
Di hari yang cerah dengan langit biru dan awan -awan putih yang melayang ringan tertiup angin musim panas yang panjang di kota Shanghai dan sekitarnya. Yang Xi Xi terlihat bahagia duduk di kursi penumpang di dalam MRT jurusan kota Shanghai-Jiangsu dengan ditemani oleh Chen Seng kekasihnya yang selalu memeluk dirinya.
"Xi Xi, apakah kamu tak merasa lapar karena hari sudah menjelang sore hari dan kamu telah aku perhatikan belum makan apa-apa sejak pagi hari kita berangkat dari rumah kita? " tanya Aseng di sampingnya.
"Oh, tentu saja aku merasa lapar dan ingin sekali makan enak setelah kamu menanyakanku soal aku belum makan sejak pagi." jawab Yang Xi Xi membelai lembut perutnya dengan sikap manis sekali sampai Aseng tersenyum geli melihatnya.
"Kau ini sangat manja deh sama aku.Baiklah kau jangan khawatir karena aku sudah membuatkan bekal makanan untuk kita berdua diperjalanan di dalam MRT ini di rumah sebelum kita berangkat. " kata Aseng mengambil tas belanjaannya yang di taruh di kursi kosong lalu mengeluarkan kotak makanan yang berisi sandwich lezat dan buah anggur yang segera diberikannya kepada Yang Xi Xi di sampingnya.
"Wahh, makanan ini terlihat lezat sekali.. " kata Yang Xi Xi menatap terharu dengan kebaikan hati Aseng terhadapnya.
"Iya, kalau kamu suka sandwich ini, ya kamu bisa makan sepuasmu." kata Aseng menatap lembut Yang Xi Xi.
"Iya, terimakasih Aseng. " jawab Yang Xi Xi yang mengambil satu sandwich dan memakannya di depan Aseng.
Selagi mereka menikmati makan siang berupa sandwich muncullah sosok arwah anak kecil di pintu gerbong yang di tempati oleh mereka dan arwah itu menatap lurus ke arah sandwich yang di pegang oleh Yang Xi Xi.
"Kau mau makan sandwich ini? " tanya Yang Xi Xi yang mengejutkan arwah itu yang segera lari ke arah gerbong lainnya.
"Emm, masih arwah cilik sudah bertingkah di depan ku.. " kata Yang Xi Xi dalam hatinya.
"Xi Xi, aku tadi merasa ada hawa dingin di dekat pintu gerbong kita sepertinya ada angin kencang masuk ke dalam gerbong." kata Aseng menoleh ke arah pintu gerbong di dekatnya kepada Yang Xi Xi.
__ADS_1
"Masa? Kok aku tidak merasa hawa dingin ya? " tanya Yang Xi Xi pura-pura tidak tahu apa-apa kepada Aseng dengan sikap dan nada yang luar biasa menyakinkan hati Aseng.
"Ah, mungkin aku cuma.., ah sudahlah lupakan saja.. " jawab Aseng nada biasa saja dengan tersenyum menawan kepada Yang Xi Xi.
Yang Xi Xi diam-diam menjulurkan tangannya ke seluruh gerbong yang berada di dalam MRT lalu sosok arwah anak kecil itu terjepit kelima jarinya dan kepala arwah anak kecil itu di tekan kencang oleh telapak tangannya ke bawah rel MRT yang melaju kencang dan menggilas habis arwah itu.
"Aku takkan pernah membiarkan arwah jahat seperti mu mengganggu kekasihku maka kamu harus menerima hukumanmu di gilas roda api nerakaku yang telah aku taruh di bawah rel MRT ini. " kata Yang Xi Xi meniup sisa arwah itu yang langsung menghilang menjadi debu tak terlihat.
