GEJOLAK DI USIA MUDA

GEJOLAK DI USIA MUDA
OPEN BO


__ADS_3

Suasana di kantin menjadi hening seketika. Mikha masih menunggu jawaban Ilalang sembari menatap pemuda itu lekat-lekat.


Tidak mungkin gadis bernama Aurel itu pacarnya Ilalang, karena selama ini setahu dirinya Ilalang tak pernah dekat dengan seorang gadis.


Dan kalau Aurel memang pacarnya, maka ini akan sangat membuatnya sakit hati. Selama ini dia sangat berharap Ilalang mau menerima cintanya yang sudah bersemi sejak keduanya baru kelas sepuluh.


"Kamu pacar aku kan, Lang?" Aurel tiba-tiba menyela. Dia bisa melihat kalau gadis di depannya itu menyukai Ilalang. Aurel juga nggak mau kehilangan Ilalang. Makanya dia mengaku kalau dirinya adalah pacarnya Ilalang.


"Bukan, gue bukan pacar lo." Ilalang segera membalikkan tubuh meninggalkan Aurel yang tampak sangat kecewa mendengar jawabannya.


Pemuda itu melanjutkan langkahnya meninggalkan kantin. Dia tak bisa menerima Aurel sebagai pacarnya. Hidupnya sangat rumit dan dipenuhi dilema. Dia tak ingin Aurel ikut terjun ke dalam kerumitan itu.


"Ilalang!"


Tanpa perduli pada Mikha, Aurel segera berlari menyusul Ilalang. Ini memang konyol. Bahkan dia baru saja mengenal pemuda itu. Namun tak bisa dirinya pungkiri, dia sangat mencintai Ilalang.


"Lang, tunggu. Please ..." Aurel berhasil menghadang Ilalang yang sedang berjalan menuju kelasnya.


"Minggir," ucap Ilalang kembali melanjutkan langkahnya memasuki kelas. Persetan dengan Aurel yang terus memangil namanya.


"Lang, aku minta maaf. Aku mohon jangan begini sama aku," lirih Aurel setelah mereka tiba di dalam kelas.


Ali, Yuda dan semua orang di kelas tampak tak berpaling dari Ilalang dan Aurel yang sedang berdiri saling berhadapan.


"Jangan dekati gue." Ilalang segera berjalan melewati Aurel. Dia lantas duduk pada bangkunya.


What?


Aurel sangat terkejut dengan ucapan Ilalang barusan. Bagaimana mungkin dia tak boleh mendekati Ilalang lagi? Sementara hatinya sangat ingin dekat dengan pemuda itu.


"Lang, aku mohon ... Aku mau jadi teman dekat kamu. Aku minta maaf kalo kamu nggak suka sama cara aku tadi. Aku emang konyol orangnya. Maaf, ya. Please ..." Aurel berdiri di samping Ilalang. Dia melipat kedua telapak tangannya dengan wajah memohon.


"Duduk di bangku lo. Gue mau belajar," cetus Ilalang dengan wajah sinis dan dingin.


Sebenarnya dia senang Aurel mengakui dirinya adalah pacarnya. Namun itu tadi, hidupnya sangat berantakkan. Dia nggak mau Aurel sampai terlibat di dalamnya.


"Lang," lirih Aurel dengan sepasang netranya yang sudah berkaca-kaca. Tangannya meraih jemari Ilalang.


"Pergi." Ilalang segera menarik tangannya dari genggaman Aurel dengan paksa.


Astaga, sentuhan gadis itu membuat jantungnya berdebar-debar. Perasaan apa ini? Apakah ini cinta pertamanya? Ilalang segera memalingkan wajahnya dari tatapan gadis manis di hadapannya.


"Yaudah, aku duduk di sana, ya! Kamu jangan lama-lama marahnya." Aurel tersenyum tipis. Dia segera berjalan menuju bangkunya.

__ADS_1


Yuda segera bergerak menghampiri Aurel.


Dia duduk di samping gadis itu dan mulai mengajaknya ngobrol. Ini kesempatan banginya, karena ternyata Aurel bukanlah pacarnya si Rumput liar.


Ekor mata Ilalang melirik pada Aurel yang tampak bosan mendengarkan ocehan Yuda. Ia tersenyum tipis. Dia senang melihat gadis itu. Apakah benar kalau dirinya menyukai Aurel? Entahlah, dia tak bisa mengartikan perasaannya ini.


Ali tersenyum tipis melihat Ilalang yang diam-diam memerhatikan Aurel. Dia yang duduk di belakang Ilalang segera mencondongkan wajahnya pada pemuda di hadapannya itu.


"Cantik, ya?" bisik Ali jahil.


"Iya. Cantik banget," jawab Ilalang tak sadar kalau Ali sedang tertawa kecil di belakangnya. Dia pun segera mengusap wajahnya. Astaga, apa ini? Kenapa dia tak sadar menjawab pertanyaan Ali tadi?


Sepasang matanya kembali pada Aurel.


Oh tidak! Gagis itu menoleh padanya. ilalang segera berpura-pura membaca sebuah novel yang dipegangnya. Aurel tersenyum tipis melihat gelagat Ilalang. Dia tahu pasti pemuda itu juga menyukainya.


***


Malam itu pukul delapan. Seperti kesepakatannya dengan Madam Siska, Karina sedang duduk pada salah satu sofa yang berada di bar milik muncikari itu.


