Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard

Glaceis Archon: Ruler Of Blizzard
Chapter 16 : Proyek Sains Yang Terus Berlanjut & Kekacauan


__ADS_3

(POV MC)


"Jadi, menurutmu lebih baik jika aku fokus pada bahan pangan dulu ketimbang pembangunan jalur transportasi menuju ke kota lain, gitu?" Aku bertanya dengan penuh keseriusan kepada Tesla, yang orang itu hanya balas dengan anggukkan ringan saja.


"Ya, itu benar sekali. Karena, sementara hal itu dapat dilakukan kapan saja, tapi kelaparan perlu sesegera mungkin diatasi. Terlebih lagi..." Mata milik Tesla terlihat mulai menatap ke arah seseorang, "... Dari apa yang aku lihat, mereka semua sepertinya sangat memuja Anda, sampai berbatasan dengan kegilaan."


"Selain itu, mereka juga bahkan dengan rela memaksakan diri mereka sendiri, tanpa peduli sedikit pun terhadap kesehatan mereka, di tambah dengan fakta bahwa kita sangat kekurangan bahan makanan, menurutku pilihan tersebut harus dijadikan sebagai prioritas utama."


Mendengar hal itu, aku hanya bisa membalasnya dengan anggukan ringan saja, karena aku memang setuju dengan argumennya itu, mengingat betapa fanatiknya orang-orang ini.


Buktinya, lihatlah apa yang sedang pria ini lihat? Di sana, terlihat ada seseorang yang sangat memaksakan dirinya, meskipun dia terlihat sangat kelelahan dan begitu lapar, tapi orang itu masih terus melanjutkan pekerjaannya untuk membangun menara pembangkit listrik ini.


Aku yang melihat hal itu tentunya tidak tinggal diam, aku segera mengaktifkan Recovery Magic milik ku, untuk memilihkan kesehatan dan stamina mereka, tapi mengingat aku yang tidak begitu berbakat dalam hal tersebut, jadi hal itu tidak banyak membantu juga.


Namun, entah kenapa orang-orang ini malah tampak seperti baru saja menerima Rahmat dari Tuhan, yang mana hal itu cukup membuatku ngeri, karena aku merasa kalau pengabdian mereka ini sudah agak kelewat batas, malah mungkin sudah sangat kelewat sekali.


"Meski begitu, kita tidak bisa memulai proyek tersebut tanpa adanya tanah yang subur." Aku kembali menatap Tesla, sebelum lanjut berbicara dengan nada yang agak frustasi; "Jadi, karena Rosaria masih belum kembali, kita hanya bisa melakukan hal ini saja sebagai pilihan terakhir."


"Memangnya Saint itu mengambil tanahnya dari mana?" Namun, melihat kalau pertanyaannya itu terasa agak aneh, Tesla segera memperbaikinya; "Tidak, maksudku itu; Memang wilayah Aleppo ini berada di mana? Apa hal itu berada jauh dari sini?"


Aku segera membalasnya dengan anggukan ringan saja, sebelum aku berkata; "Ya, tempat itu bisa di bilang agak terlalu jauh sih."


Setelah aku mengatakan hal itu, aku segera menggunakan Unique Skill [Astrology] ku ini untuk membuat denah dari benua ini.


Di sana, aku memberikan nama-nama dari beberapa hal yang penting, seperti nama wilayah mana yang menjadi milik siapa, dan nama dari wilayah ini plus wilayah Aleppo itu, di mana sementara wilayah ini terletak di Barat Daya Kekaisaran ini, sementara Aleppo sendiri berada di bagian Barat Laut dari Holy Kingdom of Agios.


Ngomong-ngomong, Empire of Aeternus ini menduduki wilayah yang ada di benua ini dari ujung Tenggaranya hingga ke sisi lain dari sisi Timur dari Benua ini, meskipun tidak sampai ke bagian baratnya juga sih, di mana Holy Kingdom of Agios ini sendiri menduduki seluruh wilayah Barat dari Benua ini.


Jadi, bisa di bilang, kalau mengikuti apa yang peta yang waktu kecil aku lihat, maka seharusnya jarak antara kota ini dengan wilayah milik Rosaria itu mungkin sekitar daerah Jawa Barat ke Jawa Timur, meskipun aku masih agak kurang yakin dengan hal itu, tapi itu adalah penjelasan paling logis untuk saat ini.

__ADS_1


Setelah menjelaskan seluruh hal tersebut, Tesla tampak segera mengangguk, pada saat wajahnya itu terlihat mulai tampak memaklumi hal ini.


Oh ya, ngomong-ngomong, saat ini sudah satu hari berlalu, sejak kepergian dari Rosaria untuk mengambil beberapa tanah yang ada di wilayahnya itu dan membawanya ke sini, di mana jika perkiraan ku tidak salah, maka wanita itu akan kembali sekitar enam hari dari sekarang, itu juga kalau tanah yang dia bawa tidak terlalu banyak sih.


Akan tetapi, mengingat bagaimana kepribadiannya itu, yahh... Jujur aja, aku kurang yakin dengan hal yang sebelumnya itu. Malahan, aku lebih yakin kalau dia akan tiba di kota ini dengan hanya waktu beberapa hari saja, dengan membawa lebih dari tiga gerbong yang berisikan penuh tanah dari wilayahnya.


Yup, aku sangat yakin, kalau dia pasti akan melakukan hal tersebut.


Kemudian, kami melanjutkan pembicaraan kami.


Kali ini, kami membahas perihal tentang menara pembangkit listrik yang ada di depan kami ini.


Menara tersebut sekarang sudah berada di kondisi 20%, di mana dalam sudut pandang ku, hal tersebut sudah sangat luar biasa cepat, mengingat baru kemarin mereka memulai pekerjaan ini.


