
Ilalang baru saja memasuki kelas. Yuda dan kawan-kawan menatap sinis pada pemuda itu. Hingga saat Ilalang duduk di bangkunya, Yuda bergegas menghampiri dengan gaya sok preman.
"Enak ya yang abis di ***** sama Aurel," sindir Yuda sambil berdiri di depan meja Ilalang. Senyum sinis ia lontarkan saat mata Ilalang terangkat ke wajahnya.
"Hajar aja, Bos!" celetuk Aldo mengompori Yuda.
"Iya, Bos. Bogem aja!" timpal Aska yang juga berdiri di belakang Yuda.
Mereka turut geram pada Ilalang yang sudah mendapatkan gadis paling cantik di sekolah mereka, Aurel.
Yuda yang terpancing segera menyambar kerah seragam Ilalang. "Beraninya lo ciuman sama Aurel, gue tonjok lo!" geramnya sambil mengangkat satu tinjunya tepat ke wajah Ilalang.
"Apaan sih?" Ilalang dengan wajah tenang segera bangkit dan langsung menepis tangan Yuda dari kerah seragamnya. Lantas mendorong pemuda itu dengan kasar.
Yuda terpelanting nyaris jatuh. Beruntung Aldo dan Aska membantunya berdiri. Kini pemuda itu sedang menatap penuh emosi pada Ilalang.
"Dasar anak pelacur! Nggak punya moral!" umpat Yuda.
"Sial!" Ilalang yang geram karena ocehan Yuda segera menyambar kerah seragam pemuda itu. Dia sudah bersiap mau menghajar Yuda.
"Apa lo hah?!" Yuda menantang dengan ekpresi jumawa.
"Hajar aja, Bos!" cela Aldo yang kemudian disambut dengan teriakan siswa lain.
"ILang! Ilalang!"
"Yuda! Yuda!"
Seisi kelas menjadi ricuh. Aurel dan Windy yang baru tiba dibuat terkejut melihat Ilalang dan Yuda sedang berkelahi. Mereka saling pandang sesaat sebelum berlari menghampiri mereka.
"Ilalang, Yuda, udah! Kalian apa-apaan sih?!" Aurel bergegas melerai perkelahian Ilalang dan Yuda.
"Dasar Rumput Liar! Awas lo!" Yuda mundur sambil mengacungkan jari tengahnya pada Ilalang. Dia segera kembali ke bangkunya diikuti Aldo dan Aska.
Ilalang hanya menatap Yuda dengan wajah geram. Hingga kemudian Aurel membimbing dia menuju bangkunya. Mereka duduk bersisian. Aurel menatap dalam pada Ilalang seraya mengusap sudut bibir pemuda itu yang memar.
"Kamu ngapain sih pake ribut segala? Lihat tuh bibir kamu sobek, tahu!" Aurel mengobati luka Ilalang dengan obat merah.
Ilalang tak menjawab. Mood-nya langsung buruk setelah mendengar kata "anak pelacur" yang Yuda lontarkan padanya.
"Lang! Astaga, lu ribut lagi sama si Yuda?!" Ali datang dengan wajah antusias dan kaget. "Sorry tadi gue dari ruang Osis," lanjutnya.
"Ck!" Ilalang menepis tangan Aurel yang sedang mengobati luka di bibirnya. Pemuda itu lantas bangkit dan berlalu meninggalkan kelas. Tatapan dingin ia lontarkan pada Yuda dan kawan-kawan saat melintas.
"Apa lo?!" Yuda menantang dengan wajah geram.
Aurel hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. Sementara Ali hanya menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Ilalang pasti sedang tidak baik-baik saja, pikir Aurel seraya memandangi punggung pemuda itu yang nyaris menghilang dari pintu kelas.
__ADS_1
*
Karina dan Bagas masih duduk di ruang tamu. Suasana menjadi melow setelah Karina mendengar cerita Bagas tentang Aurel.
"Aku pamit, ya! Tolong kamu sampaikan salamku untuk Ilalang." Bagas tersenyum pada Karina saat wanita itu mengantarnya sampai teras rumah.
"Iya, Mas." Karina membalas senyum Bagas. Ia segera menutup pintu gerbang rumah setelah lelaki itu pergi.
Aurel, pikirannya kembali pada dara manis itu. Kasihan Aurel, kenapa orang tuanya tega melepaskan anak secantik itu pada orang lain?
Ah, mungkin orang tua Aurel sudah meninggal atau mereka tidak mampu mengurus buah hatinya. Karina berusaha berpikir positif.
Kembali ke sekolah. Jam pelajaran nyaris habis. Ekor mata Aurel melirik ke arah Ilalang yang duduk di seberang. Pemuda itu masih sama seperti tadi, diam saja.
Hingga jam pelajaran benar-benar selesai, Ilalang tak mengatakan apa pun padanya. Aurel yang cemas segera menyusul pemuda itu menuju area parkir.
Terlihat Ilalang yang sedang berdiri di samping motornya. Helm hitam masih dalam genggaman. Mata Aurel menyipit. Apa yang sedang Ilalang pikirkan? Gadis itu bergegas mempercepat langkah.
"Lang, kita pulang bareng, kan?" tanya Aurel setelah berdiri di belakang Ilalang.
Tubuh tinggi dibalut dengan hoodie hitam dan celana abu-abu itu memutar. Senyuman manis Aurel menyambutnya.
Ilalang memalingkan wajahnya. Kemudian menatap dengan acuh kepada Aurel. "Kamu bisa balik bareng Yuda," ucapnya dengan wajah dingin.
Senyuman di wajah Aurel memudar seketika. Baru saja dia mau bicara, tapi Ilalang sudah bergegas menaiki motornya dan berlalu.
