
Ilalang segera bangkit dari tubuh gadis yang ditimpanya. Sial! Ritsleting hoodie-nya malah tersangkut pada rambut panjang gadis itu.
Si gadis pun mengerang kesakitan dan memintanya untuk tidak menarik rambutnya.
"Sakit tahu, ih!" pekik gadis itu saat Ilalang mencoba melepaskan rambutnya yang tersangkut pada ritsleting hoodie-nya.
"Lagian lo ngapain juga tolongin gue segala? Sok heroik lo!" Ilalang berkata dengan wajah kesal, dengan angannya masih berusaha melepaskan rambut gadis itu dari ritsleting hoodie-nya.
Jarak keduanya sangat dekat. Bahkan kepala si gadis berada di dadanya. Keduanya duduk di lantai yang agak kotor.
"Kamu kok nggak ada terima kasihnya sih? Aku udah tolongin kamu lho!" kelakar gadis itu lalu mengerang saat Ilalang menarik rambutnya agak kasar, "pelan-pelan ih! Sakit, tahu!" pekiknya dengan wajah kesal pada pemuda tampan di sampingnya itu.
"Diem makanya! Susah, tahu!" geram Ilalang yang masih berusaha melepaskan rambut gadis itu yang sudah kusut dengan ritsleting hoodie-nya.
Hh, apa-apaan ini? Niatnya untuk bunuh diri jadi gagal lantaran gadis nggak jelas ini, pikirnya sebal.
"Kamu ngapain mau bunuh diri? Putus cinta, ya!" Si gadis tersenyum jahil sembari menunjuk wajah Ilalang setelah rambutnya terlepas dari ritsleting hoodie pemuda itu.
Setelah diperhatikan pemuda di sampingnya itu sangat tampan. Dia merasa langsung menyukainya.
"Bukan urusan lo." Ilalang segera bangkit dan berjalan meninggalkan gadis itu dengan memasang wajah acuh.
Putus cinta? Punya pacar juga nggak! Namun masalahnya lebih berat daripada putus cinta, meski ia belum pernah merasakannya.
"Hei! Nama aku Aurel Rafasya, kamu siapa?!" gadis itu berteriak sambil berdiri setelah Ilalang menjauh darinya.
Ilalang hanya tersenyum tipis. Aurel? Nama yang bagus, gumannya dalam hati. Namun dia merasa tak ingin memberitahu namanya pada Aurel. Lagi pula, belum tentu dia akan bertemu dengan gadis itu lagi, pikirnya.
"Hei! Kamu budek, ya!" Aurel masih berseru.
Ilalang hanya menggeleng tak perduli. Pemuda dengan hoodie hitam lengan panjang itu malah semakin mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu.
Namun saat dirinya tiba di depan pintu untuk turun ke bawah tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ilalang memutar menolehkan kepala ke arah gadis itu. Aurel masih berdiri di sana sambil memandangi.
"Lo mau nginep di sini?!" teriaknya pada Aurel. Sesaat kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
"Kamu ..."
Aurel tersenyum senang mendengar suara Ilalang. Dia pun segera berlari untuk menyusulnya. Namun Ilalang sudah hilang entah ke mana. Aurel sempat mencarinya di sekitar mall, tapi pemuda dengan hoodie hitam itu tak nampak di mana pun.
Dia sangat kecewa.
***
Sementara itu, Karina tampak sedang berjalan menyusuri komplek di mana ia tinggal.
Wanita itu baru saja pulang dari mini market guna membeli beberapa kebutuhan bulanan.
Ada banyak yang Karina beli, di antaranya beberapa mie instan kesukaan Ilalang.
Hh, dimana putranya itu sekarang?
__ADS_1
Karina sangat mencemaskan Ilalang.
Bahkan putranya itu belum makan dari semalam. Ilalang pasti kelaparan, pikirnya dengan perasaan sedih.
"Dari mana, Mbak?!"
Karina dibuat terkejut saat mendengar seorang lelaki menyapanya. Di segera menoleh ke samping kiri.
Lelaki itu lagi?
Karina membulatkan matanya melihat lelaki yang tadi pagi menanyakan rumah Pak RT padanya. Lelaki itu sedang berjalan di sisinya. Dia bahkan tersenyum padanya. Senyumnya manis sekali dengan kedua lesung pipi dan giginya yang gingsul.
"Kamu lagi, Mas. Aku baru habis dari mini market," jawab Karina sekenanya. Dia agak risih karena lelaki itu mengikutinya.
"Oh ... boleh saya antar pulang, Mbak?
Oh iya, kita belum saling kenal. Aku Bagas, nama kamu siapa?"
Lelaki dengan postur tinggi kekar itu menghentikan langkah menghadang Karina. Dia lantas menyodorkan tangannya pada wanita di hadapannya itu.
Karina sedikit ragu. Lelaki di hadapannya itu lebih muda darinya. Dia merasa sedikit malu atas perlakuan Bagas padanya.
"Kok malah bengong? Kamu nggak punya nama, ya?" Bagas tersenyum tipis menggoda Karina.
Wanita di depannya itu memang lebih tua darinya. Namun Karina tampak sangat memesona di mata Bagas. Bahkan sedari tadi siang dia memandangi rumah Karina dari rumahnya yang hanya berselang beberapa rumah saja.
"Aku Karina, Mas. Kamu tinggal di sini juga?" ucap Karina. Dia menerima tangan Bagas dengan agak gugup.
"Karina. Nama yang cantik, secantik orangnya," balas Bagas lalu tersenyum tipis.
"Hm, rumah aku di sana. Kita bertetangga, ya! Aku datang dari Bandung. Mulai besok aku bekerja di Rumah Sakit Permata."
Bagas melanjutkan.
