
Mobil yang ditumpangi Alexa dan Arman kini melewati pintu gerbang yang sangat tinggi.
Alexa dan Arman pergi ke mansion milik keluarga Anggara, terlihat jelas kekaguman Arman pada hamparan rumput dan juga pohon yang menjulang tinggi.
"Ma, apa kita akan tinggal disini?" tanya Arman dengan antusiasnya.
"Rencananya begitu sayang" jawab Alexa dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Wah sepertinya akan asik Ma" celetuk Arman.
Alexa hanya tersenyum melihat tingkah Arman yang sangat mengemaskan itu, meskipun usianya masih lima tahun tapi dia sudah sangat pandai dalam berbicara dan juga perhitungan hal itu membuat Alexa sangat bangga.
Setelah menyusuri hamparan rumput dan pepohonan akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai didepan sebuah bangunan tinggi menjulang dan juga sangat luas .
Alexa dan Arman turun dari mobil dan di sambut beberapa pengawal dan juga neni-neni cantik yang sudah berbaris rapi.
Leo berdiri didepan pintu masuk mansion menuggu kedatangan Alexa dan juga Arman, Leo sangat senang begitu melihat orang yang sedari tadi ditunggu akhirnya datang juga segera dia menghampiri Alexa "Maaf tidak menjemputmu" tutur Leo menyesal.
"Tidak masalah" terang Alexa dengan memulas senyum manisnya.
"Kalau begitu ayo kita masuk" ajak Leo seraya mengendong Arman dan tidak lupa ia juga mengandeng tangan Alexa dengan erat, Alexa hanya bisa menurut entah kemana Leo akan membawanya.
"Aku akan mengajakmu berkeliling untuk kamar kamu bisa pilih kamar mana yang kamu suka nanti untuk masalah dekorasi bisa diatur para Neni" jelas Leo dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya ia begitu senang ketika bisa menikmati waktu bersama dengan Alexa.
"Aku ingin kamar yang ada dilantai atas" pinta Alexa dengan tangan yang menunjuk kelantai dua bangunan itu.
Mansion keluarga Anggara memang hanya berlantaikan dua tapi bisa dipastikan bangunannya sangatlah luas.
"Baiklah aku akan minta Neni-neni untuk mempersiapkannya" terang Leo seraya menjentik-jentikkan jarinnya tidak berselang lama setelah itu beberapa pelayan datang.
"Kalian siapkan kamar yang sebelah sana untukku dan calon istriku ini" titahnya pada pelayan yang sedari tadi sudah siap untuk diberikan perintah oleh tuannya.
"Baik tuan" jawab para pelayan patuh.
Mata Alexa langsung melotot ketika mendengar penuturan Leo, ingin rasanya dia protes namun ia urungkan niatnya mengingat ada Arman yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Lalu Arman bagaimana?" tanya Alexa dengan senyum yang dipaksakan karena belum bisa memberi pelajaran kepada Leo karena sudah berbicara sembarangan.
"Aku sudah menyiapkan kamar untuk anakku ini" ujarnya lalu berjalan menuju ke salah satu kamar dilantai bawah .
Alexa mau tidak mau tetap mengikuti Leo seraya terus saja menggerutu "Dasar laki-laki gila".
__ADS_1
Begitu masuk kedalam kamar Arman langsung turun dari gendongan Leo lalu berlari menuju tempat bermain yang memang sudah disediakan oleh Leo.
Didalam kamar itu sudah Leo berikan fasilitas lengkap mulai dari ruang bermain dan juga belajar sudah dipersiapkan semuanya.
"Apa kamu suka nak?" tanya Leo seraya membelai-belai kepala Arman.
"Aku suka Pa" celetuk Arman senang hal itu sangat terlihat jelas di wajahnya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.
"Kamu lihat bukan, anakku ini sangat menyukai kamar yang sudah aku desain khusus untuknya" ujar Leo bermaksud pamer kepada Alexa.
