GEJOLAK DI USIA MUDA

GEJOLAK DI USIA MUDA
PACAR ILALANG


__ADS_3

Paginya Karina sedang menata meja makan. Kemudian ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Dia segera meraih benda pipih yang tergeletak di meja.


Madam Siska? Dia segera menggeser tanda hijau pada layar ponselnya. Panggilan pun tersambung. Suara serak-serak basah Madam Siska mulai didengarnya.


["Kamu bisa, kan? Dia sudah bayar mahal lho!"] Suara Madam Siska lewat sambungan ponsel Karina.


Wanita itu mengatakan ada seorang bos besar yang ingin membookingnya malam ini. Karina terdiam berpikir. Sebenarnya dia memang sedang membutuhkan uang untuk mengganti uang Baron tempo hari. Namun dia takut Ilalang akan semakin marah padanya kalau dirinya kembali open bo.


["Karina?"]


Suara Madam Siska membuatnya agak tersentak, Karina pun segera mengambil keputusan.


"Mau, Madam. Jam berapa?


Dia terima saja. Kalau tidak, dia mesti mencari uang ke mana lagi untuk mengganti uang Baron. Lelaki itu beberapa kali menelepon minta uangnya kembali.


["Bagus. Datanglah ke bar pukul delapan malam. Dia akan menjemput kamu di sini,"] jawab Madam Siska.


"Baik, Madam." Karina menyudahi panggilan itu sambil menghela napas. Wanita itu bergegas memutar tubuh untuk menaruh ponselnya pada meja.


Namun, ia sangat terkejut saat melihat Ilalang yang sudah berdiri di belakangnya. Astaga ... apakah Ilalang sudah mendengar semuanya? Karina sangat cemas.


"Ilalang, kamu sudah siap, Sayang? Ayo sarapan dulu," ucap Karina sembari merapikan dasi sekolah Ilalang.


Dipandanginya wajah tampan putranya itu yang sedang memalingkan wajah jengah.


"Aku nggak laper." Ilalang segera menepis tangan Karina darinya.


Dengan mimik jijik, pemuda dengan seragam putih abu-abu itu segera memalingkan wajahnya dari sang ibu. Lantas ia berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Persetan dengan Karinna yang berteriak memanggil.


Pokonya dia sangat kesal pada ibunya itu. Bisa-bisanya Karina masih saja terima open bo lagi. Ilalang menghantam tangki motornya. Rasa kesalnya sungguh semakin besar saja pada Karina. Entah kapan ibunya itu akan bertaubat dan keluar dari lembah dosa.


Ilalang segera melepas kopling motornya melesat pergi. Dia tak ingin melihat Karina menangis lagi di hadapannya. Tentu saja dia tak tega melihatnya. Makanya dia putuskan untuk pergi saja.


"Lang, lo baru dateng? Gue denger ada anak baru, pindahan dari Bandung. Katanya sih cantik banget. Tuh anak-anak lagi pada ngomongin di kelas."


Ali langsung menyambut Ilalang yang baru saja tiba di parkiran motor. Sial! Padahal dia sudah bicara panjang lebar, tapi pemuda di hadapannya itu sama sekali tidak menggubrisnya.


"Yaelah, Lang. Lo nggak normal apa! Gue bilang ada cewek cakep di kelas kita!" Ali melanjutkan sembari mengikuti langkah Ilalang yang mulai berjalan menuju kelas mereka.


"Bukan urusan gue," balas Ilalang dengan wajah bosan. Pemuda itu segera meninggalkan Ali yang masih keheranan akan sikapnya.


"Bukan urusan gue. Nggak ada teks lain apa di lidahnya? Heran gue sumpah!" Ali menggelengkan kepalanya tak jabis pikir, kemudian ia menyusul Ilalang menuju kelas. Sepertinya murid baru itu sudah tiba di kelasnya. Ali pun bersemangat.


