
Hari berlalu begitu cepat, sudah hampir satu bulan Alexa berdiam diri disebuah pulau milik keluarga Anggara, ia begitu menikmati waktu-waktunya dengan Arman.
Awalnya Alexa menolak tawaran dari Leo untuk pergi kepulau pribadi keluarga Leo, tapi lama-lama Alexa mengalah karena alasan keamanan akan lebih terjamin jika ia pergi ke pulau pribadi.
Lain halnya dengan Leo yang sudah hampir satu bulan ini dibuat kelabakan dengan pekerjaan yang terus saja menumpuk, karena kini kantor dan restoran Alexa, Leo lah yang menghandle untuk sementara waktu.
"Lama-lama aku bisa gila kalau kayak gini terus" gerutu Leo dengan tangan mengusap-usap wajahnya.
Tok.. Tok..
"Masuk" sahut Leo begitu mendengar ada yang mengetuk pintu.
"Ada apa tuan, kenapa memanggilku?" tanya Liam kepada Leo, tidak lupa dengan wajah kucel nya karena sudah hampir satu bulan ini Liam tidak pulang ke apartemennya, hal itu karena Leo selalu memberikan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Sepertinya aku perlu merekrut anggota baru untuk menghandle semua ini, terlalu banyak pekerjaan sampai-sampai aku tidak bisa hanya untuk sekedar menelpon Alexa" gerutunya kesal karena selama Alexa pergi hanya satu kali mereka melakukan video call itupun tidak lama.
"Baik tuan", jawab Liam patuh meskipun sebenarnya dia teramat sangat ingin berargumen dengan tuannya itu karena raganya kini sudah teramat sangat lelah.
"Secepatnya!", imbuh Leo ketika melihat Liam keluar dari ruangannya.
"Siap tuan" jawab Liam dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Leo.
"Is.. tuan ku itu benar-benar jahat, bagaimana bisa dia tidak memikirkan nasibku sama sekali, aku sudah pakai baju ini selama hampir satu minggu dan kantung mataku ini", gerutunya seraya berkaca di depan cermin dan meraba-raba kantung matanya.
Tidak menuggu lama ke esokan harinya sudah banyak orang yang berbaris menuggu nama mereka dipanggil untuk melakukan wawancara.
Hal itu karena perusahaan Leo sangat terkenal sehingga banyak orang berlomba-lomba untuk bekerja di sana.
"Tuan, ini daftar orang-orang yang akan melakukan wawancara hari ini" ucap Liam seraya memberikan berkas-berkas informasi orang yang melamar pekerjaan dikantornya.
"Kau taruh saja di atas meja" jawab Leo lalu memutar kursi yang tadinya membelakangi Liam.
"Tuan kau!" teriak Liam terkejut ketika melihat wajah tuannya yang sudah seperti hantu, dan ternyata tuannya itu sedang memakai masker wajah.
"Aku sedang ingin beristirahat, sepuluh menit lagi aku akan memeriksanya dan hari ini juga mereka akan bekerja" terang Leo seraya menunjuk ke tumpukan berkas yang Liam bawa tadi.
"Tuan, bagaimana bisa kau seperti ini" gerutu Liam merasa kesal dengan tuannya itu.
"Apa maksudmu?".
"Lihat wajahku ini sudah lusuh seperti gembel, bagaimana bisa tuan melakukan perawatan sedangkan aku bekerja tidak ada hentinya" karena sudah merasa sangat kesal, Liam akhirnya mengutarakan isi hati yang selama ini ia pendam.
"Sudah selesaikan dulu pekerjaanmu, setelah ini aku akan memberimu cuti selama satu hari" terang Leo.
"Tidak aku akan libur selama satu Minggu".
"Beraninya kau menentukan waktu libur mu sendiri!" bentak Leo, mendengar itu nyali Liam seketika langsung menciut ia hanya mampu berdiam diri sembari terus menundukkan kepala.
"Baiklah aku memberimu waktu lima hari untuk berlibur".
__ADS_1
"Benarkah, tuan?" Liam begitu antusias ketika mendengar penuturan Leo.
"Ya, sekarang pergilah urus pekerjaan mu, semakin cepat selesai maka semakin cepat kau bisa pergi berlibur" imbuh Leo lagi.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu" ucap Liam, lalu keluar dari ruangan Leo.
....
Lama memeriksa data-data para pelamar akhirnya Leo menemukan orang yang benar-benar pantas untuk bekerja sama dengannya.
Kring..
Telpon berdering nyaring membuat Liam tersentak kaget, dengan cepat dia menyambar telpon yang ada di mejanya, ia tahu betul siapa si penelepon itu.
"Ada apa tuan?" suara Liam terdengar begitu lemas mungkin efek kurang istirahat.
"Ada apa dengan suaramu?" tanya Leo, dengan sedikit mengerutkan kening ketika mendengar suara Liam yang terdengar seperti orang sakit.
"Aku tidak apa-apa tuan" jawab Liam dengan tangan memijat kepala.
"Kalau begitu kemari lah, cepat" pinta Leo lalu mematikan telpon tanpa mendengar jawaban dari Liam.
Karena sudah hafal dengan sifat tuannya Liam dengan segera datang keruangan Leo.
"Ada apa tuan?", tanya Liam begitu sampai di ruangan tuannya, dan dengan nafas terengah-engah karena lift yang biasanya digunakan mengalami kemacetan sehingga mau tidak mau Liam harus berjalan menaiki tangga.
Ruangan Leo dan Liam hanya berbeda satu lantai namun jarak lift dan juga tangga darurat cuku jauh dari pintu ruangan Leo, dan tuannya itu sangat tidak suka menunggu sehingga Liam harus cepat ketika sudah mendapatkan Perintah dari tuannya.
