Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard

Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard
Chapter 05 : Perjalanan & Misteri


__ADS_3

(POV MC)


Hutan lebat yang indah, yang tadinya memenuhi seluruh penglihatanku, kini hal itu berubah menjadi pemandangan tanah tandus yang hanya dipenuhi oleh pasir saja, sejauh mata memandang, dengan terik matahari yang menjadi semakin parah.


Sudah hampir lima hari berlalu sejak pertemuan itu terjadi, dan kini aku sedang dalam perjalanan menuju ke wilayah milik ku.


Aku berangkat pada pagi hari, satu hari setelah pertemuan itu berlangsung, hanya karena aku yang tidak ingin terlalu lama tinggal di tempat itu.


Lagi pula, setelah aku pergi dari pertemuan itu, orang-orang yang ada di sana semakin menjadi-jadi dalam perlakuan mereka terhadapku, yang meskipun aku tidak begitu peduli karena sudah terbiasa dengan hal tersebut, tapi itu tidak dapat dikatakan begitu dengan Toshizou.


Jadi, hanya untuk mencegah wanita itu melakukan genosida massal terhadap sesuatu hal yang tidak begitu berguna, aku memutuskan untuk berangkat menuju ke wilayahku sesegera mungkin, di mana selain bersama dengan Toshizou, aku pun mengajak seorang maid yang sempat aku lupakan keberadaannya.


Dia ini adalah seorang budak yang aku beli, ketika aku sedang berjalan-jalan bersama dengan kakak perempuanku di Ibukota dari Areti Federation dulu.


Namanya itu Lilith. Dia ini adalah seorang wanita Demon yang peringkatnya itu masihlah tanda tanya, karena aku yang tidak dapat melihat isi dari layar statusnya secara sempurna, katanya sih berkat Unique Skill yang orang ini miliki, tapi yang pasti darinya itu, adalah fakta bahwa wanita ini yang begitu ahli dalam hal menyamar sebagai seorang manusia.


Lagi pula, bahkan setelah hampir lima tahun bekerja untuk ku di dalam istana kerajaan, yang notabennya memiliki tingkat keamanan tertinggi yang ada di seluruh Aeternus Empire, tapi mereka masih belum dapat menyadari ras sesungguhnya yang dimiliki oleh Lilith.


Selain ahli dalam bidang tersebut, wanita ini juga cukup, tidak, malah menurutku terlalu ahli dalam bidang sihir, dan bisa di bilang, kalau seluruh sihir yang aku ketahui hingga saat ini itu berasal darinya, karena dialah yang mengajariku bagaimana cara menggunakan sihir.


Dan, meskipun awal mula hubunganku dengan wanita ini, sebelum ingatan di kehidupan masa laluku bangkit, itu bisa terbilang sangat aneh.


Karena, wanita ini yang awalnya selalu mengatakan akan membunuhku, akibat sesuatu hal yang tidak dapat dijelaskan plus tidak aku ketahui dan mengerti, tapi setelah beberapa tahun berlalu, sikapnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat, hingga mungkin saja, selain kakak perempuanku, wanita ini adalah satu-satunya orang yang benar-benar khawatir akan kesejahteraanku.


'Meski begitu, aku benci dengan wanita ini yang selalu menganggapku seperti seorang anak kecil.'


Ya, dari ingatan yang aku miliki sebagai Arch. Wanita Demon ini benar-benar memperlakukanku seperti seorang anak kecil, yang untuk memperburuk hal tersebut, aku sendiri saat itu menerimanya dengan senang hati...


Jujur saja, melihat kenangan yang itu, rasanya aku benar-benar ingin bunuh diri, karena terlalu memalukan...


...


Argh! Oke! Lebih baik aku balik ke topik utama saja.


Ahem! Intinya sih, sekarang ini aku baru saja memasuki kawasan bagian agak luar dari wilayahku, yang seperti apa yang aku lihat di dokumen waktu itu, tempat ini benar-benar sangat mirip dengan Gurun Sahara. Karena, tidak peduli sejauh mana mataku memandang, yang bisa aku lihat hanyalah padang pasir saja, tanpa kehidupan apapun di dalamnya.


Dari melihat hal itu saja, aku benar-benar menjadi semakin skeptis tentang keadaan kota di mana nanti aku akan memimpin. Karena, jika bagian luarnya aja udah sesuram ini, lalu bagaimana dengan bagian dalamnya? Aku benar-benar tidak ingin memikirkannya sama sekali.


Ketika aku kembali menghela nafasku, maid wanita yang sedang duduk di dekatku mulai menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut, yang mana hal itu berhasil membuatku mengalihkan pandanganku ke arahnya.


"Tenang saja, Master. Tidak peduli seberapa buruknya wilayah itu, aku akan tetap berusaha sebaik mungkin untuk membantumu."


Mendengar kata-kata motivasi yang


diberikan oleh Demon Wanita ini, yang aku bisa lakukan hanyalah tersenyum kecut saja, karena...