Setibanya di kelas, Ilalang langsung berjalan menuju pada bangkunya. Dia tidak tertarik dengan kerumunan yang sedang terjadi di sana.


Entah siapa yang sedang dikerumuni semua orang di kelasnya itu. Masa bodoh! Ilalang tak mau tahu. Dia segera menyibukan diri dengan aktivitas ponselnya.


"Jadi nama lo Aurel Rafasya Gutama? Ih ... bagus banget namanya. Lo asli Bandung?"


"Rambut lo wangi banget sih? Rajin perawatan, ya!"

__ADS_1


"Lo udah punya pacar belum? Di sini cuma ada satu cowok yang paling ganteng dan paling cool!"


"Itu dia! Namanya Ilalang Alvaro Fahlevi. Ganteng, kan?!"


Ilalang menolehkan kepala diam-diam pada kerumunan di sampingnya itu. Siapa sih yang sedang mereka kerumuni? Apakah anak baru yang dimaksud sama Ali tadi? Terus ngapain coba pake bawa-bawa namanya segala.


Menyebalkan!


Ilalang segera bangkit dari bangkunya. Dengan wajah kesal dia berjalan menuju pintu keluar kelas.


"Ilalang!"


Suara itu?


Aurel?


Ilalang segera memutar tubuhnya. Sepasang matanya membulat kaget melihat gadis manis yang kini berdiri di hadapannya.


Aurel?


Dia segera berpaling muka dari tatapan kagum gadis itu.


Meski hatinya sangat senang melihat Aurel ada di kelasnya, tetapi ini bukanlah hal yang bagus baginya. Aurel akan mengetahui semua tentang dirinya kalau gadis itu satu sampai kelas dengannya. Ilalang mulai berkeringat dingin.


"Ilalang, itu nama kamu, kan? Aku seneng deh, kita bisa ketemu lagi. Kamu anak kelas dua IPA juga, kan?" Aurel berdiri di hadapan Ilalang dengan wajah senang.


Gasis itu menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan lembut dan kagum. Akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan pemuda aneh yang dilihatnya di mall semalam.


Dia segera memutar tubuhnya untuk meninggalkan Aurel.


"Ilalang!" Aurel kembali mengejar.


Semua orang di kelas dibuat heran melihatnya, terutama Ali. Sial! Ternyata pesona Ilalang memang bukan kaleng-kaleng, pikirnya.


"Ilalang, tunggu. Ih ..." Aurel segera menghadang Ilalang yang sedang berjalan menuju ruang perpus.


"Apa lagi?" tanya Ilalang dengan wajah bosan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Hal itu membuatnya tampak sangat cool di mata Aurel.


"Lang, aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi," pekik Aurel dengan wajah senang.


Dia bahkan ingin memeluk Ilalang.


"Apaan sih? Tadi 'kan lo udah ngomong." Ilalang menepis tangan Aurel yang ingin memeluknya.


Sebenarnya, dia juga sangat senang bisa bertemu dengan Aurel lagi. Namun dia bukan tipe pemuda yang pandai menghadapi seorang gadis. Apalagi gadis yang agresif seperti Aurel ini.


Ali dan beberapa temannya mengintai dari balik dinding. Mereka saling pandang melihat Aurel dan Ilalang tampak sudah saling mengenal.


Bagitupun dengan Yuda dan beberapa temannya, dia sangat kesal melihat Aurel malah mendekati Ilalang. Padahal dia juga menyukai gadis manis itu.


Sial! Rumput liar itu memang mesti diberi pelajaran! Geramnya sambil memukul dinding.

__ADS_1


"Lang, kamu udah sarapan belum? Gimana kalo kita ke kantin, yuk! Aku laper," ajak Aurel dengan suaranya yang memanja. Dia bahkan merangkul lengan Ilalang seolah pemuda itu adalah pacarnya.


"Apaan sih! Lepasin!" Ilalang berusaha melepaskan tangan Aurel darinya.


