
Aurel berlarian masuk ke toilet.
Ibu Clara, guru BK tak sengaja berpapasan dengannya. Wanita seumuran Karina itu hanya menggelengkan kepalanya, lantas melanjutkan langkah tanpa menaruh curiga pada Aurel.
"Lagi kebelet pipis barangkali," gumam Bu Clara seraya melanjutkan langkahnya.
Di dalam toilet, Aurel menjatuhkan wajahnya di depan cermin. Tangannya mengepal kuat dan sesekali memukul-mukul tepi wastafel di depannya.
"Jahat kamu, Lang--" raung gadis itu dengan bercucuran air mata.
Kembali ke kelas. Ilalang dan Mikha masih berdiri berhadapan. Yuda dan kawan-kawannya hanya menyimak dengan wajah bosan. Sedangkan Ali masih berdiri di antara Ilalang dan Mikha sambil memegang kemasan chiki yang sudah kosong.
"Ambil lagi bekalnya, gue nggak laper." Ilalang menyodorkan paksa kotak bekal di tangannya kembali pada Mikha. Kemudian ia memasukkan kedua tangan pada saku hoodie hitamnya. Wajahnya berubah dingin dan sinis.
"Lho, Lang?" Mikha menatap Ilalang hampir tak percaya. Pemuda itu berubah dengan drastis. Di mana senyuman hangat Ilalang yang tadi ia lihat? Pemuda itu kembali dingin dan jutek seperti biasanya.
Mikha masih bengong. Ilalang tak perduli, pemuda itu bergegas menuju bangkunya. Ali segera menyusul Ilalang dengan wajah heran dan antusias.
"Lang, elu tega bener sama si Mikha. Elo nggak bisa kayak gitu sama cewek. Kasihan 'kan si Mikha yang udah ..."
Ali tak bisa meneruskan ucapannya. Ilalang sedang menatapnya seperti wajah iblis yang lapar. Senyum garing yang kemudian Ali sematkan di bibirnya. "Oke. Santuy." Pemuda itu memalingkan wajah seraya menarik nafas panjang.
Lima menit berlalu. Ibu Clara memasuki kelas. Semua siswa dan siswi bergegas memperbaiki posisi duduk mereka dengan baik.
Clara Soraya, salah satu guru yang dikenal tegas, galak dan tak suka berbasa-basi. Ia dibuat heran melihat Mikha berada di kelas dua IPA.
"Mikha, sedang apa kamu di sini? Bukannya kelas kamu ada di gedung dua ya?" tanya Bu Clara penuh selidik dan tatapan judes.
Mikha tergagap. Tatapan Bu Clara membuatnya gugup."Hm, iya Bu. Maaf, permisi," ucapnya lantas menghambur pergi meninggalkan kelas Ilalang.
Bu Clara hanya mengangguk. Kemudian ia kembali menatap semua murid. Kursi Aurel masih kosong. Apakah gadis itu belum kembali dari toilet? Pikirnya seraya menggeleng pelan.
"Baiklah, anak-anak. Ada yang ingin Ibu sampaikan pada kalian. Ini tentang kasus bulying yang sedang marak terjadi. Seperti kasus yang sedang viral saat ini ... " Bu Clara mulai bicara sambil berdiri memegang penggaris di tangannya.
Kelas hening dari suara gaduh para murid. Hanya suara Bu Clara yang terdengar. Sampai tiba-tiba Aurel masuk dengan wajah yang murung dan sepasang mata yang sembab.
Bu Clara dibuat agak terkejut, ia segera menghadang gadis itu.
"Aurel, kamu kemana saja? Ke toilet kok lama banget. Itu kenapa mata kamu merah? Kamu habis nangis?" Introgasi Bu Clara.
"Hm, nggak kok Bu!" sanggah Aurel sambil menggeleng dan mengibaskan tangan. Dia sangat terkejut karena Bu Clara menghadang.
