GEJOLAK DI USIA MUDA

GEJOLAK DI USIA MUDA
DIPANGGIL KE RUANG BK


__ADS_3

Bu Clara menatap tajam pada Aurel dan Ilalang secara bergantian. Dua siswa ini melakukan hal tidak senonoh di lingkungan sekolah. Aurel mencium Ilalang di lapangan indoor basket. Bagaimana citra sekolah mereka jika sampai masalah ini mencuat ke luar.


Ilalang dan Aurel duduk bersisian di depan meja Bu Clara. Mereka berdua di panggil ke ruangan BK setelah adegan kissingnya di lapangan basket lima belas menit yang lalu.


Hm, apa yang bakal Bu Clara lakukan pada mereka ya? Sepertinya Ilalang dan Aurel sedang dalam masalah besar saat ini. Kurang lebih seperti itu pertanyaan yang muncul di kepala para siswa yang sedang mengintip dari jendela ruangan BK.


"Kalian sudah melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan di lingkungan sekolah. Apa kalian sadar dengan perbuatan kalian itu? Bagaimana jika pihak yayasan mengetahui hal ini? Kalian berdua bisa saja di keluarkan," tegas Bu Clara dengan menyipitkan sepasang matanya menatap dua siswa di hadapannya.


"Tahu kok! Yaudah kalo mau dikeluarin ya keluarin aja. Aku nggak perduli," sambut Aurel dengan cuek. Wajahnya dipalingkan pada jendela di mana Windy dan siswa lainnya sedang menyimak. Aurel melontarkan senyum manis pada mereka.


Bu Clara geleng-geleng melihatnya."Kamu baru saja dua hari di sekolah ini, tapi sudah membawa pengaruh buruk untuk siswa lain. Pihak sekolah pasti akan mengambil tindakkan. Ya, saya tahu kalo ayah kamu bukan orang sembarangan, tapi kami pun punya peraturan yang nggak bisa kamu langgar sesukanya," cetusnya dengan wajah jengah pada Aurel.


Aurel menatap Bu Clara dengan wajah bosan. "Yaudah sih, tinggal hubungi Papa aja. Aku bisa pindah sekolah ke tempat lain yang jauh lebih elit dari sekolah ini."


Ilalang menoleh langsung pada Aurel. Dia nggak habis pikir, Aurel berani banget ngomong seperti itu pada Bu Clara.


Kalau dia benar-benar dikeluarkan dari sekolah bagaimana? Ilalang nggak mau jauh-jauh dari Aurel lagi. Kissing barusan benar-benar membuatnya gila dan tak mau kehilangan Aurel.


"Oke. Kalo itu mau kamu." Bu Clara mengangguk dengan tatapan geram pada Aurel.


Gadis itu hanya memalingkan wajahnya dengan senyum jengah.


"Bagaimana dengan kamu, Ilalang? Apa kamu juga mau dikeluarkan dari sekolah ini?" Kali ini Bu Clara bertanya pada siswa berseragam basket merah di hadapannya. "Kamu jangan lupa kalo sekarang ayah kamu bukan lagi donatur di yayasan ini. Pihak sekolah bisa keluarkan kamu kapan saja," lanjutnya disertai senyuman remeh.


Ilalang tergagap. "Hm, itu ... Aku masih mau sekolah di sini, Bu!"


"Bagus!" Bu Clara tersenyum puas.


Aurel menoleh tegas pada Ilalang. Pemuda itu hanya memberinya wajah lesu.


"Kenapa sih kamu itu kok takut banget sama Bu Clara? Lagian ngapain juga masih mau sekolah di sini? Kita bisa pindah sekolah ke tempat lain, kan?"


Aurel bicara pada Ilalang setelah mereka meninggalkan ruang BK. Dia kelihatan kecewa pada Ilalang. Juga keputusan pemuda itu yang masih mau terus bersekolah di SMA Tunas Bakti ini.


"Rel, aku beda sama kamu. Aku nggak bisa pindah sekolah dengan mudah. Aku juga sebenarnya nggak mau kamu pindah sekolah," jawab Ilalang dengan wajah tenang.


Aurel menghela napas panjang. "Terus kamu masih mau sekolah di sini gitu? Terus kita mesti LDR-an gitu? Kamu kok jadi cowok cemen banget sih?" ucapnya kecewa.

__ADS_1


Ilalang tersenyum tipis mendengar ucapan Aurel. Kemudian dia menyambar lengan gadis itu dan menariknya memasuki perpustakaan yang nyaris mereka lewati.


"Ilalang--" Aurel dibuat terkejut saat pemuda itu menariknya masuk ke ruang perpustakaan yang sepi, karena semua siswa sedang berada di kelas mereka masing-masing.


"Rel, aku cinta kamu." Ilalang mendesak Aurel sampai punggung gadis itu merapat pada dinding di belakang pintu. Bibirnya mengulas senyum kagum melihat Aurel menatapnya.


"Apaan sih?" Gadis itu tersenyum dengan pipi bersemu merah, Aurel memalingkan wajahnya dari tatapan Ilalang.


Melihat Aurel seperti itu, Ilalang menjadi gemas. Pemuda itu mendekatkan wajahnya perlahan. "Kiss me," bisiknya.


