Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard

Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard
Chapter 09 : Perubahan Yang Terjadi Pada Tristis City


__ADS_3

(POV MC)


Kini sudah satu minggu berlalu, sejak hal besar yang aku lakukan pada seluruh warga yang ada di kota ini.


Bisa di bilang, sejak saat itu, kota ini benar-benar sudah mengalami perubahan yang sangat drastis.


Dimulai dari kondisi mental dari warga kota ini dan suasana kota itu sendiri, yang berubah menjadi di penuhi oleh energi dan harapan, meskipun aku masih belum terbiasa sama sekali dengan tatapan fanatik yang mereka berikan, tapi karena hal itu diperlukan untuk rencana balas dendamku...


Huhh... Sepertinya aku harus mencoba untuk terbiasa dengan hal tersebut.


Selain perubahan itu, ada juga perubahan yang terjadi pada arsitektur kota ini, yang jika dulu lebih terlihat seperti daerah kumuh, tapi sekarang kota ini mulai terlihat seperti kota pada umumnya, dengan model bangunannya itu aku ambil dari model bangunan abad pertengahan Eropa yang dipadukan dengan beberapa arsitektur Jepang Kuno, hanya karena aku merasa kalau hal tersebut dapat mengurangi biaya untuk membangun ulang seluruh kota ini.


Tapi, yang paling penting dari perubahan tersebut, adalah fakta bahwa kini tembok yang mengelilingi kota ini sudah bisa di bilang sebagai tembok, plus karena pembangunan temboknya di mulai dari nol, aku menggunakan kesempatan itu untuk memperluas kota ini, yang jika sebelumnya kota ini memiliki luas yang setara dengan Kota Bandung, kini Kota ini bisa di bilang memiliki luas yang sama dengan Kota Palangkaraya.


Ada juga perubahan terhadap para penjaga kota ini dan militernya, yang sekarang bisa di bilang cukup mumpuni untuk melakukan hal tersebut.


Belum lagi, orang yang melatih mereka ini adalah Toshizou, yang bisa di bilang sebagai pelatih iblis (ini dari sudut pandangku ye~), membuat mereka cukup layak untuk di sebut sebagai pejuang.


Baiklah. Untuk sekarang, lebih baik aku berhenti membahas perihal kemajuan dari kota ini, karena besok, akhirnya dua minggu telah berlalu semenjak pemanggilan Toshizou, yang artinya besok aku bisa memanggil satu orang lagi yang aku harap dapat membantuku dalam situasiku saat ini.


Jika di bilang siapa yang ingin aku panggil, maka aku hanya bisa bilang, kalau bukan seseorang yang ahli dalam bidang strategi, setidaknya orang yang ahli dalam bidang bisnis, ataupun bidang politik, atau juga bisa seorang ilmuan, aku harap dapat memanggil salah satu dari hal itu.


Karena, bidang-bidang itu benar-benar sedang sangat aku perlukan, terutama seorang ilmuan, sebab aku yang sekarang sedang ingin melakukan penelitian tentang tanah ini.


Aku memang bisa membawa orang luar bersamaku. Tapi pertanyaannya itu adalah siapa? Lagi pula, kecuai kakak perempuanku, Lilith, dan Saint yang menjadi istriku itu, hampir semua orang itu membenciku dan jijik terhadapku.


Belum lagi, aku juga tidak bisa begitu saja membawa masuk orang luar ke sini, terutama setelah pembunuhan yang terjadi waktu itu.


Pembunuhan? Ya, di malam setelah pesta pernikahanku selesai, ketika istriku pergi untuk melakukan sesuatu hal di kampung halamannya, ada beberapa orang yang mencoba membunuhku.


Meskipun waktu itu, sebelum ingatanku bangkit, seharusnya aku sudah mati terbunuh oleh para pembunuh itu, tapi setelah ingatanku bangkit, entah kenapa yang tersisa hanyalah mayat para pembunuh itu saja, yang sepertinya mati akibat serangan jantung mendadak, dengan aku sendiri yang terlihat baik-baik saja, kecuali darah yang menggenang di sekitarku.


Memang sih, pada awalnya aku memutuskan untuk mengabaikan hal itu, akibat dari keterkejutanku terhadap fakta reinkarnasiku ini, tapi setelah segalanya mulai tenang dan terkendali, aku harus benar-benar kembali memikirkan hal tersebut, karena hal itu benar-benar cukup aneh.