Aku tidak berusaha menghentikan orang-orang ini untuk terus bekerja hingga memaksakan tubuh mereka, karena asalkan mereka tidak mati, maka aku tidak akan peduli sama sekali, mengingat aku yang hanya memerlukan mereka untuk membangun kota ini kembali.


Meskipun pemikiran ku itu agak sedikit terlalu gimana gitu, tapi aku hanya tidak ingin terlalu peduli pada orang-orang fanatik gila ini saja, atau aku mungkin malah akan melupakan balas dendam ku, akibat orang-orang ini.


Namun, aku tidak akan menjadi seperti itu, karena aku sudah memutuskan untuk melakukan balas dendam tersebut, dan aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menghentikan ku.


"Master, apa kamu mendengarkan ku?"


"E-Apa? Maaf, tadi aku sedang melamun." Aku segera membalasnya dengan agak linglung, karena aku yang begitu fokus pada pikiranku, sampai-sampai aku lupa, kalau aku sedang berbicara dengan Tesla.


Tesla terlihat hanya menggelengkan kepalanya dengan agak frustasi saja, "Jujur saja, Master, meskipun aku memang tidak tahu masalah apa yang kamu miliki, tapi menurutku, lebih baik kamu mencari seseorang untuk membantumu melepaskannya. Karena, hal itu lebih baik dari pada harus di pendam sendiri."


Aku hanya mengangguk saja untuk membalas perkataan dari Tesla, karena aku yang tidak ingin memperpanjang hal ini, di mana aku kemudian memutuskan untuk bertanya perihal hal apa yang sebelumnya pria itu katakan kepadaku.


"Jadi, apa yang tadi kamu bicarakan kepadaku?"

__ADS_1


Setelah mendengar pertanyaanku itu, mata milik Tesla segera berbinar, sebelum dia tersenyum dengan sangat lebar dan berkata dengan penuh kebanggaan.


"Hahahaha! Aku senang kamu bertanya tentang hal itu, Master! Karena, biar aku perkenalkan sekali lagi mahakarya indahku ini! Namanya itu 'Tesla Sun Tower'! Atau yang bisa di singkat juga sebagai TST!"


Mendengar hal itu, wajahku seketika itu juga segera menjadi sangat datar, karena... "Mahakarya mu? Bukankah ide ini awalnya adalah milik ku?"


"Tapi akulah yang menyempurnakannya! Jadi, ini memang adalah mahakarya ku!" Tesla segera membalasnya dengan penuh keangkuhan, ketika dia menepuk dadanya sendiri dengan penuh kebanggaan.


Aku yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafasku saja dengan letih, karena aku tidak ingin melanjutkan hal ini lebih jauh lagi, apalagi dengan tipe orang sepertinya ini.


Jadi, aku memutuskan untuk mengubah nama dari kedua menara ini nanti, tentunya secara diam-diam, di mana setelah dia menyadari hal itu, aku baru akan menjelaskan maksud dari hal tersebut dengan beberapa hal acak di dalamnya, hanya untuk meyakinkannya saja, yang semoga saja berhasil.


Setelah itu, kami berdua terus melanjutkan pembicaraan kami soal proyek-proyek yang kami miliki, hingga aku memutuskan untuk pergi dari sana, setelah Lilith memberi tahuku kalau sudah waktunya minum teh soreku seperti biasanya.


Dengan begitu, aku mulai menikmati kedamaian yang ada di kota ini dengan secangkir teh yang di buatkan oleh Lilith untuk ku, sambil memandangi kota yang ada di depanku dengan senyum kecil yang tumbuh di wajahku.


¥©®®©¥


(POV Orang Ketiga)


Sementara Tristis City mulai mengalami masa yang sangat damai, di sisi lain, hal itu tidak dapat dikatakan untuk Roma City, malahan kota tersebut mengalami hal yang sebaliknya.


Terlihat, kalau kota yang mulanya damai itu, kini kota tersebut mengalami kerusakan yang sangat parah, sampai-sampai setengah dari kota itu pun hancur, di mana banyak sekali mayat yang bergeletakan di bagian kota yang hancur itu.


Orang-orang yang selamat pun mulai mengungsi ke kota terdekat, dengan pengecualian para Pangeran yang memutuskan untuk tetap tinggal dan melawan para monster itu menggunakan pasukan yang mereka miliki.


Namun, karena sedikitnya informasi yang mereka miliki tentang monster itu, hal tersebut membuat bencana itu menjadi lebih buruk lagi.


Banyak sekali tentara yang berguguran, sampai-sampai putri dari Archduke Nostradamus yang merupakan seorang Kapten Divisi Utama dari Ksatria Kekaisaran pun, dia harus gugur dalam pertarungan itu tanpa menyusahkan jejak apapun, setelah dikatakan menyelamatkan sang Putra Mahkota, Pangeran Kedua dari Empire of Aeternus - William Drake Aeternus, dari di bunuh oleh salah satu monster tersebut.

__ADS_1


Untungnya itu, monster-monster itu entah kenapa tiba-tiba saja hancur menjadi berkeping-keping, tepat setelah tengah hari di hari kedua kemunculannya itu, di mana karena hal itu terjadi bertepatan dengan sang Putra Mahkota yang maju dan melakukan tebasan acak kepada monster tersebut, hal itu membuat William di anggap sebagai seseorang yang berhasil membunuhnya, hingga menguatkannya dalam posisi pewaris tahta selanjutnya.


Tentu saja, hal-hal itu masih tidak akan sampai datang ke telinga Arch dalam waktu dekat ini, di mana ketika pria itu tahu kejadian tersebut, hal itu akan menjadi lonceng awal dari di mulainya balas dendam yang dirinya akan lakukan.


__ADS_2