
Jenal terus celingak-celinguk mencari penjual martabak namun belum juga terlihat, sedangkan wanita itu terus membujuknya untuk mengantar pulang.
‘’Di dekat rumahku ada penjual martabak, jadi sekalian mengantarku kamu bisa beli martabak’’ saran perempuan itu lagi.
‘’Benarkah?’’ Jenal memastikan.
‘’Masa aku bohong sih’’ Sahut perempuan itu, ‘’mau gak ngantar aku pulang?’’ sambung perempuan tersebut.
‘’Baiklah, ayo naik’’ Ucap Jenal.
Perempuan itu pun membonceng Jenal, ‘’pegangan biar gak jatuh’’ Ucap Jenal sambil menoleh.
‘’Iya’’ Jawab perempuan itu lalu memeluk Jenal dari belakang.
Jenal menjalankan sepeda motornya menembus jalanan, perempuan itu mengarahkan jalan menuju ke rumahnya.
‘’Di depan ada pertigaan, kamu belok kiri’’ Kata perempuan itu.
Jenal pun belok kiri menuruti apa kata perempuan itu, ‘’Jedar..jedar..’’.
‘’Buruan mas, mau hujan’’ Kata perempuan itu lagi.
‘’Iya aku tau, masih jauh apa sudah deket?’’ Jawab Jenal dan bertanya.
‘’Masih jauh mas, kamu lurus terus aja’’ Perempuan itu memberi tau kepada Jenal.
Jenal terus menjalankan sepeda motornya, rintik-rintik hujan mulai turun, ‘’depan belok kanan’’ ucap perempuan itu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah, baju mereka basah kuyup terkena hujan.
‘’Mampir dulu, hujan masih deras’’ Perempuan itu mengajak Jenal untuk masuk.
Jenal mengikuti perempuan itu masuk kedalam rumah, ‘’kamu disini dulu, aku akan mengambil bajuku’’ kata perempuan itu lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Jenal berdiri di ruang tamu.
Tak lama kemudian perempuan itu keluar dengan memakai baju tidur yang sangat tipis sambil membawa pakaian untuk Jenal.
‘’Nih kamu pakai bajuku dulu biar gak masuk angin’’ Kata perempuan itu sambil menyodorkan pakaian.
‘’Makasih’’ Jawab Jenal, namun ia masih berdiri belum memakai pakaian tersebut.
‘’Loh, kenapa gak di pakai?’’ Tanya perempuan itu.
‘’Apa aku harus ganti baju disini?’’ Jenal balik bertanya.
‘’Disini juga gak papa, di rumah ini sepi orang tuaku ada di luar kota, hanya kita berdua saja’’ Balas perempuan itu sambil duduk di sofa.
Perempuan itu melirik dan tersenyum melihat burung milik Jenal yang lumayan besar. Jenal merasa canggung karena ia tahu kalau wanita itu sedang memperhatikannya.
‘’Gak usah malu, aku sering melihat burungnya laki-laki kok’’ Kata perempuan itu sambil tersenyum.
‘’Iy...iya’’ Ucap Jenal kikuk.
‘’Kamu suka kopi?’’ Tanya perempuan itu lagi.
‘’Suka’’ Hanya itu jawaban dari Jenal.
__ADS_1
‘’Baiklah aku akan buatkan kamu kopi’’ Perempuan itu berkata lalu berjalan ke dapur.
Jenal segera memakai pakaian perempuan itu, ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Jenal duduk di sofa sambil menunggu perempuan itu datang.
‘’Nih kopinya’’ Ucap perempuan itu lalu menaruh kopi tersebut di atas meja.
‘’Makasih’’ Balas Jenal.
‘’Aku Maya, nama kamu?’’ Kata perempuan itu mengenalkan diri dan bertanya kepada Jenal.
‘’Jenal’’ Jawab lelaki itu sambil tersenyum.
Tiba-tiba listrik padam, Maya langsung meloncat di sampingnya Jenal karena ia takut gelap, ‘’aku takut Nal’’ ucapnya lirih sambil bersembunyi di lengan lelaki itu.
‘’Gak usah takut, ada aku disini’’ Balas Jenal lalu memeluk Maya sambil mengelus punggung wanita itu.
‘’Aku takut gelap’’ Rintih Maya yang masih ketakutan.
‘’Sudah jangan takut, aku akan menemani kamu disini’’ Kata jenal dan terus mengelus punggung wanita itu.
‘’Kamu jangan pulang dulu ya’’ Ucap Maya lagi sambil merebahkan kepalanya di dada Jenal.
‘’Iya aku akan menemani kamu, sudah jangan takut’’ Jawab Jenal lalu membelai rambut Maya dengan lembut.
‘’Janji’’ Kata Maya sambil mendongakkan kepalanya.
‘’Iya janji’’ Balas Jenal yang masih membelai rambutnya Maya.
__ADS_1
Perlahan kedua mata Maya mulai terkantuk, perempuan itu pun terlelap tidur dalam pelukannya Jenal. Lelaki itu lalu merebahkan Maya ke pangkuannya.
*BERSAMBUNG*