Sial! Tangan gadis itu begitu erat merangkulnya. Dia kesulitan melepaskan diri. Namun ternyata enak juga dirangkul begini oleh seorang gadis. Ilalang tersenyum tipis sembari memalingkan wajahnya.


"Ayolah, Lang. Please ..." Aurel mendekatkan wajahnya pada Ilalang sembari mendesak tubuh pemuda itu merapat pada dinding.


Ilalang sangat kaget. Ini pertama kalinya ada gadis yang berlaku seperti ini padanya. Jantungnya berdebar-debar tak karuan menatap bola mata karamel Aurel. Mata yang sangat indah. Dia suka melihatnya.


"Ilalang, ayok!" rengek Aurel lagi.


"Hm, iya. Bawel!" Ilalang pun segera merapikan seragamnya tampak salah tingkah. Astaga, perasaan apa ini? Kenapa sentuhan Aurel membuatnya panas dingin tak karuan.


"Ayok!"


Aurel tersenyum manis dan segera meraih lengan Ilalang, mengajaknya berjalan bergandengan.


Ali sampai menganga melihatnya. Ilalang bergandengan sama cewek? Dia sampai mengucak-ngucak matanya nggak percaya.


"Gue yakin, si Aurel itu pasti pacarnya si Rumput liar!" tukas Robi pada Yuda setelah mereka duduk di dalam kelas.


"Ini nggak boleh dibiarin! Aurel itu gebetan gue!" Yuda segera bangkit lalu menggebrak meja di hadapannya. Dia tampak sangat murka.


Sementara itu di kantin sekolah, Aurel dan Ilalang sedang duduk berdua'an. Ilalang tersenyum tipis melihat Aurel yang sedang melahap mie goreng di hadapannya.


Untung saja ibunya memasukkan uang pada saku seragamnya. Kalau nggak, dari mana dia bisa membayar makanan yang dipesan oleh Aurel. Tak mungkin Aurel membayarnya sendiri. Mau ditaruh di mana wajahnya sebagai laki-laki.


"Kamu kok nggak makan? Aku suapin ya!" Aurel segera menyodorkan sendok pada Ilalang.


Pemuda itu hanya terdiam menatap gadis cantik di hadapannya itu. Aurel sangat ceria. Bahkan dia pun ikut ceria melihatnya.


"Ayok buka mulut kamu, Ilalang." Aurel sudah pegal memegang sendoknya. Sementara Ilalang hanya terdiam menatapnya.


"Nggak usah, lo aja. Gue nggak laper," ucap Ilalang sembari menepis tangan Aurel dengan halus.


"Kamu pasti bohong, kan? Aku tahu kalo kamu lagi bohong." Aurel tersenyum gemas sembari menatap pada Ilalang. Pemuda di hadapannya itu memang sangat kaku tapi juga sangat menawan di matanya.


"Ilalang, siapa dia?" tanya Mikha yang tiba-tiba menghampiri mereka.


Ilalang dan Aurel segera menoleh pada gadis yang sedang berdiri di samping mereka itu. Mikha tidak sendiri, dia datang bersama dua temannya yang lain.


Wajah gadis itu tampak kesal menatap pada Aurel. Siapa gadis ini? Kenapa dia bisa duduk bersama Ilalang? Tanyanya dalam hati.


"Kenalin, aku Aurel. Aku pacarnya Ilalang," tukas Aurell sembari berdiri, dia lantas menyodorkan tangannya pada Mikha dengan wajah anggun.


Pacar? Ilalang sangat kaget mendengarnya. Dia pun segera bangkit. Astaga, apa-apaan ini? Aurel main ngaku-ngaku pacarnya saja.


"Apa itu bener, Lang?" tanya Mikha dengan sepasang mata yang sudah berkaca-kaca.


Dia sangat sedih dan berharap Ilalang akan menyangkal ucapan Aurel.

__ADS_1


__ADS_2