Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard

Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard
Chapter 19 : Perdebatan Di Antara Saudara


__ADS_3

(POV Orang Ketiga)


Di sebuah jalan setapak yang terletak di suatu hutan yang ada di dalam wilayah dari Grand Duke Splendida, sekelompok orang terlihat sedang berjalan dengan sangat santai di sana.


Kelompok tersebut terlihat di pimpin oleh dua orang wanita, dengan yang satu terlihat memiliki rambut berwarna aquamarine agak pucat dan mata indah yang berwarna Ruby, sementara yang satunya lagi terlihat memiliki rambut Semerah darah dan mata safir indah yang memudar menjadi hitam di ujungnya.


Tentu saja, mereka berdua adalah salah satu Putri dari Kaisar Aeternus Empire, Francesca d'Arc Aeternus - yang memiliki rambut berwarna aquamarine agak pucat, dengan yang satunya lagi adalah Artoria Northime Aeternus.


Dimana, saat ini kedua orang itu sedang dalam perjalanan menuju ke Tristis City, hanya untuk menemui adik bungsu mereka, yang sepertinya masing-masing dari mereka memiliki rencana tersendiri di dalam misi mereka ini, di mana rencana itu dirahasiakan oleh mereka dari satu sama lain.


Mereka pun terlihat di temani oleh masing-masing pengawal yang mereka miliki, meskipun karena Francesca adalah seorang Tamer, jadi pengawal yang wanita itu bawa adalah seekor hewan, yang mungkin akan di sebut sebagai monster oleh orang lain, karena tingkat kekuatan dari makhluk tersebut yang sangat mengagumkan.


Dimana, makhluk tersebut adalah seekor Ice Dragon, yang terlihat sudah mengubah wujudnya menjadi sangat kecil, dengan Artoria sendiri membawa empat pengawal pribadi miliknya.


Untuk sekarang, mari kita abaikan hal itu terlebih dahulu, dan fokus kepada apa yang sedang kedua wanita itu bicarakan.


...


"Apa yang sedang kamu bicarakan, Little Francis? Kenapa sekarang kamu menyebut sampah itu sebagai adikmu? Apa kepala mu baru saja terbentur?" Artoria tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menanyakan hal tersebut, setelah dia mendengar apa yang saudara perempuannya ini katakan.


Lagi pula, sebelumnya, gadis itu selalu mendengar kalau wanita ini begitu membenci adik bungsu mereka itu, tapi setelah mereka keluar dari wilayah ibukota kekaisaran, entah kenapa saudara perempuannya ini malah selalu memujinya, yang benar-benar membuatnya menjadi sangat risih.


Belum lagi, hal itu benar-benar sudah sangat berbatasan sekali dengan sebuah obsesi, yang benar-benar membuatnya menjadi semakin khawatir.


Namun, jawaban yang ksatria wanita itu terima hanyalah sebuah ekspresi penuh kebingungan saja, saat wanita itu berkata; "Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku baik-baik saja, Artoria."

__ADS_1


"Dan juga, jangan memanggil Little Arch-ku dengan sebutan Sampah. Itu tidak sopan sama sekali." Lanjutnya, dengan nada penuh kemarahan.


Tentu saja, bukan hanya Artoria saja yang segera menjadi sangat bingung dengan jawaban tersebut, tapi empat pengawal yang di bawa oleh gadis itu pun sama, sama-sama menjadi sangat bingung, karena mereka semua tidak pernah menyangka akan mendapatkan jawaban yang seperti itu.


"'Little Arch-ku' katamu?" Kali ini, nada suara yang digunakan oleh Artoria seketika itu juga berubah menjadi sangat serius, yang di susul dengan keempat pengawalnya itu yang mulai menjaga jarak darinya, karena mereka semua tahu kalau itu bukanlah sebuah pertanda baik sama sekali.


Sementara itu, Francesca yang melihat hal tersebut hanya melirik saudara perempuannya saja dengan penuh kemalasan, sebelum dia kembali fokus pada sebuah foto yang dari awal perjalanan ini, selalu wanita itu pegang di tangannya.


