
(POV MC)
Menutup kembali penjelasan dari Unique Skill baruku itu, aku kemudian segera membuka penjelasan dari Blessing dan Title baruku.
\=-----=-----=-----=-----=
[Name : Luck]
[Rank : EX]
[Effect : Segala macam hal yang berhubungan dengan keberunungan akan selalu berada di pihak Anda dan mencoba untuk memenuhi seluruh keinginan Anda, karena Anda adalah inkarnasi dari keberuntungan itu sendiri]
(A/N : Mirip-mirip dengan Unique Skill Incarnation of the Luck)
\=-----=-----=-----=-----=
[Name : Irreguler]
[Description : Title yang diberikan kepada seseorang yang telah tiba ke Dunia ini tanpa bantuan ataupun persetujuan dari Dewa dan Dewi yang ada di Dunia ini]
[Effect : Memungkinkan pemiliknya untuk melewati setiap batasan yang diciptakan oleh para Dewa dan Dewi yang ada di Dunia ini dengan sangat mudah, dan meningkatkan peluang pemiliknya untuk mengacaukan ataupun keluar dari naskah (takdir) yang telah diciptakan oleh para Dewa]
\=-----=-----=-----=-----=
Melihat kedua penjelasan itu, aku sudah tidak terlalu terkejut lagi, karena Unique Skillku bisa di bilang jauh lebih parah dibandingkan kedua hal tersebut.
Selain itu, aku juga cukup senang dengan Title baru yang aku dapatkan ini, karena dengan Title tersebut, sudah bisa di bilang kalau hidupku ini akan menjadi jauh lebih menyenangkan, sebab aku yang tidak lagi perlu mengikuti naskah yang telah para Dewa itu ciptakan.
"Untuk sekarang, lebih baik aku mencoba Unique Skill [Servant] ku saja."
Meskipun sebenarnya aku masih bisa mencobanya nanti, tapi karena sebentar lagi aku harus menemui 'ayah' ku yang sangat menjijikan itu, pasti nanti akan menjadi sangat bermasalah, jika saja aku tidak memiliki seseorang yang menemaniku.
Belum lagi, setelah aku menikah dengan Saint itu, sudah bisa dipastikan kalau diskriminasi yang orang-orang itu berikan kepadaku akan menjadi jauh lebih buruk lagi.
Jadi, aku benar-benar memerlukan seseorang untuk menemaniku di sana nanti, hanya untuk mengurangi stresku saja.
Meskipun kemungkinan besar Kakak perempuanku akan membelaku sangat tinggi, tapi hal itu tidak menyenangkan sama sekali, karena biasanya, setelah hal itu terjadi, para maid yang ada di istana ini akan segera mencaciku terus-menerus, setiap kali kami bertemu.
"Huhh... Memikirkan hal itu tidak akan membawaku kemana-mana, lebih baik aku fokus pada hal yang ada di depanku saja."
Setelah menggumamkan hal itu dengan penuh keletihan, aku segera mengikuti seperti apa yang intruksi misterius, tentang bagaimana caranya menggunakan kemampuan dari Unique Skillku ini, muncul begitu saja di dalam kepalaku.
Mengulurkan tanganku ke arah depan, aku kemudian mulai melantunkan sebuah mantra; "Datanglah, wahai para Pahlawan, Penjahat, Dewa, Iblis, dan makhluk hidup lainnya..."
Sebuah lingkaran sihir besar yang terlihat sangat rumit segera muncul begitu saja di depanku, setelah kata pertama dari lantunan mantra tersebut keluar dari mulutku, di mana tidak perlu waktu lama, bagi lingkaran sihir tersebut untuk bersinar dalam warna pelangi.
"Mereka yang tercatat di dalam sejarah, mitologi, cerita rakyat, dan mitos..."
__ADS_1
Cahaya berwarna pelangi yang muncul dari lingkaran sihir itu semakin kemari, bersinar dengan semakin terang, sebelum dengan cepat hembusan angin yang cukup kencang dapat terasa keluar dari lingkaran sihir tersebut.
"Jika Anda sesuai dengan keinginan saya, dan bersedia untuk menjadi pedang saya, maka jawablah!"