Dihela nafas panjang oleh Aurel. Meski kesal dengan sikap Ilalang yang cenderung berubah-ubah itu, ia tetap berusaha mengerti.
Aurel memutar tubuhnya ke arah sumber suara itu. Yuda melempar senyum manis untuknya seraya memainkan kedua alis tebalnya.
Aurel memutar bola matanya, jengah. Tanpa mengatakan apa pun, gadis itu bergegas meninggalkan area parkir.
Yuda melongo melihatnya."Aurel!" raungnya tak ada yang perduli.
"Kenapa minta dijemput? Kamu sama Ilalang masih marahan, ya?" Bagas bertanya pada Aurel saat mereka duduk bersisian di dalam mobil. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat gadis belia di sampingnya berwajah murung.
"Fokus nyetir aja kenapa sih?" celetuk Aurel dengan wajah sebal
Bagas terkekeh. "Baik, Nona Muda," ucapnya lalu memainkan kemudi mobil dengan pandangan fokus ke depan.
Di rumah Karina, Ilalang baru saja tiba. Pemuda itu bergegas menepikan motornya di garasi, lantas berjalan cepat menuju pintu.
"Ilalang, kamu udah pulang?"
Karina yang sedang menyiram bunga di samping rumah dibuat berbinar melihat putranya sudah pulang sekolah. Dilempar selang air di tangannya, ia bergegas menyusul Ilalang.
"Lho, kamu mau ke mana? Kenapa buru-buru ganti baju gitu? Baiknya kamu makan dulu." Karina dibuat terkejut melihat Ilalang sedang bersiap-siap di depan cermin.
__ADS_1
"Aku nggak laper," jawab Ilalang tanpa mau menoleh pada Karina yang sedang menatapnya.
"Tapi kamu belum makan dari pagi, Lang. Gimana kalo masuk angin nanti? Makan dulu yuk! Mommy udah masakin makanan kesukaan kamu lho!" Karina berusaha membujuk Ilalang. Bibirnya mengulas senyum penuh kasih saat mata pemuda itu menatapnya.
"Aku bilang aku nggak laper!" Ilalang menepis tangan Karina dari bahunya. Dengan wajah jengah ia bergegas pergi meninggalkan kamar.
"Ilalang!" Karina bergegas menyusul.
Pemuda dengan kaus putih dipadukan celana jeans hitam yang terkoyak di kedua lututnya mempercepat langkah menuju motornya. Persetan dengan Karina terus memanggilnya, Ilalang bergegas meninggalkan rumah.
Tuas kopling motor dilepas, Ilalang melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi. Entah ke mana dia harus pergi. Pikirannya sedang sangat kacau saat ini.
Bagaimana jika ke rumah Aurel saja?
Ya, dia sudah mengacuhkan gadis itu di sekolah tadi. Dia harus meminta maaf pada Aurel sebelum hubungan mereka kembali buruk.
Aurel sedang duduk di tepi ranjang. Ponsel pintar dalam genggaman. Gadis itu tampak kebingungan antara menghubungi Ilalang atau tidak. Ternyata sulit juga mengimbangi sikap Ilalang, pikirnya.
["Rel, aku di depan rumah kamu."]
"Hah?"
Bagai menemukan berlian dalam lumpur. Aurel sangat terkejut sekaligus senang saat sebuah notif muncul pada layar ponselnya.
Dengan wajah sumbringah, gadis itu bergegas bangkit. Dirapikan penampilannya lebih dulu di depan standing miror sebelum melesat meninggalkan kamar untuk menemui Ilalang.
Senyum terukir di wajah ayu dara berusia tujuh belas tahun itu. Aurel bergegas berlari menuju punggung Ilalang yang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Ilalang--"
Pemuda dengan t-shirt putih berlengan pendek itu dibuat terkejut saat tiba-tiba seseorang mendekap tubuhnya dari belakang. Dua bongkahan hangat menyentuh punggungnya. Aurel, senyum manis terukir di wajahnya yang dingin.
"Kenapa kamu nggak bilang mau ke rumah? Mungkin aku bisa siap-siap dulu. Aku seneng banget lihat kamu datang." Aurel tak henti bicara saat duduk bersisian dengan Ilalang di ruang tamu.
Ilalang hanya tersenyum mendengar celoteh Aurel. Mood yang sebelumnya sangat buruk kini mulai membaik. Hanya Aurel yang bisa mengobati segala kegalauan di hatinya. Itu benar.
"Harusnya kamu itu nggak kepancing sama si Yuda." Aurel mengakhiri ucapannya. "Hadeh, aku jadi aus kan?" ucapnya lagi.
Ilalang hanya tersenyum melihatnya. "Makanya jangan banyak ngomong. Dasar bawel," godanya seraya mengacak-acak pucuk kepala Aurel dengan ekpresi gemas.
"Huh, apaan sih? Jadi berantakkan rambut aku 'kan?" Aurel memasang wajah kesal sambil menepis tangan Ilalang darinya. Hal itu membuat Ilalang terkekeh geli.
"Yaudah, aku mau ambil minum dulu ya! Kamu mau minum apa biar sekalian aku ambilin," tukas Aurel pada Ilalang seraya bangkit dari sofa.
Pemuda itu menatap Aurel sambil tersenyum tipis. Kemudian dia meraih lengan gadis itu sampai Aurel jatuh ke pangkuannya. Ilalang mengunci pandangan Aurel. Gadis itu menatapnya heran.
"Aku cuma mau kamu di sini," bisik Ilalang.
__ADS_1
"Hah?" Aurel masih menatap dengan heran.
Ilalang hanya menunjukkan seringai tipis. Tangannya turun ke pinggang kecil Aurel. Dia menekannya sampai gadis itu merapat ke dadanya. Aurel hanya menurut dengan jantung yang berdebar-debar.