"Hah?" Aurel mengangah mendengarnya. Namun, Ilalang tak memberinya kesempatan lagi. Pemuda itu segera melabuhkan ciuman di bibirnya. Ya, di bibirnya yang basah.


"Kamu berani banget cium aku di depan banyak orang. Sekarang kamu malah mau dikeluarin dari sekolah. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu, gimana dong?"


Ilalang bicara pada Aurel usai menyudahi ciumannya. Dipandangi wajah gadis itu lekat-lekat. Ia semakin sayang pada Aurel.


"Kamu nggak usah pikirin itu, Papa aku yang akan mengurus semuanya. Yang perlu kamu pikirkan itu ya cuma aku. Apa kita beneran udah balikan sekarang?" Aurel membalas tatapan Ilalang dengan lembut.


Senyum terbit di wajah tampan itu."Kamu nanya?" ucap Ilalang yang sontak membuat Aurel terkekeh dibuatnya.


*


"Mas Bagas?" Karina menyipitkan sepasang matanya.


"Rin, aku boleh mampir?" Bagas tergopoh-gopoh menghampiri Karina.


"Hm, boleh sih. Emang kamu abis ngapain, Mas? Kok kayak yang habis dikejar anjing gila gitu, keringatan banget!" Karina menatap heran pada lelaki di hadapannya.


"Aku abis joging, Rin." Bagas tersenyum, menunjukkan dua lesung pipinya.


Karina manggut-manggut. "Oh. Yaudah ayo masuk, nanti aku buatin minum ya!"


"Makasih, Rin." Bagas begitu bersemangat. Dia bergegas mengekor Karina memasuki rumah besar itu. Matanya salah fokus pada pinggul janda anak satu itu yang menggodanya.


"Duduk Mas. Aku mau ke dapur dulu," ucap Karina pada Bagas saat mereka tiba di ruang tamu.


"Makasih, Rin." Bagas tak juga mau memadamkan senyum yang terukir di wajahnya. Sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan, dia mendaratkan bokongnya pada sofa empuk di sana.

__ADS_1


"Silakan minumnya, Mas Bagas." Karina meletakkan satu gelas jus di atas meja untuk Bagas. Kemudian ia duduk pada sofa kosong di samping lelaki itu. Bibirnya mengulas senyum kagum memandangi Bagas yang sedang menyesap jus buatannya dengan lahap.


"Seger jus-nya Mas?" tanya Karina kemudian.


"Seger, Rin. Kayak senyum kamu." Bagas terkekeh.


"Bisa aja kamu, Mas." Karina tersipu.


"Rin, aku mau ngomong serius sama kamu. Ini tentang Ilalang dan keponakanku, Aurel. Apa kamu udah tahu kalo mereka pacaran?" Bagas bicara setelah hening sejenak. Kali ini dia menatap Karina lekat-lekat.


Karina sedikit terkejut. "Oh, jadi Aurel itu keponakan kamu, Mas? Wah, aku seneng dengernya."


"Iya, Rin. Aurel keponakan aku. Papanya yang sudah titipkan Aurel padaku selama ini," jawab Bagas dengan wajah tenang.


Karina mengernyitkan dahi. "Dititipkan? Memanganya orang tua Aurel di mana, Mas?" tanyanya dengan antusias.


Bagas tak buru-buru menjawab pertanyaan Karina. Hening sejenak. Lelaki itu tampak sedang berpikir. Sementara Karina kelihatan heran dan tak sabar ingin mendengar jawaban Bagas.


"Rin, ini rahasia ya? Aku cerita sama kamu karena percaya padamu," ucap Bagas kemudian.


"Rahasia?" Karina bertanya dengan kedua alis yang nyaris menyatu.


Bagas mengangguk. "Sebenarnya, Mas Gutama, kakaku itu belum menikah sampai sekarang. Aurel adalah anak yang dia adopsi dari rumah sakit tujuh belas tahun yang lalu," ucapnya kemudian.


"Apa?" Karina membungkam mulutnya kaget.


Bagas meneruskan. "Aurel belum tahu kalo Mas Gutama bukan ayah kandungnya."


"Kasihan Aurel, Mas. Siapa orang tuanya sebenarnya. Kenapa mereka tega melepaskan putrinya pada orang lain?" Karina yang mudah terbawa perasaan menjadi sedih mendengar cerita Bagas.


"Entahlah, Rin. Aku cuma tahu kalo Mas Gutama mendapatkan Aurel dari Rumah Sakit Permata, tempat di mana aku bertugas sekarang," jawab Bagas.


"Rumah Sakit Permata?" tanya Karina dengan mimik terkejut.


Bagas mengangguk. "Iya."


Karina terdiam dengan perasaan tak karuan. Entah kenapa hatinya merasa bergetar setelah mendengar nama Rumah Sakit Permata disebutkan. Apa karena ia pun melahirkan Ilalang di rumah sakit itu?

__ADS_1


Tidak, tak ada yang aneh dengan itu. Namun, kenapa ia merasa perasaannya seperti sedang diaduk-aduk. Rumah Sakit Permata, siapa Aurel sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ia menjadi sedih dan ingin memeluk putri malang itu?


__ADS_2