Angin yang awalnya sedikit kencang, hal itu segera berubah menjadi hembusan yang semakin kencang, yang semakin kemari, hal itu berubah menjadi angin torpedo pelangi.
Ngomong-ngomong, yang sebelumnya itu adalah kalimat terakhir dari lantunan mantra ini.
Setelah aku selesai melantunkan mantra itu, angin torpedo yang berasal dari lingkaran sihir ini semakin menjadi-jadi. Hingga, setelah cahaya menyilaukan yang segera menyebarkan ke sekitar, bertepatan dengan aku yang selesai melantunkan mantraku ini, mulai memudar, sebuah suara merdu yang terdengar sangat mematikan, segera terdengar dari arah lingkaran sihir itu.
"Aku... Hijikata Toshizou. Seorang petani yang tumbuh di daerah Tama. Meskipun aku seorang Samurai Nihonzashi, aku awalnya adalah putri dari seorang petani. Tolong gunakan aku sebagai benda yang bisa digunakan."
Ketika mendengar suara feminim yang agak mematikan itu, aku segera tersentak. Karena... 'Bukannya Hijikata Toshizou itu laki-laki, ya? Tapi, kenapa...'
Namun, jawaban atas pertanyaanku itu segera muncul dihadapanku, dalam wujud dari seorang wanita muda yang terlihat mengenakan pakaian militer hitam-merah, di mana aku mungkin akan salah mengiranya sebagai seorang laki-laki, jika bukan karena pengalaman yang aku miliki dari kehidupanku yang sebelumnya, plus kata-kata yang orang itu sendiri baru katakan.
'Mungkin, karena tindakan dari orang ini, plus dia yang ketika mengenakan pakaian itu entah kenapa benar-benar terlihat seperti laki-laki... Aku akan lebih percaya kalau orang-orang sering salah paham tentang jenis kelamin dari orang ini.'
Aku hanya bisa sampai pada kesimpulan itu saja, setelah melihat penampilan dari orang yang ada di depanku ini, plus mengingat bagaimana sifat dari orang ini dalam buku catatan sejarah.
Selain itu, karena hal itu adalah penjelasan paling logis untuk saat ini, plus waktu pertemuan ku dengan 'ayah' ku yang semakin mepet, aku memutuskan untuk mempercayainya saja.
Setelah memutuskan hal itu, aku kemudian memutuskan untuk memberitahukan Toshizou tentang hal-hal yang perlu dirinya ketahui.
"Senang bertemu denganmu, Toshizou. Aku, Arch Nixice Aeternus. Dan, mohon bantuannya mulai sekarang."
"Aku juga sama. Mohon bantuannya, Arch-sama."
"Pertama-tama, perlu kamu ingat dulu, Toshizou, kalau Dunia ini itu tidak seperti Duniamu yang sebelumnya. Karena, di sini itu ada monster yang berkeliaran di mana-mana dan sesuatu hal yang di sebut dengan sihir."
Aku menjelaskan hal itu sambil menggunakan sebuah Fire Magic tingkat rendah hanya untuk mendemonstrasikan sihir kepada samurai yang ada di depanku ini.
Orang itu hanya mengangguk saja sebagai balasannya, sebelum dia berkata; "Apa itu sudah semuanya?"
"Tidak." Aku menggelengkan kepalaku dengan ringan, sebelum aku melanjutkannya dengan nada yang menjadi sangat serius; "Di Dunia ini pun ada sesuatu hal yang di sebut dengan Blessing dan Curse, di mana yang pertama adalah semacam berkah yang diberikan oleh para Dewa atau Dunia ini pada seseorang, sementara yang lainnya adalah kebalikan dari hal tersebut."
"Kemudian, ada juga yang di sebut dengan Ordinary Skill dan Unique Skill. Dimana, hal ini itu seperti semacam kemampuan unik, yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu hal di luar batas normal, tanpa mengandalkan Blessing. Namun, perlu di ingat juga, kalau hanya Unique Skill saja yang dapat menyaingi Blessing."
"Selain itu, ada juga sesuatu hal yang di sebut dengan Job Class dan Level, yang mana kedua hal itu merupakan tolak ukur utama dari seberapa kuatnya seseorang di Dunia ini. Dimana, semakin tinggi levelmu, maka akan semakin kuat juga dirimu. Meskipun terkadang level tidak akan begitu berguna, karena jika Job Class yang dimiliki oleh seseorang benar-benar sangat biasa, seperti contohnya Petani, maka tidak peduli seberapa tingginya level mereka, mereka akan tetap di anggap sebagai seseorang yang sangat lemah oleh orang lain."