__ADS_1


'Wanita ini benar-benar memiliki pesona seorang ibu yang mengerikan.'


Meskipun aku mengatakan hal itu di dalam benak ku, tapi aku masih berterima kasih akan hal itu, karena kata-katanya itu cukup membantuku dalam mengembalikan moodku.


"Terima kasih, Lilith."


Setelah berterima kasih kepada wanita itu, aku memutuskan untuk berlatih dengan Unique Skill [Astrology], sampai aku tiba di tempat tujuanku.


¥©®®©¥


(POV Orang Ketiga)


Sementara itu, pada waktu yang bersamaan di tempat lain...


Terlihat ada seorang wanita muda cantik berambut panjang anggur agak pucat yang tampak sedang berjalan dalam suasana hati yang baik, di dalam lorong dari istana utama milik Aeternus Empire.


Wanita itu terlihat terus berjalan dengan senyum menyegarkan di wajahnya, saat dia benar-benar mengabaikan orang-orang yang ada di sekitarnya, yang selalu memberinya tatapan penuh kasihan.


'Kira-kira apa ya yang sedang Arch lakukan, ya?'


Ketika memikirkan hal itu, senyum yang wanita tersebut miliki menjadi semakin dalam, saat mata ungu kemerahan yang ujungnya memudar menjadi biru laut kehijauan miliknya itu mulai terlihat dipenuhi oleh kegilaan.


'Heheheh~ Aku benar-benar tidak sabar untuk membuatnya menjadi milik ku sepenuhnya.'


Sambil memikirkan hal semacam itu di dalam benaknya, wanita tersebut mulai berjalan menuju ke suatu tempat, tanpa mengetahui kalau orang yang sedang dirinya ingin temui itu, sudah lama pergi dari kota itu.


....


...


Sementara itu, di tempat lain...


Di suatu tempat yang hanya dipenuhi oleh salju di sepanjang mata memandang, ada tiga orang yang terlihat sedang berjalan menuju ke suatu tempat.


Salah satu dari mereka terlihat seperti seorang pria muda yang usianya berada di pertengahan dua puluhan, dengan rambut panjang keriting azure agak pucat yang memudar menjadi merah agak ke-teal-an di ujungnya, di mana terlihat ada juga sebuah anting-anting ungu bercahaya di telinga kirinya, dan fitur yang paling mencolok dari orang itu adalah sebuah topeng hitam berbentuk menyerupai paruh runcing yang menutupi wajah bagian atasnya.


Pakaian yang orang itu kenakan tidak dapat terlihat dengan sangat jelas, karena hal itu tertutupi oleh sebuah jubah musim dingin yang dikenakan olehnya.


Berjalan berdampingan dengan pria muda itu, ada seorang wanita jangkung dengan kulit pucat yang hampir terlihat mirip dengan sebuah porselen, dengan rambut panjang halus pirang platinum yang memudar menjadi merah muda di ujungnya, dan dua terlihat memiliki mata indah berwarna merah keunguan yang memiliki pupil hitam berbentuk menyerupai sebuah buku di bagian tengahnya. Sebagian rambutnya terlihat di ikat menjadi dua sanggul berbentuk menyerupai sebuah mawar di bagian belakang kepalanya. Dimana, dia juga terlihat mengenakan sebuah anting hitam di telinga kanannya dan ada juga sebuah topeng hitam yang menutupi mata kirinya.


Sama seperti pria muda yang sebelumnya, wanita itu pun terlihat mengenakan sebuah jubah musim dingin mewah yang menutupi seluruh pakaian yang ada di bawahnya, dengan sebuah Catalyst yang terlihat melayang di belakang bahu kanannya.


Orang terakhir yang ada di sana terlihat seperti seorang wanita muda yang memiliki kulit putih pasih, dengan mata merah yang memudar menjadi biru di ujungnya dan terlihat memiliki pupil nila yang berbentuk menyerupai sebuah bintang berujung delapan di tengahnya, yang mana rambut bergelombangnya itu memiliki warna nila agak pucat yang memudar menjadi teal di ujungnya, di mana hal itu di ikat dengan ekor kuda samping yang longgar.


Meskipun sama dengan dua yang sebelumnya, karena sama-sama mengenakan sebuah jubah musim dingin yang menutupi pakaian yang ada di bawahnya, tapi wanita itu juga terlihat mengenakan sebuah topi penyihir aquamarine besar yang memiliki sebuah bunga es yang disematkan di topi tersebut, serta sebuah topeng domino hitam putih yang memiliki motif bintang berwarna aquamarine terlihat menutupi bagian atas wajahnya.

__ADS_1


Mereka terlihat berjalan dalam diam menyurusi tanah es yang tampak tak berujung itu dalam diam, hingga salah satu dari kedua wanita itu, yang memiliki panjang halus pirang platinum yang memudar menjadi merah muda di ujungnya, memecahkan kesunyian yang ada di sana.


"Serius, Dottore. Mau sampai kapan kita berjalan di tempat ini? Apa kamu serius, tidak salah dalam menghitung koordinatnya?"


