GEJOLAK DI USIA MUDA

GEJOLAK DI USIA MUDA
TERLIBAT TAWURAN


__ADS_3

"Ilalang, tunggu!" teriak Karina seraya  berjalan setengah berlari mengejar pelajar dengan seragam putih abu di depannya.


Ilalang tak perduli. Hatinya gondok bukan main. Dia benar-benar keki dan ingin mengamuk bakar sekolah. Bagaimana tidak? Ibunya sudah tidur dengan temannya sendiri, Dhani.


Ya, meski Dhani lebih tua darinya, anak kuliahan smester empat, tapi Ilalang tetap nggak bisa terima. Bahkan, Yuda menyimpan video ibunya bersama Dhani. Dia geram bukan main dibuatnya.


"Ilalang, tunggu Sayang!" Karina berhasil menyambar lengan kiri Ilalang dan langsung menghadang pemuda itu.


Mata Ilalang menatap murka dengan wajah merah padam menahan emosinya. Seperti itu caranya membalas tatapan Karina.


"Lang, kamu mau kemana? Kepala Sekolah belum selesai bicara. Baiknya kamu jangan buat masalah lagi. Mommy mohon ... ayo kembali ke ruang kepala sekolah, ya?" bujuk Karina dengan tatapan lembut dan wajah yang agak memelas.


Ilalang hanya memasang wajah jengah. "Lepasin, aku mau pulang."


Karina dibuat terkejut saat Ilalang menepis tangannya dari lengan pemuda itu sedikit kasar. "Kamu marah sama Mommy? Apa ada masalah lain? Bilang sama Mommy, Lang."


Ilalang hanya memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Dia benar-benar malas mesti bicara dengan Karina. Apalagi sampai membahas video menjijikan itu.


"Lang?"


Karina hanya menatap dengan heran dan penuh tanya. Ilalang tak juga mau menjawabnya. Pemuda dengan seragam putih abu itu malah melenggang pergi melewatinya dengan acuh.


Kembali ke ruang kepala sekolah. Angga menoleh ke arah Weni saat mereka duduk bersisian di depan meja kepala sekolah. Kemana Karina? Kenapa mereka lama sekali? Angga merasa risau. Dia kepikiran sama Karina dan Ilalang.


"Baik, Pak. Makasih." Weni bangkit dari bangku yang dia duduki. Wanita berpakaian berupa stelan kantor itu tersenyum tipis sambil berjabat tangan dengan Pak Rahmat.


"Sama-sama, Bu Weni." Pak Rahmat hanya mengangguk.


"Ayo Mas kita pulang."


Angga yang sedang galau dibuat terkejut saat Weni mengajak meninggalkan ruang kepala sekolah. Dia buru-buru bangkit, lantas menyusul Weni.


"Kamu kok diem aja, Mas? Apa kamu lagi mikirin L**te Online itu, ya?!" Weni yang kesal akan perubahan sikap Angga menjadi kesal. Sambil berjalan bersisian menuju area basement, dipalingkan wajah dengan riasan paripurna itu saat Angga menoleh padanya.


"Kamu kok ngomong gitu sih, Wen? Ngapain juga aku masih mikirin Karina? Perempuan itu sudah di jamah banyak laki-laki. Kamu tahu, bukan? Aku nggak pernah sudi pakai gelas bekas orang lain untuk minum," tutur Angga dengan wajah dibuat kelihatan tegas.


Weni mengangguk. "Baguslah."

__ADS_1


Mereka melanjutkan langkah menuju mobil mewah di pelataran sekolah. Weni melirik ke arah Angga. Bibirnya mencibir dengan tatapan sinis. Dia tahu jika suaminya sedang berbohong.


Di lorong terlihat Karina yang sedang berjalan seorang diri. Hatinya gelisah memikirkan Ilalang. Kemudian matanya melihat Angga yang sedang menggiring Weni masuk mobil.


Jahanam benar lelaki itu. Bahkan Angga tak pernah peduli pada Ilalang. Karina mengepalkan buku-buku jemarinya penuh emosi sambil memandangi mereka.


Angga menutup pintu mobil. Lelaki dengan stelan jas hitam itu menoleh sesaat ke sekitar. Karina masih menatapnya dari kejauhan. Angga melempar senyum tipis pada mantan istrinya itu sebelum masuk mobil.


"Jahat kamu, Mas. Kenapa kamu nggak menanyakan Ilalang sedikit pun? Kamu benar-benar tidak peduli padanya," erang Karina seraya memandangi mobil Angga melaju kencang meninggalkan area basemen sekolah.


*


Ilalang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sedang kacau saat ini. Dia enggan pulang dan tak mau bertemu dengan Karina.


Jalan Tamrin sore itu ramai sekali. Macet parah di pertigaan menuju komplek rumahnya, Karina yang sedang duduk di dalam mobil taksi menyapu pandangan ke luar.


"Pak, kok macet banget si?" gerutunya dengan gelisah. Entah kemana Ilalang pergi. Apakah anak itu sudah sampai rumah? Ia bertanya dalam hati.


"Biasalah, Bu ... kalo jam pulang kantor gini suka macet," jawab sopir taksi tanpa memalingkan pandangan dari jalan di depannya.