"Jangan bohong kamu. Ibu bisa lihat kalo kamu habis nangis. Why? Kenapa kamu nangis? Apa ada yang nge-buly kamu di sekolah ini?" Bu Clara masih mengintrogasi Aurel penuh selidik.
Ilalang memalingkan wajahnya saat Aurel menoleh. Apa yang mau gadis itu katakan pada Bu Clara? Bisa panjang urusannya kalau sampai guru BK itu mengetahui hubungan mereka. Ilalang mulai ketar-ketir dalam perasaan cemas.
__ADS_1
Yuda dan yang lainnya hanya menyimak. Namun, dia merasa ada baiknya memberi tahu Bu Clara tentang hubungan Aurel dan Ilalang.
"Bu Clara!"
Semua orang dibuat terkejut saat Yuda tiba-tiba bangkit dan membuka suara lantang.
Ilalang menyipitkan sepasang matanya pada Yuda. Hatinya mulai curiga. Sementara Aurel hanya terdiam dengan wajah merajuk. Hatinya sedang kacau. Ia tak perduli apa pun lagi.
"Yuda, ada apa?" tanya Bu Clara dengan wajah heran.
Yuda melirik ke arah Ilalang lebih dulu sebelum berkata, "Aurel sama Ilalang pacaran, Bu. Tapi mereka udah putus. Aurel nangis terus gegara si Rumput Liar itu."
'****!'
Ilalang mengepalkan buku-buku jemarinya mendengar ucapan Yuda. Sialan! Kenapa si brengsek itu sampai mengatakan semuanya pada Bu Clara? Mati dia sekarang.
"Apa?!"
Bu Clara sangat terkejut. Dia langsung menoleh pada Ilalang yang duduk di bangku tengah barisan kedua. "Ilalang, Aurel, ikut Ibu ke ruang BK sekarang!" perintahnya.
Yuda dan kawan-kawan tersenyum puas melihat Ilalang bangkit dari bangkunya. Yuda berharap pihak sekolah mengeluarkan Ilalang tapi tidak dengan Aurel.
"Kalian pacaran, apa itu benar?"
Bu Clara menatap tajam Ilalang dan Aurel secara bergantian. Mereka sedang duduk berhadapan di ruang bimbingan konseling.
"Hm, iya Bu. Tapi kita udah putus kok!" jawab Aurel dengan santai."Lagian cuma pacaran emangnya kenapa sih? Gitu aja kok repot," lanjutnya cuek, dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Wajah jengah yang dia tampilkan saat Bu Clara menatapnya.
Ilalang melirik ke arah Aurel diam-diam. Sepertinya mereka akan mendapat hukuman. Namun, kenapa Aurel tampak biasa saja? Kepalanya menggeleng dengan mimik bosan.
"Kalian pacaran di lingkungan sekolah. Ibu harus memanggil orang tua kalian." Ibu Clara mengambil berkas dari laci meja.
"Bu, kita kan udah putus. Buat apa pake panggil orang tua segala?" Ilalang mencela.
Dia tak mau kalau sampai ibunya datang ke sekolah. Bukan, bukan karena takut ibunya akan memarahinya karena surat panggilan itu. Lagi pula Karina sudah tahu kalau dia dan Aurel pacaran.
Ilalang cuma nggak mau teman-temannya melihat ibunya yang berprofesi sebagai kupu-kupu malam itu datang ke sekolah. Pasti Yuda dan kawan-kawan akan membuly Karina habis-habisan, dan dia nggak mau sampai hal itu terjadi.
Bu Clara seolah tak mendengar ucapan Ilalang. "Berikan surat panggilan ini pada orang tua kalian. Dasar. Kecil-kecil udah pacaran," ucapnya dengan wajah sinis.
Ilalang berjalan cepat meninggalkan ruang BK. Aurel yang berjalan di belakang tak henti mengumpat pemuda itu dalam hati.
"Lang, ada apa? Kok kamu dipanggil ke ruang BK?" Mikha menghampiri Ilalang di kelasnya pada jam istirahat. Gadis itu benar-benar pantang menyerah meski Ilalang selalu pasang muka sinis padanya.
