
★★★
Aku dan Endopun sampai ketempat yang diberi titik [Share location]nya. Kami pun berjalan memasuki halaman rumahnya. Lalu kami menekan bel rumah tersebut. Kemudian tak lama setelah itu teman pamanku keluar. Dan membukakan pintu rumahnya untuk kami.
“Silahkan masuk, pamanmu ada di lantai ke-2”
“oh ya namamu siapa? namaku ALBERT Panggil saja AL”
“Namaku Ferdin dan ini temanku Endo, kak”
“Salam kenal, kak”
“Oh namamu Ferdin, ya. Pamanmu sering sekali bercerita tentang dirimu kepada ku”
“(😑)”
“Kenapa? gak suka kah Kalau aku membicarakan hal itu, Fer. maaf ya”
Aku, Endo, beserta kak AL pun. Mulai naik ke lantai-2 dengan mengikuti AL pergi ke kamar yang ditempati oleh pamanku.
“Ini kamarnya, Fer. Apa kamu siap bertemu dengan pamanmu?”
“Aku siap. Lagian, dia juga pamanku aku harus selalu ada disampingnya dan menghiburnya. Saat dia sedih”
“Ya,baiklah. Kalau ketetapan hatimu sudah mantabs”
“Permisi paman, ini aku Ferdin. Aku masuk ya. Aku datang menemui paman. Paman pasti sedih Karna rumah satu-satunya yang kita miliki hancur”
“Iya, Rumah itu sangat berharga beserta kenang-kenangannya yang berada didalamnya. Rumah itu banyak membawa kenangan ibumu yang tak lain adalah kakakku”
“Gak apa-apa, paman. Kita bisa memulai dari awal. Lagian kasian sama ibu. Kalo tau paman sedih hanya karna rumah”
“Baiklah, kalau begitu paman akan berjuang. Selain itu, Paman harus minta maaf. Karna, tak bisa melindungimu saat diserang oleh organisasi jahat”
“Kok, paman tau aku pernah diserang oleh organisasi jahat”
“Ya, karna aku mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan. Tapi dalam lingkup orang yang aku kenal. Ada satu hal lagi yang membuat aku tidak bisa melihat masa depan dengan kemampuaanku ini yaitu aku tidak bisa melihat masa depanmu. Dikarnakan Darah leluhur pertama yang berada didalqm tubuhmu. Tapi sebagai gantinya karna tak bisa melihat masa depan. Maka kemampuan ini memberikan kompensasi yaitu memberi peringatan bahaya kepada pengguna. Karna tak bisa menggunakan secara normal pada Ferdin”
__ADS_1
“Ohh!! paman punya kekuataan untuk melihat masa depan. Kira-kira, kapan aku dan paman dapat jatah nikah dan pasangan kita masing-masing?”
“gak boleh, jodoh sudah kita miliki. Tapi hanya tinggal kita saja yang perlu peka aja. Gak usah lihat masa depanpun masih bisa”
“Kalo gitu,kenapa paman masih belum punya pasangan sama sekali?Kenapa? Kenapa?”
“Ahh~ itu karna, aku masih ingin menikmati masa mudaku. ya, itu alasanku. Kenapa belum punya pasangan sama sekali untuk sekarang”
“Benar kah atau gak ada satupun cewek yang suka sama paman”
tiba-tiba terdengar seperti suara sesuatu benda tajam yang menusuk sesuatu.
[jlebb jlebb jlebb]
“Paman, apa kau dengar suara itu? Suara itu, seperti seseorang yang kena pisau lempar”
“Aku mendengarnya juga kok bunyinya maupun perasaan ditusuk sama pisau(😞)”
“Ehh~ jangan bilang bunyi itu dari paman(😨). kok bisa?”
“Ya, namanya juga hati yang terluka. Karna dikataiin sama keponakannya sendiri”
“gak apa-apa, lagian itu kenyataan”
“(ahh~ paman tambah drop lagi semangatnya. Padahal tadi sudah mulai pulih. Ahh~ aku bodoh!! aku bodoh!! Kenapa aku bilang seperti itu pada paman)”
“Fer, mulutmu benar-benar tajam seperti ibumu. Ibumu itu baik. Tapi kalo dalam hal bicara lidahnya lebih tajam dibandingkan siapapun. Bahkan ayahmu aja takut sama ibumu”
“Tapi, untuk sekarang kesampingkan hal lain. aku sekarang mau lihat seberapa jauh Perkembangan Kekuataanmu itu, Perlihatkan padaku?”
“Ya, Paman”
Aku mulai mengeluarkan kekuataan [Fire Dragon Final Form]ku. Agar paman bisa melihat sejauh mana perkembanganku”
[Wuss..]
“Kamu ternyata sudah sampai wujud ini. Tapi kenapa gak ada ekor ataupun tanduk padamu saat sudah pake form itu. Padahal itu identitas sebagai klan dewa naga”
__ADS_1
“(😟)Identitas apanya? kalo bertarung malah akan menjadi kelemahan. Kalau sayap dan ekor ditangkap lalu dipatahkan gimana? pasti sakitlah. Sehingga aku menghilangkannya. Karna bakalan nyusahiin kalo pake gituan”
“Ha~~Apa boleh buat. Kalau kamu sudah berkata begitu. Aku takkan menentangnya. Lagian itu semuanya terserah pada dirimu sendiri. oh ya, Fer. Apa kamu sekarang sudah pakai senjata mu atau mengeluarkan senjatamu lewat kekuataanmu”
“Ah belum. Jadi gimana caranya agar aku bisa mengeluarkan senjataku, paman?”
“Ya tinggal niatkan, salurkan energi untuk mengeluarkan senjata yang ada didirimu. gampangkan?”
“Gampang menurutmu, susah bagiku(😒)”
“Dicoba aja dulu. Siapa tau kamu berhasil dalam satu kali coba”
“Baiklah”
Aku pun mulai mencoba mengeluarkan senjataku. Hasilnya pun sangat baik. Aku mengeluarkannya saat pertama kali mencobanya.
“I-Inikah senjataku, Besar banget, apa gak bisa dikecilkan lagi ya?”
“(Sudah kuduga kalo pedang di mode Fire Dragon bisa sebesar itu. Karna mode itu berfokus pada kekuataan, bukan kecepatan jadi tidak heran kalau pedang itu memiliki ukuran yang besar sama seperti Greatsword)”
“Kamu mau beri nama apa pedangmu ini, Fer?”
“Jadi harus beri nama pedang juga?”
“tentu, harus diberi nama kalau gak ya. Kamu juga yang susah harus melakukan hal yang tadi. Jika mau mengeluarkan senjatamu lagi”
“Baiklah namamu [Red Crimson]”
Sementara itu diruang tamu.
Endo menunggu Ferdin sambil menatap segelas teh yang telah disajikan oleh kak Albert. Sedangkan kak Albert lagi memasak makanan untuk semuanya.
“Lama sekali Ferdin keluarnya. mumpung disajiin teh. aku minum aja ah”
[Slurp]
“Sampe kapan aku harus menunggu ini
__ADS_1
[Slurp]
★★★