"Jadi, kamu seorang dokter rupanya," tukas Karina kagum.
Bagas menganguk disertai senyuman manis. Mereka pun melanjutkan langkah menuju rumah Karina. Bagas membawakan semua belanjaan Karina. Keduanya terlihat asyik mengobrol sampai tiba di depan pintu gerbang rumah Karina.
"Makasih, ya?" Karina meraih belanjaannya dari tangan Bagas. Dia hendak segera memasuki rumah.
"Karina, apa aku nggak boleh mampir?" ujar Bagas setelah hening sesaat. Dia berharap Karina mengajaknya masuk meski hanya sebentar. Namun wanita itu malah memasuki gerbang rumahnya dan tak menoleh padanya lagi.
"Mau ngapain? Nanti istrinya nyariin lho, Pak Dokter." Karina tersenyum jahil.
"Istri yang mana? Pacar aja nggak punya boro-boro istri," balas Bagas sembari tersenyum tipis.
"Bolehlah aku mampir sebentar. Kamu juga belum punya suami, kan?" lanjut lelaki itu lagi dengan agak memaksa.
"Dulu sih punya, tapi sekarang udah nggak," jawab Karina dengan senyuman canggung.
Bagas agak tak enak hati atas ucapannya tadi. Dia pun memberanikan diri memasuki pintu gerbang rumah Karina.
__ADS_1
"Maaf, ya. Suami kamu sudah meninggal, ya?" ucapnya setelah berdiri di hadapan Karina.
"Dia masih hidup, tapi sudah mati bagiku. Ah, sudahlah. Aku malas membahasnya," jawab Karina, dia pun segera melanjutkan langkahnya menuju pintu.
Bagas menghembuskan napasnya dengan kasar. Astaga, kenapa dia membuat Karina menjadi sedih?
Persetan suami Karina berada di mana, masih hidup atau sudah mati, itu bukan urusannya juga, yang penting wanita itu berstatus singgle. Dia pun segera menyusul Karina.
"Maafin aku ya, Rin. Aku jadi kepo trus banyak tanya sama kamu," ucap Bagas setelah keduanya duduk pada sofa di ruang tamu.
Rumah Karina tampak sangat bersih dan harum. Namun di dalam rumah sebesar itu dia tak melihat satu pun seorang asisten rumah tangga. Apakah Karina tinggal sendiri di sini? Pikirnya.
"Tak apa, Mas. Silakan diminum teh-nya." Karina hanya tersenyum tipis.
Lelaki di sampingnya itu masih muda, gagah dan seorang dokter spesialis jantung. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya Bagas nanti, pikirnya mulai melantur.
"Makasih, Rin." Bagas menyesap pada cangkir teh-nya perlahan. Manis, seperti senyuman Karina, pikirnya lantas mengangkat sepasang matanya ke wajah ayu di hadapan.
"Rin, kamu tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Bagas setelah menaruh kembali cangkir teh-nya pada meja. Dia lantas menolehkan kepala pada Karina yang duduk di sebelah kirinya.
"Aku tinggal bersama putraku, Mas. Dia baru berusia delapan belas tahun," jawab Karina apa adanya.
Bagas manggut-manggut. "Oh ... sekarang di mana putra kamu itu, Rin? Aku ingin bertemu dengannya," tanyanya kemudian.
Dia merasa menyukai Karina. Bagas merasa senang mendengar wanita itu sudah memiliki seorang putra. Mungkin dia bisa dekat dengan putranya Karina, pikirnya.
"Dia belum pulang, Mas." Karina tampak murung. Entah di mana Ilalang saat ini.
"Oh. Mungkin dia sedang berada di rumah temannya, Rin. Anak remaja memang nggak pernah betah di rumah." Bagas segera menepis kecemasan Karina.
BRAAK!
Suara pintu yang ditendang dengan kasar. Bagas hampir tersedak teh yang sedang diminumnya. Sepasang matanyamelihat sosok remaja dengan seragam SMA yang baru memasuki rumah.
Apakah itu putranya Karina? Tanyanya dalam hati sembari memperhatikan Ilalang yang juga sempat menoleh padanya dengan wajah sinis.
"Ilalang ... Sayang!" Karina bergegas bangkit dari sofa dan langsung mengejar Ilalang yang sedang berjalan menuju kamarnya.
Bagas juga ikut berdiri. Namun, dia tak berani mengejar Karina. Ada apa ini? Dia merasa tak enak hati.
"Ilalang, kamu dari mana saja? Mommy mencemaskan kamu, Sayang." Karina berdiri di samping Ilalang yang sedang melepaskan sepatunya sambil duduk pada sofa di kamarnya.
"Mencemaskan aku? Hh, bukannya Mommy lagi bermesraan sama tuh cowok hidung belang?!" Ilalang berkata tanpa mau menoleh pada ibunya. Benar dugaannya, ibunya itu sedang asyik pacaran di ruang tamu tadi.
Dasar ...
Ilalang memejamkan mata sambil memalingkan wajah menahan emosi yang sedang bergemuruh di dada.
"Siapa yang pacaran, Lang? Tadi itu Om Bagas, dia tetangga baru kita," sanggah Karina mencoba meluruskan sangkaan buruk Ilalang pada dirinya.
"Bukan urusanku." Dengan wajah jengah, Ilalang segera bangkit lantas berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Dia tampak sangat kecewa pada Karina. Memangnya dia bodoh apa! Sudah jelas dia melihat ibunya sedang berdua'an dengan lelaki tadi.
Sialan! Ilalang menghantam dinding kaca kamar mandi dengan tinjunya yang didasari emosi besar. Sampai kapan ibunya terus seperti ini? Dia sungguh tak kuat lagi.