
(POV MC)
Pagi hari setelah perbincangan ku dengan Tesla, Rosaria yang sebelumnya menawarkan untuk membagi beberapa tanah subur yang ada di wilayahnya kepadaku itu, dia kemudian segera pergi menuju ke sana.
Tentu saja, wanita itu tidak lupa untuk membuat kepalaku menjadi sangat sakit, akibat dari ulah menyebalkannya, yang mana dia ini main seenaknya saja mencuri ciuman pertamaku di depan semua orang yang hadir saat itu, sebelum dia mengambil syal kesayangan ku dan pergi begitu saja.
Meskipun aku sangat ingin mengatakan sesuatu, tapi berkat niat membunuh yang begitu mengerikan, yang dapat aku rasakan terpancar dengan begitu intens dari arah Toshizou, hal itu membuatku hanya bisa diam saja, sambil memikirkan bagaimana caraku untuk menyelesaikan permasalahan ku dengan Samurai wanita itu.
Setelah Rosaria pergi, semua orang kembali ke pekerjaan mereka masing-masing, di mana Toshizou menjadi orang pertama yang pergi dan dia pergi untuk melanjutkan rezim pelatihnya terhadap orang-orang yang ingin menjadi seorang penjaga, lalu ada Tesla yang tidak mengurung dirinya di dalam laboratoriumnya, dikarenakan dia yang langsung memulai proyek yang sebelumnya itu, tepat setelah Rosaria pergi.
Jadi, bisa di bilang, kini aku hanya di tinggal berdua saja dengan Lilith, yang dari kemarin selalu menghilang entah kemana, di mana kami saat ini sedang berjalan-jalan di sekitaran tembok yang mengitari kota ini yang baru saja selesai di bangun kemarin.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Lilith?" Aku memutuskan untuk menanyakan hal itu kepadanya, saat aku berhenti tepat di depan gerbang keluar dari kota ini.
Aku bisa melihat Lilith yang tampak bingung ingin berkata apa dari sudut mataku, dengan mata miliknya sendiri yang masih terus memandangi tembok yang ada di depan kami dengan penuh rasa takjub.
"Kalau boleh jujur sih, aku tidak pernah menyangka, jika kamu akan berhasil mengubah kota ini, seperti yang kamu katakan di pidato waktu itu." Dia terlihat mengatakan hal itu dengan senyum kecil yang tumbuh di wajahnya, ketika matanya mulai melirik ke arahku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum ramah saja, sebelum aku kembali berjalan, dengan dia yang mengikuti ku dari arah belakang.
"Tentu saja aku pasti akan benar-benar mewujudkannya. Karena, kamu seharusnya tahu kalau aku sangat benci menjanjikan sesuatu hal yang tidak dapat aku tepati."
"Benar juga."
Kami kemudian mulai tertawa ringan, sambil terus berjalan melalui jalan setapak yang ada di dekat tepi dari tembok besar ini.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Lilith, apa menurutmu hal ini memanglah sebuah pilihan yang tepat untuk aku ambil?" Aku memutuskan untuk menanyakan hal itu, setelah kami berdua berhenti tertawa dan berhenti berjalan, di mana kami berdiri di depan salah satu bangku yang ada di sepanjang jalan setapak ini.
Lilith yang mendengar hal itu, dia terlihat segera menatapku dengan penuh kebingungan, "Apa yang sedang kamu bicarakan?"
Mendengar pertanyaannya itu, aku hanya bisa tersenyum saja, saat aku mulai duduk di bangku yang ada di dekatku.
"Maksudku itu, apa pilihanku untuk memulai semua ini memanglah sebuah kebenaran?"
Demon Maid ku hanya menatapku saja dalam diam, di mana aku bisa melihat kerumitan yang tampak jelas di mata merah marunnya itu.
Hal tersebut hanya berlangsung selama beberapa menit saja, tidak sampai lima menit, sebelum dia terlihat sudah memutuskan sesuatu hal.
Dimana, setelah terlihat memutuskan hal itu, Demon Maidku ini tampak segera duduk di samping ku, sebelum dia dengan paksa meletakkan kepalaku di paha miliknya.
Melihat hal itu, aku hanya bisa menatapnya dengan penuh kebingungan saja, tapi sebelum aku bisa mengatakan sesuatu, wanita ini sudah lebih dulu berbicara.
"Memaksakan diri?" Aku hanya bisa segera menanyakan hal itu saja dengan penuh kebingungan, karena meskipun aku ingin mendengar jawaban dari wanita kedua yang paling dekat dengan diriku yang dulu, tapi jawabannya itu di luar dugaan ku.
Dimana, wanita itu hanya memberiku senyum lembut saja, sebelum dia mulai membelai pipiku dan berkata; "Ya, Memaksakan diri. Karena, aku yakin kamu tidak terbiasa melakukan seluruh hal ini, tapi kamu masih terus mencoba untuk tetap melakukannya, meskipun itu berarti melukai hatimu sendiri."