Pria muda yang di panggil Dottore itu awalnya hanya mendecak lidahnya dengan penuh kekesalan saja, ketika dia mulai meliriknya dengan jengkel sejenak, sebelum dia kembali fokus pada sebuah benda hitam aneh berbentuk persegi panjang, yang dia sedang pegang.


"Lebih baik kamu gunakan apimu itu untuk mencairkan otak mu yang mungkin saja membeku itu, ketimbang tidak digunakan sama sekali, La Signora..."


Dottore kemudian terlihat mulai menghentikan langkah kakinya dan mulai memandang ke arah langit, sebelum dia melanjutkannya dengan nada yang jauh lebih serius, bahkan sebelum wanita yang dirujuk olehnya dapat mengatakan sepatah kata pun.


"Lagi pula, aku tidak pernah salah dan gagal dalam setiap hal yang aku lakukan, dengan pengecualian hal-hal yang berhubungan dengan Master."


Wanita muda berambut panjang halus pirang platinum yang memudar menjadi merah muda di ujungnya, yang sepertinya memiliki nama La Signora, ingin sekali membantah hal tersebut. Tapi, karena itu adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan, dia berakhir hanya bisa mendecak lidahnya dengan penuh kekesalan saja.


"Ngomong-ngomong, kamu bilang, kalau beberapa hari yang lalu kamu berhasil melacak keberadaan dari Master. Kalau begitu, di mana keberadaan Master sekarang? Jangan bilang, seorang jenius sepertimu akhir gagal juga?"


Menghadapi sarkasme yang dilontarkan oleh La Signora, Dottore hanya diam saja dan terus mengamati langit yang ada di atasnya, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke arah orang terakhir yang ada di sana, di mana pria itu benar-benar terlihat mengabaikan pertanyaan dari wanita muda berambut panjang halus pirang platinum yang memudar menjadi merah muda di ujungnya itu.


"Scaramouche, apa kamu bisa mencari tahu alasan dari keanehan yang dimiliki oleh bintang-bintang yang ada di langit itu?"


Mendengar pertanyaan mendadak dari pria muda itu, kedua wanita itu segera jatuh ke dalam perenungan.


Dimana, sementara wanita muda yang di panggil Scaramouche itu mulai fokus kepada sebuah Catalyst yang muncul secara tiba-tiba di dekatnya, di sisi lain, La Signora tampak mulai terfokus kepada langit yang ada di atasnya, ketika mata miliknya terlihat mulai menyipit.


'Tu-tunggu sebentar! Ja-jangan-jangan...'


Sebuah pemikiran liar yang muncul di dalam benak wanita itu segera di konfirmasi oleh wanita lain yang ada di sana, ketika wanita berambut nila agak pucat yang memudar menjadi teal di ujungnya itu tampak mulai memiliki air mata yang menetes di kedua matanya.


"Ti-tidak salah lagi! I-ini... I-ini benar-benar energi sihir milik Master!"


Setelah kata-kata itu terucap, La Signora segera memegang bahu dari wanita itu, dengan tangan miliknya yang sudah berubah menjadi sebuah kobaran api merah yang agak kehitaman.


"S-scaramouche, apa kamu benar-benar serius dengan kata-katamu itu? Kamu sedang tidak bercanda, kan?" Nada suara yang wanita itu gunakan seketika itu juga berubah menjadi nada penuh harap yang berbatasan dengan antisipasi, ketika cengkraman tangannya itu menjadi semakin kuat.


Scaramouche hanya bisa membalasnya dengan anggukkan yang berulang saja, ketika dia mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan milik La Signora.


"Te-tentu saja aku sedang tidak bercanda! Apa kamu pikir aku akan bercanda dengan hal seperti ini?"


Setelah mendengar hal itu, La Signora segera melepaskan cengkramannya itu dan mulai memeluk dirinya sendiri, ketika api merah yang agak kehitaman mulai berkobar di sekujur tubuhnya.


"A-aku tahu kamu masih hidup, Master. A-aku tahu kamu tidak mungkin mati semudah itu."


Scaramouche yang melihat wanita tersebut mulai menangis ketika seluruh tubuhnya mulai terbakar dalam api merah yang agak kehitaman, dia hanya bisa tersenyum dengan lembut saja, ketika matanya mulai menjadi semakin lembut.


'Sepertinya bukan hanya aku saja yang sangat merindukan Master. Bahkan, orang gila seperti Doctor pun tidak luput dari hal itu.'

__ADS_1


Mata milik wanita itu tampak segera melirik ke arah orang terakhir yang ada di sana, yang meskipun terlihat sangat tenang dan hanya menampilkan senyum kecil saja di wajahnya, tapi Scaramouche tahu, kalau pria itu saat ini sedang menangis dengan penuh kebahagiaan, karena itu adalah satu-satunya emosi milik pria itu yang wanita tersebut dapat deteksi melalui Astrology miliknya.


__ADS_2