
Motor Ilalang melaju menuju rumahnya. Sementara Aurel duduk membonceng di belakangnya. Ini sudah larut malam, namun Aurell tetap ingin ikut ke rumah Ilalang malam itu.
Bahkan Ilalang sudah berusaha menolaknya mati-matian sejak di sekolah tadi sore, tapi Aurel kukuh ingin ikut ke manapun Ilalang pergi.
Dasar keras kepala! Ilalang tersenyum di balik helmnya. Kedua tangan Aurel berada di perutnya. Ini untuk pertama kalinya dia membonceng seorang gadis di motornya.
"Turun," ucap Ilalang saat motornya sudah menepi di garasi.
Bukannya turun Aurel justru mendekap punggungnya dari belakang.
Jantung Ilalang berdebar-debar. Kedua bongkahan bulat gadis itu menempel di punggungnya. Terasa hangat dan sangat kenyal. Tubuh Ilalang terasa panas dingin tiba-tiba. Ah, tidak! Dia segera melepaskan tangan Aurel darinya.
"Gue bilang, turun!" kesal Ilalang.
"Ih, galak banget sih, sama pacarnya." Dengan kesal Aurel segera turun dari motor tinggi Ilalang.
Oh, sial!
Ilalang segera memalingkan wajahnya. Dia tak sengaja melihat paha putih Aurel saat gadis itu turun dari motor. Wajar saja! Karena rok sekolah Aurel lebih pendek dari roknya Mikha. Astaga, dia tak boleh punya pikiran mesum pada Aurel.
"Wah, rumah kamu gede banget!" pekik Aurell sembari memindai bangunan megah di hadapannya.
"Rumah nyokap gue," tukas Ilalang meluruskan. Dia lantas segera berjalan menuju pintu dengan acuh.
"Ilalang!" Aurel segera berlari mengejar pemuda itu.
"Tunggu di sini, gue mau mandi dulu." Ilalang segera meninggalkan Aurel di ruang tamu. Dia lantas segera menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ilalang! Ih, kok aku ditinggal sih?!" Aurel segera berjalan menyusul Ilalang.
Dua puluh menit berlalu, Ilalang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Sepasang netranya membulat kaget melihat Aurel yang sedang duduk pada sofa di ruang ganti. Astaga, apakah gadis itu sudah gila?! Ilalang segera menghampiri Aurel yang sedang asyik memainkan ponselnya.
Oh, tidak!
Ilalang segera memalingkan wajahnya kala Aurel bertumpang kaki. Paha putih gadis itu kembali meracuni pikirannya.
"Aurel, keluar dari kamarku sekarang." Ilalang berdiri di hadapan Aurel dengan wajah sinis.
Mata gadis itu terangkat perlahan.
"KYAAA!"
Aurel segera menutupi wajahnya. Dia sangat kaget melihat Ilalang yang hanya mengenakan sehelai handuk saja.
"Makanya jangan masuk kamar cowok sembarangan!" Ilalang segera menarik lengan Aurel untuk melemparnya keluar dari kamar. Namun gadis itu malah berontak. Sampai akhirnya handuk Ilalang pun melorot dari pinggang.
"KYAAA!!"
__ADS_1
Aurel segera menutupi wajahnya meski dirinya sempat melihat kejantanan Ilalang beberapa detik. Oh, sial! Ilalang segera meraih handuknya dari lantai lalu melilitkannya di pinggang erat-erat.
"Dasar gila!" umpat Ilalang geram. Ia segera memasuki kamar mandi usai meraih beberapa pakaiannya. Terpaksa dirinya harus mengenakan pakaiannya di kamar mandi, karena Aurel tak mau keluar dari walk-in closet kamar.
"Lo harus pulang sekarang," tukas Ilalang sembari duduk pada sofa di samping Aurel.
Pemuda itu sudah mengenakan t-shirt warna hitam dipadukan celana jeans panjang yang sobek di kedua lututnya.
Aurel tersenyum sembari menopang dagunya memandangi pemuda tampan di sampingnya itu. Gila! Kejantanan Ilalang ternyata gede juga, pikirnya konyol.
"Malah senyum-senyum. Ayo balik. Nanti nyokap lo nyariin!" Ilalang mulai geram karena gadis di sampingnya itu malah asik memandangi dirinya.
Sial! Aurel sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa busana. Ilalang sedikit malu.
"Orang tua aku ada di London, Lang. Aku tinggal sama om aku di sini. Lagi pula Om Bagas pasti belum pulang dari rumah sakit," ucap Aurel dengan santai, lalu bersandar pada sandaran sofa.
Dia merasa nyaman berada di samping Ilalang. Terlebih wangi parfum pemuda itu yang membuatnya berdebar-debar.
Ah, wanginya.
"Bukan urusan gue. Ayo pulang!" Ilalang menarik lengan Aurel agak kasar agar gadis itu segera bangkit dari sofa.
Namun bukannya bangkit dari sofa justru Aurel malah menariknya sampai Ilalang teejatuh dan menimpa tubuh gadis itu.
Cantik. Ilalang tak ingin berkedip menatap Aurel yang kini berada di bawahnya.
Ilalang sangat terkejut mendengar pengakuan polos Aurel. Sejujurnya dia pun menyukai gadis itu.
"Aurel," desah Ilalang. Dia pun tak bisa menolak keinginannya pada gadis di bawahnya kini. Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya pada Aurel.
Aurel memejamkan matanya. Bibir Ilalang mulai menyentuh bibirnya dengan lembut. Perlahan Ilalang menyentuh bibir Aurel dengan ciuman meski masih kaku.