Sekitar pukul delapan malam waktu setempat MRT yang ditumpangi oleh Yang Xi Xi dan Aseng tiba di stasiun MRT kota Jiangsu. Mereka berdua turun dari MRT dan memanggil sebuah becak yang ditarik oleh seorang pria paruh baya yang berada di luar gedung stasiun MRT.
"Paman, bisakah kau antarkan kami ke desa ini? " tanya Yang Xi Xi sopan menunjukkan alamat rumahnya kepada tukang becak itu dengan nada ramah.
"Ehhhh, alamat rumah mu ini tak ada di desa ini, Nona. " jawab tukang becak itu kebingungan di depan Yang Xi Xi dan Aseng.
"Ada.. Maaf, aku tadi salah baca alamatnya.. " jawab tukang becak itu dengan cepat.
"Aseng, tadi dia salah baca alamat rumahku. Ayo kita naik ke becaknya. " kata Yang Xi Xi menarik tangan Aseng yang sejak tadi tak bicara apapun.
"Iya,ayo Xi Xi.. "Jawab Aseng cepat bantu Yang Xi Xi naik ke atas becak lalu diikuti oleh Aseng.
Tukang becak itu menarik becak dengan berlari sekencang mungkin menuju ke desa yang telah ditunjukkan alamatnya oleh Yang Xi Xi sehingga ia benar-benar mengantarkan Yang Xi Xi dan Aseng ke depan pintu rumah bercat keperakan di desa kecil bagian utara kota Jiangsu.
__ADS_1
" Terimakasih Paman ini uang biaya jasamu. "kata Yang Xi Xi memberikan uang tunai kepada tukang becak itu.
" Sama-sama Nona. "jawab tukang becak itu kini berlarian untuk kembali ke stasiun MRT dengan wajahnya pucat kebingungan dengan apa yang telah dilakukannya terhadap dua orang muda yang menjadi pengguna jasanya.
" Akuai, kamu kenapa sih kok wajahmu pucat seperti kamu usai lihat hantu saja? "tanya teman dari tukang becak itu dengan heran.
" A.. Aku barusan mengantarkan dua orang tamu muda ku ke makam di desa bagian utara kota Jiangsu tanpa aku sadari. "jawab tukang becak itu dengan apaadanya kepada temannya namun ia bergidik ngeri sendiri.
"Ah, yang benar saja kamu bicarakan, Akuai?" ucap teman-temannya dengan terbelalak kaget.
"Iya, benar, kalau kalian semua tidak percaya padaku, mari ku antar kalian ke dua orang tamu muda ku ke makam itu. " ujar tukang becak itu dengan gemetar.
"Oh, kami percaya padamu, jadi maaf kami tidak mau ikut kamu ke makam yang angker itu. " kata teman-temannya segera menolak ajakannya.
Sementara itu Yang Xi Xi mengajak Aseng yang di gandeng tangannya untuk masuk ke sebuah rumah yang luas dan megah juga rapi dan bersih menurut penglihatan Aseng.
"Wah, kau ternyata orang kaya raya, Xi Xi. Lihat rumah mu besar sekali.. " kata Aseng dengan terkagum-kagum pada rumah mewah Yang Xi Xi di depan sepasang matanya.
"Ah, tidak juga Aseng, aku biasa saja.. Mari ku perkenalkan kamu dengan orangtuaku, kakakku, adikku dan hewan peliharaan ku di dalam rumah ku.. " kata Yang Xi Xi membuka pintu kayu yang bentuknya melengkung dengan ukiran yang luar biasa indahnya seakan-akan ukiran itu dibuatkan oleh para seniman-seniman atau pengrajin kayu terbaik di seluruh China.
"Xi Xi.. Kamu sudah pulang ke rumah, ya? " suara halus seorang wanita tua mendatangi mereka di ruang tamu yang perabotan semuanya antik dan mahal harganya jika dilihat dari ukiran-ukiran pada meja dan kursi-kursinya yang semuanya itu adalah kayu jati.
__ADS_1
Bersambung!!