Aku memang tahu sih, siapa orang yang memiliki peluang tertinggi untuk mengirim para pembunuh itu, tapi permasalahannya ini, kenapa baru sekarang mereka melakukan hal itu?


Apa karena sebelumnya ada kakak ku yang melindungiku? Tidak, jika memang begitu, seharusnya orang itu sudah memiliki banyak sekali kesempatan di masa lalu.


Jadi, kenapa baru sekarang mereka mengirim orang-orang ini untuk membunuhku?


Ketika aku sedang sibuk di dalam pikiranku sendiri, sebuah ketukan segera datang dari pintu masuk, yang membuat ku segera mengalihkan pandanganku ke arahnya, dan aku kemudian segera memutuskan untuk memikirkan hal itu nanti saja.

__ADS_1


"Masuk."


Setelah aku mengatakan hal itu, pintu tersebut segera terbuka dan menampilkan seseorang yang mulai berjalan masuk ke dalam.


Orang ini adalah seorang pria yang usianya itu sepertinya berada di pertengahan, mungkin juga akhir, dari tiga puluhan, dengan rambut merahnya yang mulai dipenuhi oleh uban, dan mata biru kusamnya yang mulai memandangiku dengan cara yang sangat aku benci.


Tapi, sekali lagi, aku harus segera membiasakan diri dengan tatapan itu, demi keberlangsungan rencana balas dendamku ini.


"Maaf jika hamba mengganggu Anda, Lord Arch."


Aku hanya membalasnya dengan anggukkan ringan saja, sebelum aku memberinya isyarat untuk mengatakan tujuan utama dari mengapa dirinya datang ke sini.


Dan, pria ini sepertinya paham akan isyaratku itu, yang membuatnya segera menjelaskan alasan di balik kedatangannya itu.


"Saya di sini ingin melapor, kalau Lady Rosaria Agioslight sedang menunggu Anda di ruang tamu."


*Cetar*


Aku segera menjatuhkan gelas yang sedang pegang, setelah aku mendengar apa yang orang ini katakan. Karena...


"Rosaria ada di sini? Apa kamu tidak salah, Rougine?" Aku memutuskan untuk mengonfirmasi itu dengan nada penuh keseriusan, karena jika hal itu memang sebuah kebenaran, maka segalanya akan menjadi jauh lebih rumit lagi.


"Ara~ Ada apa denganmu, Arch? Kenapa kamu terlihat tidak begitu senang dengan kedatanganku ini?"


Setelah suara itu terdengar, seseorang yang tidak pernah ingin aku temui lagi, orang itu segera terlihat dari arah pintu masuk dan tampak sedang berjalan menuju ke arahku.


Orang ini adalah seorang wanita muda yang berada di usia awal dua puluhan, dengan kulit yang tampak sangat halus dan tubuh yang begitu menggoda, rambut sepanjang lututnya terlihat memiliki warna anggur agak pucat dan mata indah yang berwarna biru es, serta dia terlihat mengenakan sebuah pakaian pendeta mewah yang tampak menampilkan sosok menggairahkannya dengan sangat sempurna.


Namun, meskipun orang ini memang seperti perwujudan dari keinginan seluruh laki-laki normal, tapi bagiku, dia ini tidak lebih dari iblis mengerikan yang tidak ingin aku temui lagi.


Belum lagi, mengingat kecenderungan sadisnya ini, plus bagaimana cara dia memperlakukan diriku sebelum aku mendapatkan ingatanku ini, mau tidak mau aku segera merinding, karena itu bukanlah sesuatu hal yang ingin aku ingat lagi.


"Ara~ Ada apa dengan wajah itu~ Apa rumor tentang Arch kecilku ini yang sudah berubah memanglah sebuah kebenaran, ya?"


Mendengar hal itu, salah satu alisku segera terangkat, karena meskipun aku tahu, kalau rumor semacam itu entah kenapa mulai menyebar, tapi dari apa yang aku tahu, rumor itu baru menyebar di sekitaran kota ini saja, lalu bagaimana dia...


"Kihihihi... Jangan begitu terkejut seperti itu dong, Archy. Kamu seharusnya tidak meremehkan seorang Saint sepertiku ini loh~"


Aku hanya bisa menghela nafasku dengan penuh rasa frustasi saja, setelah pikiranku di potong oleh wanita yang ada di depan ku ini.


"Jadi, mau apa kamu datang ke sini?"