Aurel memindahkan kedua tangannya pada tengkuk leher Ilalang. Dia membalas ciuman Ilalang akan bibirnya. Ilalang pun merasa sangat menyukai ciuman ini. Perlahan dia mulai memasukkan lidahnya ke mulut Aurel.
Sementara kedua tangannya mulai nakal menyentuh kedua bongkahan bulat gadis itu. Dia membuka satu per satu kancing serangam Aurel. Napasnya kian memburu dipenuhi gairah bergejolak.
"Ilalang, aah!" desah Aurel saat Ilalang memainkan kedua bongkahan bulat miliknya dengan bibir dan lidah. Ia memejamkan matanya sembari menjambak rambut hitam Ilalang. Aurel menekannya agar Ilalang semakin dalam lagi menikmati dua asetnya.
"Aurel," bisik Ilalang. Dia mulai terpengaruh dengan birahinya. Dia ingin melakukan lebih dari ini pada gadis cantik yang sudah tergolek pasrah di bawahnya kini.
"Jangan, Lang." Aurel menepis tangan Ilalang yang mulai nakal menyentuh area paling sensitif.
"Aurel, aku ..." Ilalang kembali mengusap milik Aurel di balik roknya.
"Lang ... Aahhh ...!" Aurel berdesah saat dirinya merasakan orgasme karena Ilalang menyentuh dengan bibir dan lidahnya. Inikah kenikmatan itu? Aurel sudah pasrah apa pun yang akan Ilalang lakukan padanya.
"Lang, sakit!" Aurell segera mendorong Ilalang dari tubuhnya. Tidak, pemuda itu hampir saja merenggut miliknya yang paling berharga.
Aurell segera bangkit dari sofa lalu membenahi semua pakaiannya. Dia mengusap kedua pipinya yang basah lalu meninggalkan kamar Ilalang dengan wajah merah.
__ADS_1
Oh, tidak!
Ilalang mengusap wajahnya berusaha sadar. Astaga, apa yang baru dia lakukan pada Aurel? Dia hampir saja menodai gadis itu. Aurel pasti sangat kecewa padanya. Ilalang segera memakai kembali pakaiannya. Dia berlari menyusul Aurel.
"Kamu jahat, Lang! Aku benci kamu!" Aurel menangis sembari berjalan meninggalkan rumah Ilalang. Dia sangat kecewa karena Ilalang hampir saja merenggut kesuciannya.
"Aurel!" Ilalang segera berlari mengejar Aurel yang hampir keluar dari pintu gerbang rumahnya.
Astaga, jantungnya hampir meledak. Dia merasa sangat bersalah pada gadis itu. Bodoh! Ilalang mengutuk dirinya.
"Rel, aku minta maaf. Aku benar-benar khilaf. Aku menyesal!" Ilalang meraih lengan Aurel lantas menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Kamu jahat, Lang! Aku takut!" Aurel menangis sembari memukul-mukul dada pemuda itu. Tubuhnya gemetaran, ia sangat ketakutan.
"Aku minta maaf, Rel. Aku cinta sama kamu," ucap Ilalang sembari menatap lembut pada manik cokelat gadis di hadapannya.
"Kamu jangan begitu lagi. Aku cinta sama kamu, tapi bukan berarti aku mau kasih segalanya buat kamu," lirih Aurel sembari terisak tangis.
"Aku janji akan menjaga kamu, Rel. Aku benar-benar khilaf." Ilalang kembali merangkul Aurel ke dalam pelukan.
Lampu mobil Karina menyorot Ilalang dan Aurel yang sedang berpelukan. Ilalang? Karina segera menepi. Ada apa ini? Siapa gadis itu? Karina segera keluar dari mobil.
Dia menghampiri Ilalang dan Aurel yang sudah berdiri bersisian.
"Ilalang, ada apa ini? Siapa gadis manis ini? Apa kalian pacaran?" Karina bertanya dengan antusias. Namun dia senang melihat Ilalang sudah mulai membuka hatinya untuk seorang gadis.
"Mom, ini Aurel. Dia, ya, dia pacar Ilalang," jawab Ilalang dengan salah tingkah.
"Malam, Tante." Aurel menyapa Karina sembari tersenyum tipis.
"Astaga, kamu cantik sekali, Sayang. Tapi kenapa kalian ada di sini? Apa kalian lagi ada masalah?" Karina mengusap pipi Aurel yang masih terasa lembab karena jejak air matanya.
"Kita cuma lagi ada masalah sedikit. Tapi sekarang udah baik-baik aja kok," jawab Ilalang.
Aurel hanya mengangguk kecil.
Karina lega mendengarnya.
"Sudah malam, sebaiknya kamu antar Aurel pulang, ya?" Karina berkata sembari meremas bahu Ilalang.
Pemuda itu hanya mengangguk. Kemudian Karina memberikan kuci mobilnya pada Ilalang.
"Hati-hati ya, Sayang. Terima kasih sudah mengisi hidup Ilalang. Mommy seneng banget, Aurel." Karina memeluk erat gadis belia di hadapannya itu dengan penuh cinta.
"Aku pulang ya, Tante." Aurel segera memasuki mobil di mana Ilalang sudah duduk di dalamnya.
Karina melambaikan tangan melihat mobil itu melaju. Dia menyeka titik kecil pada sudut matanya. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Sudah lama sekali ia baru melihat lagi wajah Ilalang yang bahagia seperti itu.
__ADS_1