"Bukan urusan lo." Ilalang bergegas bangkit dari bangkunya. Dengan wajah dingin ia melenggang pergi meninggalkan Mikha.
__ADS_1
"Ilalang!" Mikha lari mengejar pemuda itu.
Di bangkunya, Aurel memandangi dengan wajah sebal.
"Rel, elo nggak bisa diemin terus si Mikha. Gue yakin seribu persen kalo dia suka sama Ilalang. Apa lo iklas sepenuh hati kalo Ilalang, mantan lo yang ganteng itu jadian sama si Mikha? Kalo gue jadi elo sih, nggak bakal rela! Gue bakal perjuangin Ilalang sampai tetes keringat penghabisan!" Windy mulai mengompori Aurel.
"Nggak lah! Enak aja! Gue bakal balikan kok sama Ilalang. Lihat aja nanti," jawab Aurel tegas. Kemudian gadis itu bangkit dari bangkunya.
"Rel, mau kemana lo?" tanya Windy.
"Jemput masa depan!" putus Aurel, lantas berjalan cepat meninggalkan kelas.
"Yaudah moga berhasil!" Windy menyemangati sambil tersenyum.
Ilalang sedang berlatih basket di lapangan indoor sekolah. Setelah Ali membujuknya mati-matian, akhirnya Ilalang mau kembali menjadi kapten basket tim sekolahnya.
Pemuda itu terlihat cool dengan seragam basketnya. Mikha yang sedang menonton tak henti memekik saat Ilalang berhasil memasukan bola pada ring. Pemuda itu benar-benar keren! Hati Mikha dibuat semakin meleleh karenanya.
"Damage parah Ilalang! Ganteng banget!" Gaby, teman Mikha begitu mleot karena pesona Ilalang.
"Pastinya lah! Jodoh gue!" Mikha begitu percaya diri dengan senyum kagumnya pada Ilalang yang sedang membawa bola menuju ring tim Yuda.
Para penonton yang di dominasi para siswi bersorak kencang menyerukan nama Ilalang saat sang kapten basket berhasil memasukkan bola.
"Ilalang!" teriak mereka.
Dari arah pintu masuk lapangan terlihat Aurel yang sedang berjalan menuju kerumunan para siswi yang sedang bersorak sorai menyemangati Ilalang di tepi lapangan.
"Mik, itu si Aurel mau ngapain?" Gaby menyenggol lengan Mikha seraya memperhatikan gadis yang sedang menuju pada mereka.
Mikha tak menjawab. Ia hanya memperhatikan Aurel saat gadis itu melintas di depan mereka. Mau apa dia? Aurel tetap berjalan memasuki area lapangan, melewati semua gadis yang sedang menonton.
"Ilalang."
Pemuda yang sedang menggiring bola menuju ring dibuat terkejut saat seorang gadis memanggilnya dari arah belakang. Ilalang membalikan tubuh seraya menolehkan kepala ke arah sumber suara itu.
Aurel berjalan mendekat pada Ilalang. Semua orang menatap heran pada gadis itu. Ada apa ini? Kenapa Aurel memasuki lapangan? Pertanyaan itu bersarang di benak mereka tanpa menemukan jawaban.
Ilalang masih bergeming menatap Aurel saat mereka berhadapan. Gadis itu tersenyum tipis, lantas mengangkat kedua tumitnya. Ilalang dibuat terkejut, Aurel mencium bibirnya di depan semua orang?
Tak hanya Mikha dan Gaby yang dibuat tercengang, seisi lapangan nyaris tak percaya. Bisa-bisanya Aurel mencium Ilalang di depan mereka semua.
"Ilalang, aku cinta kamu."
Aurel berbisik ke wajah Ilalang usai menyudahi ciuman kilas itu. Kemudian dia melabuhkan tubuhnya ke dada Ilalang.
__ADS_1
Adegan romantis itu sontak menjadi sorotan semua mata di sana.