"Selain itu, kamu juga bahkan mengundang dua orang asing yang sangat menakutkan sebagai bawahanmu, seperti pembunuh berdarah dingin itu, dan manusia jenius yang bersebelahan dengan gila yang menggunakan Seni Sains yang sangat tabu, yang bahkan begitu di benci oleh mayoritas Dewa."
"Jadi, untuk kali ini saja, Master. Tolong biarkan aku menjadi sedikit egois untuk membuatmu berisitirahat dengan tenang, karena aku yakin, setelah melakukan seluruh hal itu, aku yakin kamu pasti sangat kelelahan."
"Selamat malam, Master. Aku berharap kamu bermimpi indah."
__ADS_1
Tanpa aku bisa membalasnya sama sekali, Demon Maidku ini sepertinya sudah menerapkan Charm Magic terhadapku, yang mana fungsinya itu untuk membuatku tertidur.
Meskipun aku cukup jengkel tentang hal itu, tapi karena maksudnya baik, jadi aku membiarkannya saja, karena sebenarnya itu, berkat Unique Skill [The Jester] ku ini, segala hal yang berhubungan dengan Charm tidak akan pernah berefek lagi terhadapku.
Dengan begitu, aku mulai tertidur dipangkuan Demon Maid imutku ini.
¥®©©®¥
(POV Orang Ketiga)
Sementara Arch mulai tertidur di pangkuan Lilith, dengan Demon Maid itu yang hanya terus memandangi wajah tidurnya tersebut, sambil terus memainkannya...
Tidak jauh dari sana, terlihat ada seorang wanita muda berambut hitam yang melihat hal itu dengan mata merahnya yang memancarkan cahaya yang sangat berbahaya, ketika nafsu membunuhnya mulai menjadi semakin tidak terkendali.
'Sialan... Lagi-lagi ada saingan lain yang perlu aku singkirkan.' Wanita itu, yang tidak lain adalah Hijikata Toshizou, dia memikirkan hal itu dengan penuh kekesalan, pada saat dia berbalik dan berjalan pergi dari sana, sambil mencoba sebaik mungkin untuk menahan amarah yang terpompa dari hatinya.
Itu karena, meskipun sebelumnya Toshizou masih bimbang dengan perasaannya itu, tapi karena dia berhasil mendapatkan jawaban atas pertanyaan miliknya itu dari Nikola Tesla, setelah dia secara tidak sengaja menanyakan hal itu, ketika mabuk akibat secara tidak sengaja menenggak terlalu banyak alkohol di dekat laboratorium miliknya, dan hal itu terjadi semalam.
Jadi, meskipun dia entah kenapa sangat malu dengan jawaban yang diberikan oleh Tesla, apalagi setelah melihat Masternya itu yang di cium oleh Saint itu yang membuatnya melakukan tindakan yang kurang menguntungkan tadi pagi, tapi karena samurai wanita itu yang takut di dahului oleh orang lain, terutama mengingat Masternya itu yang sudah menikah, tadinya dia berencana untuk sesegera mungkin menemui Masternya ini.
Hanya saja, pada saat dia ingin menemui Masternya itu, Toshizou malah melihat kalau Masternya itu yang sedang berbaring di atas paha milik Demon Maid itu, yang meskipun awalnya Toshizou menganggapnya sebagai temannya, tapi setelah melihat bagaimana cara wanita itu bermain dengan wajah milik Masternya dan kata-kata plus tawa yang keluar dari mulutnya ketika melakukan hal tersebut, Toshizou segera menganggapnya sebagai seorang saingan yang perlu dimusnahkan, seperti Per*vet Saint itu.
Akan tetapi, hal itu tidak sekarang. Karena, meskipun Toshizou memang sedang sangat dipenuhi oleh amarah kecemburuan, tapi dia masih dapat berpikir dengan logis, terutama setelah dia teringat kembali dengan setiap perbincangan yang dirinya dan Masternya itu lakukan setiap kali mereka melakukan latih tanding.
Dimana, hal tersebut berhasil membuat samurai wanita itu mengurungkan niatnya tersebut, tapi dia hanya berencana untuk menundanya, tidak menghentikannya, sampai Masternya telah berhasil mencapai tujuan balas dendamnya.
__ADS_1
Toshizou yang secara tidak sengaja memikirkan tentang bagaimana Masternya nanti akan menjadi miliknya seorang, hal tersebut berhasil membuatnya menjadi sangat bergairah, hingga membuatnya menumbuhkan sebuah senyum bengkok, di mana hal itu untungnya tertutupi oleh sebuah syal yang melilit lehernya.
Dan, dengan begitu, bencana lain yang berada tepat di belakang lehernya, telah sepenuhnya tercipta, tanpa diketahui sama sekali oleh Arch.