Karina bersandar lesu. Dipijat pertengahan dari kedua alisnya. Kepalanya tiba-tiba pusing. Dia nggak bisa tenang kalau belum melihat Ilalang.


"Oh, gitu ya Mas? Oke," ucapnya setelah mendengar penuturan Bagas pasal Ilalang yang tidak datang ke rumahnya. Karina menutup panggilan dengan hati gusar. Kemana perginya Ilalang?


Sementara itu di kios tempat bermain game biasa Yuda dan kawan-kawan nongkrong. Terlihat Dhani yang sedang menghitung penghasilan dari anak-anak yang main game di kiosnya.


"Gila! Ini sih bisa gue pake booking Tante Karina lagi, hehe!" gumam pemuda dengan t-shirt putih lengan pendek itu sambil duduk menghadap meja, di mana uang kertas berserakan di atasnya.


Dhani menyeringai tipis. Dia teringat saat menghabiskan malam bersama Karina. Meski wanita itu seumuran tantenya, tapi dia benar-benar terpuaskan dan ingin memesannya lagi dan lagi.


Dhani yang sedang melamunkan Karina tak menyadari jika dari arah pintu Ilalang datang dengan wajah geramnya.


"Brengsek lo!"


Jedak!


Bug!

__ADS_1


Bug!


Dhani yang tak sempat menghindar jatuh tersungkur saat Ilalang menghantam wajahnya dengan satu pukulan telak. Dia kaget sambil berusaha bangkit, tapi Ilalang kembali menyerang dengan tinju dan tendangan kuat.


"Sialan lo! Apa-apaan ini?!" Dhani yang belum paham kenapa Ilalang menghajarnya segera bertanya sambil menatap pemuda itu dengan wajah murka.


Ilalang menatap geram dengan nafas terengah-engah mengimbangi emosinya. "Sialan lo!" umpatnya, lantas menyambar bagian depan t-shirt Dhani dan kembali mengangkat tinjunya.


Dhani kembali terjerembam sampai menubruk satu layar LCD di sekitar. Hidungnya berdarah, wajahnya lebam. Dia berusaha bangkit. Sial! Ilalang sepertinya sangat marah, pikir Dhani. Dia tak bisa diam saja. Dia mesti melawan pemuda itu.


"Maju lo b**gsat!" Ilalang kembali maju. Namun, tiba-tiba Dhani berbalik dan langsung menyerangnya dengan sebilah pisau.


Jleb!


Ilalang membulatkan sepasang matanya. Pandangannya turun ke bagian bawah tubuhnya. Darah segar mengalir dari perut, merembes membasahi seragam putihnya yang di lapisi jaket warna jeans.


Dhani turut terkejut. Astaga, apa yang sudah dia lakukan? Dia menusuk perut Ilalang dengan pisau? Pemuda itu mundur perlahan dengan wajah ketakutan.


Ilalang menahan sakit di perutnya. Matanya jadi berkunang dan kabur. Dia tak bisa melihat dengan jelas. Tangannya turun pada pisau yang menancap di perut. Matanya terangkat ke wajah Dhani sebelum amruk ke lantai.


"Lang?" Dhani menjadi panik melihat Ilalang tergolek bersimbah darah di lantai. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Bisa gawat kalau sampai ada yang melihatnya.


"Lang, bangun! Gue nggak maksud lukain elo! Lang!" Dhani berjongkok sambil berusaha membangunkan Ilalang. Namun, pemuda itu diam saja dengan mata yang nyaris terpejam rapat.


"Lang, jangan mati di sini! Aduh gimana nih?" Dhani mulai frustasi kebingungan. Matanya menyapu pandangan mencari sesuatu. Pokonya tak boleh sampai ada yang tahu apa yang sedang terjadi.


Ilalang masih tergolek di lantai. Darah segar terus mengalir dari perutnya, di mana pisau Dhani masih menancap. Matanya melihat Dhani yang sedang menuju padanya.


Ilalang masih setengah sadar saat Dhani menyeretnya ke belakang kios. Di sana ada tanah kosong. Dhani yang ketakutan tak bisa berpikir dengan jernih. Dia menggali lubang dan berniat mengubur Ilalang di sana.


"Sorry, Lang. Gue nggak mau ketangkep polisi." Dhani meringkukan tubuh lemas Ilalang di dalam lubang sedalam dua meter yang sudah dia buat. Dipandangi wajah pucat pemuda itu sebelum dia kembali naik ke atas.


"Dhan ...," erang Ilalang nyaris tak kedengaran. Dia tak berdaya lagi saat Dhani menutupnya dengan sampah dan tanah.


Dhani bergerak cepat mengubur Ilalang. Sial! Dia lupa mengunci pintu kiosnya. Bagaimana kalau ada yang masuk dan melihat genangan darah Ilalang di sana?


Dhani bergegas melepaskan sekop yang dipegangnya. Pemuda itu berjalan cepat memasuki kiosnya. Sementara Ilalang hanya berusaha menggerakkan tangannya yang gemetaran.

__ADS_1


Dia harus keluar dari lubang itu. Kalau tidak dia bisa benar-benar mati di sini.


__ADS_2