"Dan, yang terakhir ada Title. Dimana, Title ini semacam gelar yang para Dewa atau Dunia berikan pada seseorang, meskipun yang pertama lebih sering daripada yang terakhir."
"Ngomong-ngomong, kamu bisa mengecek semua hal itu di layar statumu, yang mana kamu hanya perlu mengatakan 'Status' saja untuk mengaksesnya."
Setelah mengakhiri penjelasan panjang lebarku itu, aku segera bangkit dan berjalan menuju ke salah satu meja yang ada di dalam ruangan ini, di mana pada meja itu terdapat air dan alat minum, yang segera aku gunakan untuk minum, karena tenggorokanku benar-benar kering, akibat penjelasanku yang sebelumnya itu.
Ketika aku sedang minum, aku bisa melihat Toshizou yang sepertinya sedang mengecek apa yang aku katakan sebelumnya, di mana orang ini terlihat seperti mulai merenungkan sesuatu, setelah melihat layar status miliknya.
__ADS_1
Melihat hal itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir; 'Apa aku bisa melihat Status miliknya, ya? Lagi pula, akulah yang memanggilnya ke Dunia ini, seharusnya ak-'
Namun, pemikiranku itu segera terpotong di tengah jalan, setelah sebuah layar hologram biru tiba-tiba muncul di depanku, yang setelah aku lihat dengan lebih seksama, sepertinya itu adalah layar status milik Toshizou.
Aku segera tersenyum kecil, setelah suatu pemahaman tertentu muncul di dalam benak ku, sebelum aku dengan cepat memutuskan untuk membaca layar tersebut.
\=-----=-----=-----=-----=
{Status}
[Name : Hijikata Toshizou]
[Job Class : Devil Samurai]
[Level : 1]
[Race : Human]
[Age : Unknown]
[Skill :]
(Unique Skill : Demon of the Battlefield, Fierce Journey)
(Ordinary Skill : Berserker {A}, Martial Arts {B+}, Pharmacist {C}, Samurai {A++}, Tactician {B+})
[Blessing : - ]
[Curse : - ]
[Title : Arch's First Subordinate, Deputy Demon Commander of the Shinsengumi, Irreguler]
[Loyalty : 80% (Note : Jika mencapai 0%, maka ada kemungkinan untuk berkhianat)]
\=-----=-----=-----=-----=
Aku tidak tahu harus berkata apa, setelah melihat layar status milik Toshizou. Karena, meskipun terlihat agak lemah, mengingat dia yang tidak memiliki Blessing sama sekali dan hanya memiliki sedikit Ordinary Skill, tapi orang ini memiliki dua buah Unique Skill, yang artinya daya tempurnya tidak perlu diragukan lagi.
'Meski begitu, apa maksud dari "Akan mengkhianati, jika tingkat loyalitas berada di nol ke bawah"?'
Meskipun aku sudah tahu jawaban atas hal tersebut, terutama setelah melihat deskripsi dari Unique Skillku yang ini, tapi entah kenapa aku hanya ingin melakukannya saja.
Namun, hal itu segera menghilang dari dalam kepalaku, setelah terdengar ada sebuah suara langkah kaki yang berasal dari arah pintu masuk.
'Cih... Kita kehabisan waktu, ya.'
Aku hanya bisa memikirkan seorang pelayan acak yang menjemputku untuk pertemuan itu saja, setelah mendengar langkah kaki itu.
__ADS_1
"Baiklah, Toshizou. Untuk sekarang, jika kamu memiliki sebuah pertanyaan, lebih baik kamu simpan pertanyaan itu untuk nanti saja. Karena, sepertinya aku harus segera pergi menemui Kaisar dan beberapa orang. Jika kamu ingin ikut, maka ayo pergi."
Aku tidak menerima jawaban apapun darinya, kecuali wanita itu yang terlihat mulai berjalan mengikutiku di belakangku, saat tangannya mulai mengetuk-ngetuk sebuah senapan yang tergantung di pinggangnya.