Tentu saja, Artoria yang melihat hal itu segera menjadi sangat kesal, karena saudara perempuannya ini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat, setelah mereka keluar dari wilayah ibukota kekaisaran, seperti yang sebelumnya sudah dikatakan.


*Cih*


Pada akhirnya, Artoria hanya bisa mendecak lidahnya saja dengan penuh kekesalan, karena meskipun dirinya ingin sekali mencari tahu tentang hal tersebut, tapi karena dia tahu kalau sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukan hal itu, terutama mengingat di wilayah mana mereka saat ini berada, ksatria wanita itu hanya bisa menerimanya saja dengan penuh keengganan.


Tentu saja, Francesca yang melihat hal tersebut segera tersenyum kecil, karena... 'Akhirnya serangga menyebalkan itu bisa diam juga. Dan...' Senyum yang wanita itu miliki kemudian segera menjadi semakin bengkok, yang untungnya sih dapat di lindungi oleh sayap milik familiarnya yang terbentang secara tiba-tiba, sebelum dia melanjutkannya; 'Dan, aku akhirnya bisa memiliki adik kesayangan ku itu sendirian, tanpa perlu repot-repot mencari cara agar bisa keluar dari efek sihir dari pe*lacur sialan itu.'


.....


....


...


Di tempat lain, atau lebih tepatnya lagi, di dalam Tristis City...


*Hachiim!*

__ADS_1


¥©®®©¥


(POV MC)


Sialan, apa-apa itu tadi? Meskipun tidak ada apa-apa, tiba-tiba saja aku bersin. Ini pasti ada seseorang yang sedang membicarakan ku.


Meskipun aku mengatakan hal itu di dalam benak ku, tapi aku segera memutuskan untuk mengabaikannya saja.


"Master, apa kamu baik-baik saja? Jika kamu kurang enak badan, saya mungkin bisa membuatkan mu beberapa obat. Atau jika tidak, saya bisa memberikan mu Recovery Magic."


Aku bisa mendengar Lilith segera mengatakan hal tersebut dengan penuh rasa khawatir, setelah dia melihat ku bersin sebelumnya.


Namun, karena itu hanyalah sebuah bersin biasa, dan aku memang sedang tidak sakit, tentu saja aku akan menolaknya.


"Tidak perlu repot-repot seperti itu, Lilith. Aku baik-baik saja."


"Benarkah?"


"Ya." Aku kembali membalasnya dengan cara yang sama, sebelum aku memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan; "Lebih penting dari itu, apa kamu memiliki kabar tentang apa yang sedang terjadi di Ibukota?"


Setelah aku menanyakan hal tersebut, aku bisa melihat Lilith yang segera menjadi sangat bingung dan khawatir, di mana hal tersebut seolah-olah dia tidak ingin aku mencari tahu tentang hal itu lebih jauh lagi.


Jadi, sebagai Tuan yang baik hati dan tidak sombong, aku tentunya memutuskan untuk mengabaikannya saja untuk saat ini.


Belum lagi, aku juga sekarang perlu fokus untuk mengembangkan kota ini, plus membangun jalur transportasi antar kota yang ada di dalam wilayahku ini, sebelum aku akhirnya akan mengembangkan kota-kota yang lainnya juga hingga layak untuk di sebut sebagai sebuah kota.

__ADS_1


Ketika aku memikirkan hal tersebut, aku bisa melihat kalau Little Death pun setuju denganku, saat dia mulai memenuhi bidang penglihatan ku dengan layar notifikasi darinya, yang hanya membuatku tersenyum kecut saja, karena hal itu entah kenapa bagiku terlihat cukup lucu.


Lalu, sambil memikirkan rencana apa saja yang aku miliki untuk kota ini, di temani dengan Little Death yang terus berbicara melalui layar notifikasi yang terus muncul di depanku, aku menghabiskan sore hariku itu dengan terus melakukan hal tersebut, sampai langit akhirnya berubah sepenuhnya menjadi gelap.


__ADS_2