__ADS_1


Aku memutuskan untuk menanyakan hal itu, karena kemunculannya ini cukup aneh dalam sudut pandangku, terutama setelah mengingat tentang pembahasan dari pertemuan waktu itu...


Seharusnya dia tidak akan muncul di sini dalam waktu dekat ini...


Tapi, pertanyaanku itu segera di jawab olehnya, ketika wanita tersebut tampak mulai kembali berjalan ke arahku dan berakhir duduk di meja yang ada di depanku.


"Jika kamu bertanya tentang para serangga itu, maka kamu bisa tenang, karena mulai sekarang, aku akan pastikan mereka tidak akan mengganggu kita lagi. Dan, aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi dariku, atau pun membiarkan kamu pergi dari sisiku."


Pada saat mendengar hal itu, aku akhirnya paham, tentang alasan mengapa aku selalu merinding, setiap kali aku berada di dekatnya.


'Sialan... Apa gadis ini seorang Yandere? Tapi, kenapa dia malah begitu terobsesi denganku!?'


Meskipun aku masih sangat bingung dan penasaran dengan hal itu, tapi aku segera memutuskan untuk mengabaikan hal itu, karena sedang ada sesuatu hal yang lebih penting dari hal itu, yang terlihat sedang duduk dengan cara yang sangat menggoda di depanku.


"Huhh... Kalau kamu memang ke sini hanya ingin meledek ku terus seperti itu, lebih baik kamu kembali saja ke rumah mu itu, karena aku sekarang ini sedang sangat sibuk." Aku mengatakan hal itu sambil bangkit dari kursiku dan mulai ingin berjalan menuju ke pintu keluar.


Tapi, baru saja aku ingin mengambil langkah pertamaku, bahuku sudah di pegang saja dengan sangat erat oleh wanita menyebalkan ini, yang membuatku mengalihkan pandanganku ke arahnya.


"Ada apa?"


Bukannya menjawab pertanyaanku itu, wanita ini malah terlihat terus menatapku dengan mata yang menajam, di mana hal tersebut berhasil membuat bulu kuduk ku merinding, sebelum akhirnya dia membalasnya.


"Tidak, bukan apa-apa. Lagi pula, lebih penting dari itu, apa kamu serius ingin mengurus wilayah ini? Wilayah yang bahkan para Dewa pun hindari."


"Ya, aku akan mengurusnya. Memangnya kenapa?" Aku membalasnya secara refleks dengan nada yang terdengar tidak senang, saat aku mulai menatap balik wanita ini dengan tajam.


Mendengar jawabanku, aku bisa melihat keterkejutan yang segera terpasang di wajahnya, sebelum dengan sangat cepat digantikan oleh ekspresi serius.


Aku yang melihat ekspresi itu, entah kenapa aku mulai memiliki firasat yang tidak enak, terutama setelah mata kami bersilangan, di mana aku bisa melihat sesuatu hal yang tidak begitu menyenangkan dari balik tatapannya itu.


Butuh waktu hampir selama lima menit bagi wanita itu untuk mendapatkan jawaban atas suatu pertanyaan yang tampaknya sedang mengganggu pikirannya, sebelum dia mulai menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan "Kamu tidak akan pernah bisa menjauh dariku".


Dan, jujur saja, hal itu berhasil kembali membuat tulang punggung ku menjadi sangat merinding, ketika aku sebaik mungkin mencoba untuk tetap menjaga fasad tenangku ini.


Tersenyum dengan manis ke arahku, yang bagiku malah terlihat sangat menakutkan, akhirnya wanita ini mengatakan sesuatu hal yang tidak ingin aku dengar sama sekali, dan hal itu seperti ini...


"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan tinggal di kota ini, dan membantu suami ku tersayang ini. Kamu pasti tidak akan menolak hal itu sama sekali, bukan? Lagi pula, sejak awal aku tidak perlu meminta izin dari mu untuk tinggal di sini. Karena, tidak mungkin Darling akan menolak hal itu, kan?"


'Sialan... Aku mengutuk kalian semua para Dewa dan... DIMANA KEBERUNTUNGANKU ITU!? KENAPA MASIH TIDAK AKTIF SAMA SEKALI!?'


Sambil terus mengutuk berbagai macam Dewa yang ada di Dunia ini secara internal, aku secara sangat TERPAKSA harus menemani "ISTRI"-ku ini berkeliling kota ini selama sisa hari ini.

__ADS_1


__ADS_2