Dia sedang menunggu bos besar yang akan membookingnya malam ini. Hh, Ilalang pasti sudah pulang. Untunglah dia sudah menyiapkan makanan untuk putranya itu.


Karina menatap foto Ilalang pada layar ponselnya. Kapan Ilalang kembali seperti dulu lagi? Dia merindukan tingkah manja putranya itu.


Karina agak kaget mendengar suara bass seorang lelaki. Dia melihat sepasang pantofel hitam mengkilat yang sedang berdiri di hadapannya. Sepasang matanya terangkat melihat wajah lelaki itu.


Mas Armand?


Karina sangat benar-benar tak menyangka melihat mantan suaminya itu kini berdiri di hadapannya. Apa-apaan ini? Tidak mungkin Armand tidak mengenali dirinya.


"Kamu, Mas?" Karina masih sangat terkejut dan heran melihat Armand mendatangi bar Madam Siska.


"Malam, Karina. Apa kabar?" sapa Armand sembari melempar senyum manis.


"Baik, Mas."


Sesaat Karina terpesona melihat lelaki tampan yang dulu merupakan teman tidurnya itu. Namun pertanyaan yang muncul di benaknya kini; apakah Armand yang telah memesan dirinya?


"Bagaimana dengan Ilalang? Pasti dia sangat membeciku, ya." Armand berkata lagi.


"Nggak, Mas, tapi kalo kamu mau temui Ilalang sekali saja pasti dia sangat senang." Karina tersenyum tipis.


"Yaudah, ayo kita pergi sekarang." Armand meraih jemari Karina lantas mengajaknya pergi meninggalkan bar.

__ADS_1


"Mas, jadi ini beneran kamu yang ..."


"Iya, Karina. Aku kangen sama kamu. Aku juga masih sangat mencintai kamu, Rin. Aku nggak nyangka kamu jadi seperti ini. Aku minta maaf, ya? Aku nggak berdaya melawan Weni," cela Armand saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.


Karina terdiam sejenak. Sebenarnya dia patut membenci Armand. Namun sepertinya ini kesempatan untuk membalas Weni yang sudah merebut suaminya.


Ya, malam ini dia akan bercinta dengan mantan suaminya itu. Kalau Weni sampai tahu, dia pasti sangat syok nantinya. Karina tersenyum tipis.


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di hotel milik Armand. Karina berjalan keluar mobil seraya merangkul lengan Armand. Malam ini ia merasa seperti istrinya lelaki itu lagi.


Andaikan Armand mau kembali padanya, tapi sepertinya itu nggak mungkin. Apalagi kini dirinya hanya seorang kupu-kupu malam yang kotor.


"Silakan, Karina." Armand mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dia sangat senang bisa membooking Karina malam ini. Bahkan dirinya sudah membayar sebesar 50 juta untuk tubuh mantan istrinya itu.


Sial! Entah kenapa dia sangat gerah melihat foto Karina yang terpampang pada situs prostitusi online milik Madam Siska. Karina tampak sangat cantik dan seksi. Dia merasa sudah bodoh telah meninggalkan wanita itu.


"Ayo, Karina, layani aku layaknya seorang istri." Armand segera duduk di tepi ranjang bersama Karina. Dia lantas mendekatkan wajahnya pada wanita itu. Menyentuh bibirnya penuh hasrat. Oh, nikmatnya. Ini ciuman yang sangat ia ridukan.


Karina hanya berusaha memberikan kepuasan pada Armand sebagai kliennya. Meski lelaki itu pernah menjadi suaminya, tapi malam ini status Armand tetaplah lelaki hidung belang yang membookingnya.


Karina terlentang pasrah saat Armand menggumuli tubuh polosnya dengan penuh hasrat.


"Mass ...," erang Karina membuat Armand semakin buas.


"Kamu sangat nikmat, Karina. Oh!" Armand menghujam milik Karina dari arah belakang. Dia meremas kedua payudara wanita itu.


Semuanya masih sama. Meski mungkin Karina sudah dijamah oleh banyak lelaki. Tetap saja tubuh wanita itu sangat nikmat baginya.


"Mass ...," racau Karina kala Armand meledak di dalam tubuhnya. Percintaan panas itu berakhir juga. Napasnya terengah-engah sembari memejamkan mata tak menentu.


"Lagi, Mas." Karina berbisik. Dia ingin dihujam lagi oleh kejantanan Armand yang besar dan panjang.


"Lagi ya, Sayang." Armand pun mencabut miliknya. Kemudian dia mengarahkan wajahnya pada kewanitaan Karina. Dia melakukan dengan banyak ciuman.


"Ah, Mas ...," Karina melenguh sembari meremas seprai sekuatnya. Ini sangat nikmat baginya. Miliknya tak henti membanjir. Percintaan itu pun terus berlangsung sampai berjam-jam lamanya.


"Mas Armand, argh!"


"Karina, Sayang!"


Untuk kesekian kalinya Armand dan Karina sampai pada puncak kenikmatan. Keduanya merasa sangat terpuaskan. Kemudian mereka mulai tertidur saling berpelukan.


Karina sangat bahagia bisa bercinta dengan lelaki yang sangat dia cintai. Meski Armand sudah mengkhianatinya. Dia puas sudah membalas Weni.

__ADS_1


__ADS_2