuhan Aurel.
Dirinya bisa mudah terangsang meski gadis itu hanya meremas jemarinya saja. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ilalang tersenyum gemas lalu mengecup pipi Aurel.
"Ilalang!" Aurel mencubit ginjal Ilalang gemas. Pemuda itu tak henti mendaratkan bibirnya dan memberi ciuman di wajahnya. Dia sangat kerepotan.
"Yang, aku jemput kamu besok pagi, ya!
Kita berangkat bareng ke sekolah." Ilalang mengecup jemari Aurel yang sedang dipegangnya. Entah kenapa dia merasa sangat takut kehilangan Aurel. Dia tak ingin jauh dari gadisnya itu.
"Ih, kayaknya kamu udah bucin deh sama aku." Aurel tersenyum jahil lalu menarik tangannya dari Ilalang. Ia berbalik hendak keluar dari mobil.
Namun, Ilalang kembali mencekal lengan Aurel.
Gadis itu dibuat terkejut. Ia menolehkan kepala secara langsung pada pemuda di sampingnya. Hanya seringai tipis yang ditunjukkan oleh Ilalang sebelum pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Aurel.
"Kamu kesurupan ya! Mesum banget tahu!" gerutu Aurel seraya membenahi kancing seragamnya. Pipinya bersemu merah mengingat apa yang baru saja Ilalang perbuat padanya. Mereka lebih daripada sekedar berciuman.
Benar, dia memang sudah kesurupan.
"Aku masuk ya! Bye!" Aurel melambaikan tangannya pada Ilalang.
Pemuda itu hanya tersenyum manis dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aurel. Astaga, kenapa dia jadi begini? Mesum! Ilalang tersenyum tipis mengingat ciuman panasnya dengan Aurel.
"Aku janji, Rel. Aku akan selalu berusaha menahan diri dari kamu. Astaga, kamu itu bikin aku mesum ih!"
Ilalang tersenyum sembari memalingkan wajahnya.Di kepalanya kini hanya ada ******* Aurel yang selalu membuatnya panas dingin. Juga senyumnya Aurel yang lebih berbahaya dari narkotika jenis apa pun.
"Ilalang, kamu udah pulang? Mommy mau bicara sama kamu." Karina menghampiri Ilalang yang baru saja hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Pemuda itu hanya menghentikan langkahnya tanpa mau menoleh pada sang ibu. Dia masih kesal pada Karina.
__ADS_1
"Ilalang, apa yang kamu lakukan pada Aurel di kamar kamu? Mommy nggak mau kamu macem-macem. Kalian masih remaja. Jangan sampai masa depan kalian hancur cuma karena kenikmatan yang sesaat. Lain kali Mommy nggak mau melihat kamu membawa Aurel ke kamar kamu di saat Mommy nggak ada di rumah. Kalian saling mencintai, kalian bisa saja melakukan hal yang tidak seharusnya. Mengerti?"
Karina mengatakan ini pada Ilalang bukan berarti dirinya tidak suka kalau putranya itu menjalin hubungan asmara. Namun dia hanya takut kalau Ilalang melakukan hal lebih dengan Aurel.
"Mom, buah jatuh tak mungkin jauh dari pohonnya. Tadi aku hampir saja menodai Aurel. Beruntung dia kabur dariku."
PLAAK!
Karina sangat geram mendengar ucapan Ilalang. Bahunya naik-turun menahan emosi. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apa maksudnya? Karina sangat kecewa pada Ilalang.
"Pantas Aurel nangis. Jadi, kamu hampir saja menodai dia? Di mana otak kamu, hah?! Kenapa kamu seperti ini, Ilalang?!" Karina mengguncang kedua bahu Ilalang sembari menatapnya geram.
"Karena Mommy. Ini semua karena Mommy! Mommy yang sudah mencontohkannya padaku. Bahkan di rumah ini!"
"ILALANG!"
Karina sangat geram mendengar ucapan Ilalang. Matanya melotot merah pada putranya itu.
Dia tak habis pikir, kenapa Ilalang berani berkata seperti itu padanya. Ya, dia pernah kepergok Ilalang sedang bermesraan dengan pasangan mesumnya di kamar.
Namun, itu bukan berarti Ilalang harus mencontohnya. Hati Karina sangat hancur. Tangannya menggantung ingin menampar pemuda di hadapannya itu sekali lagi.
"Kenapa berhenti? Ayo tampar lagi! Jangan salahkan kalo putra Mommy ini rusak! Itu semua karena profesi ibunya yang kotor!" Ilalang menatap garang pada Karina sebelum memalingkan wajah dan berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Karina mengerang dalam tangisnya. Kemudian dia menjatuhkan lututnya pada lantai. Tangisnya terpecah. Dia sangat terluka atas ucapan Ilalang.
Ya, dia memang seorang pelacur! Tapi dia tak mau Ilalang menjadi pemuda yang rusak. Apalagi sampai menodai seorang gadis. Dia tak mau hal itu terjadi!
"Maafkan Mommy, Ilalang." Karina menunduk dengan air mata yang berjatuhan.
Pintu kamar dibanting dengan sangat keras oleh Ilalang. Kemudian dia duduk pada sofa di kamarnya. Diusap wajah bajingan itu dengan kasar.
Astaga, apa yang sudah dia katakan barusan? Lisannya sudah melukai hati ibunya. Pasti. Sebenarnya dia tidak bersungguh mengatakan hal itu. Bahkan dia juga tak ingin sampai menjadi seorang pemuda yang rusak.
__ADS_1
Ilalang bersandar pada sandaran sofa. Dia sangat mrnyesali semua perbuatannya pada Aurel dan juga ibunya.