"Tuan, aku pikir kalau aku ikut lomba lari maraton aku yang akan menang".
"Ikutlah kalau begitu, aku akan mensponsorinya" jawab leo dengan tampang cueknya.
"Tuan aku ini sedang bercanda!, apa kau tidak ingin tertawa?" keluhannya karena tuannya ini sangat sulit kalau untuk urusan bercanda.
"Ah.. benarkah, aku pikir kau benar-benar ingin ikut lomba lari maraton".
"Kalau begitu ada hal penting apa tuan?" tanya Liam dengan wajah ditekuk karena kesal dengan tuannya itu.
"Hampir saja lupa, kau urus ini dan minta mereka bekerja sekarang juga, aku sudah muak melihat huruf-huruf dan juga angka-angka ini" titah Leo bersamaan dengan tangannya yang memberikan selembar kertas berisikan nama-nama calon rekan kerjanya.
"Baik tuan" jawabnya lalu pergi meninggalkan ruangan.
......
Keesokan harinya Leo yang sedang berdiri di balkon apartemennya sembari menikmati udara segar di pagi hari tiba-tiba mendapat telpon dari Liam , yang mengatakan bahwa semalam klan Darkness atau organisasi yang dipimpin Arya Gunawan datang menyerang ke basecamp klan Ostra atau organisasi yang saat ini masih dipimpin oleh ayah Leo yaitu Bram.
Mendengar itu Leo segera pergi ke basecampnya untuk mengecek keadaan para anggotanya, begitu sampai ternyata ayah Leo sudah lebih dulu berada di sana.
"Apa yang terjadi pa?" tanya Leo ketika melihat beberapa anggotanya terluka ringan, parah dan juga ada yang mati, genangan darah dan bau anyir tercium dimana-mana mereka yang sudah terbiasa dengan itu tidak akan terganggu.
__ADS_1
"Seperti dugaan ku, Alexa berhasil memenangkan tuntutan dipersidangan, dimana hampir setengah kekayaan keluarga Gunawan dirampas oleh Alexa" tutur Bram dengan sorot mata tajamnya.
"Jadi mereka sudah tahu kalau aku akan menikahi Alexa!, karena itu mereka menyerang kita, baiklah jika itu yang mereka inginkan" sorot mata Leo tidak kalah tajam dari ayahnya.
Liam yang sedari tadi berada di samping Leo hanya bisa menundukkan pandangannya karena hal yang sudah lama tidak ia lihat akhirnya dia menyaksikannya lagi.
Sudah hampir lima tahun Leo menyembunyikan aura aslinya kini sepertinya dia akan kembali menampakan nya, terlebih lagi jika ini menyangkut hal tentang Alexa maka Leo akan selalu siap menjadi garda terdepan untuk melindunginya.
"Apa rencana mu?" tanya Bram begitu melihat seringai jahat muncul lagi diwajah anaknya itu.
"Tentu aku akan membalasnya, tapi setelah aku menikah dengan Alexa dan sah menjadi ketua klan ini" jelas Leo .
"Baiklah untuk saat ini biarkan ayah yang mengurusnya".
......
Mobil Ambulance datang tidak lama beberapa dokter dan juga suster turun dari sana dan segera memeriksa orang-orang yang terluka.
Dokter yang dipanggil bukanlah dokter biasa melainkan dokter khusus pasien terluka karena perang, dan untuk rumah sakit yang pernah merawat Alexa itu adalah milik keluarga Leo namun dirahasiakan dari publik .
"Kapan papa datang?" tanya Leo, dia merasa heran karena ayahnya ini tidak memberi kabar apapun kepadanya.
"Sekitar satu Minggu yang lalu, setelah tahu bahwa Alexa berhasil mendapatkan hampir setengah dari kekayaan keluarga Gunawan, papa langsung kesini, sebenarnya papa sudah tahu kalau hal ini akan terjadi", jelasnya.
"Lalu mengapa tidak memberi tahuku kalau papa sudah ada disini selama satu Minggu?" .
"Aku sudah memberi tahu Liam", tuturnya lalu menunjuk kearah Liam.
Mendengar itu Liam baru ingat kalau ayah dari tuannya itu pernah memberi pesan bahwa beliau sedang berada di negara ini.
"Maaf tuan, saya lupa" jelas Liam begitu mengingat pesan dari Bram.
"Kau ini!!" teriak marah Leo dengan kepalan tangan yang sudah akan melayang ke wajah Liam.
"Ampun tuan, selama hampir satu bulan ini kita sangat sibuk dikantor itu membuat saya lupa dengan pesan dari tuan besar", imbuhnya cepat Karena takut dengan tinjuan Leo.
Liam ingat betul dengan kejadian dimana Leo sangat murka saat itu ketika dirinya tidak berhasil menyelamatkan seorang gadis dan karena murka seorang Leo membuat Liam harus berada di rumah sakit selama satu Minggu.
Hal itu yang membuat Liam sangat takut ketika melihat tuannya itu marah.
"Aku tidak mau tahu permohonan cuti mu aku batalkan, itu hukumanmu karena sudah membuat kesalahan" jelas Leo dengan sorot mata tajamnya.
"Iya tuan, saya tidak ingin cuti asalkan tuan tidak memukulku" terang Liam dengan kaki gemetar.
"Lalu kenapa tidak ada yang memberi tahu ku semalam kalau basecamp diserang?" tanya Leo kepada Liam dan juga Bram.
"Tuan besar melarang ku tuan" jawab Liam lirih.
"Aku sengaja meminta Liam untuk tidak memberi tahu mu karena ini belum waktunya mereka melihat murkamu" jelas Bram lalu menepuk pundak Leo dan berlalu pergi meninggalkan basecamp mengunakan mobilnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...