"Bukankah ini terlalu luas untuk satu anak kecil saja?" tanya Alexa keheranan karena melihat fasilitas yang ada dikamar ini.
"Ini belum ada apa-apanya dengan kamar kita nanti" jelas Leo seraya mengedipkan matanya kepada Alexa.
"Arman.. sekarang harus mengucapkan apa nak?" tanya Alexa bermaksud mengajari Arman .
"Terimakasih papa" ucap Arman lalu berlari memeluk Leo dengan erat, Alexa sangat senang karena bisa melihat pemandangan yang sudah lama ia impikan tidak terasa air matanya menetes dengan cepat ia mengusapnya karena tidak ingin merusak suasana yang sangat hangat ini.
Andai saja Hendra mau menerima Arman mungkin Alexa akan berpikir dua kali untuk bercerai dengannya.
"Arman akan tidur disini ya, mama dan papa akan tidur di atas kalau ada apa-apa panggil saja neni-neni mereka pasti akan membantumu, Arman paham?" tanya Leo.
"Kalau begitu mama dan papa akan pergi ke kamar atas, nggak papa kan?".
"Oke papa" jawab Arman patuh.
Leo segera menarik tangan Alexa setelah mendengar jawaban dari Arman.
"Kita mau kemana?" tanya Alexa karena mereka kini sudah berjalan melewati kamar yang Alexa sudah pilih tadi.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu" terang Leo tanpa menghentikan langkahnya.
Begitu sampai dikamar paling ujung Alexa dikejutkan dengan isi ruangan yang berisikan senjata, atau lebih tepatnya ruangan itu adalah salah satu gudang senjata yang klan Ostra miliki.
"Ini.." belum juga selesai bicara Leo dengan cepat memotong ucapan Alexa.
"Aku tahu kamu pasti akan menyukainya" ujarnya bangga.
"Ya.. aku memang menyukainya, tapi apa ini tidak berbahaya? masalahnya disini akan ada Arman bagaimana kalau nanti Arman akan masuk keruangan ini dan memainkan senjata-senjata ini" jelas Alexa khawatir.
"Ruangan ini hanya bisa kita akses dengan sidik jari orang-orang yang sudah terverifikasi saja yang bisa masuk, setelah kita menikah aku akan memasukan sidik jarimu supaya kamu bisa masuk keruangan ini" jelasnya lagi.
__ADS_1
Alexa yang dulu profesi nya adalah penembak jitu di klan Ostra tentu sangat menyukai kejutan yang Leo berikan, terlebih lagi dirinya sudah cukup lama dia tidak memegang sebuah senjata.
"Aku sangat merindukan ini" ujar Alexa dengan tangan meraba ke salah satu pistol yang dulu selalu ia bawa kemana-mana yaitu Glock 17.
"Kamu bisa memilikinya jika ingin" celetuk Leo.
"Benarkah?" tanya Alexa antusias.
"Tentu saja, tapi berikan aku satu ciuman" tutur Leo dengan senyum mengembang diwajahnya.
Sontak hal itu membuat Alexa yang tadinya mengambil pistol langsung meletakkannya kembali ke tempatnya semula.
"Kau ini jangan gila!" marah Alexa dengan wajah merah padam karena malu , ia berpikir bagaimana bisa laki-laki semudah itu meminta sebuah ciuman dari seorang wanita.
"Aku hanya bercanda" terang Leo yang terus saja tersenyum karena melihat wajah Alexa kini sudah seperti tomat yang merah.
"Sepertinya ada yang salah tingkah" imbuh Leo bermaksud menjahili Alexa tapi ternyata Alexa menanggapinya serius ia langsung pergi keluar dari ruangan itu dan berlari menuju kamar Arman.
Leo dengan cepat berlari menyusul Alexa tapi belum juga sampai pintu kamar Arman sudah terlebih dahulu ditutup oleh Alexa.
Brak..
Hal itu membuat Leo terkejut ia berpikir hanya ingin bercanda tapi nyatanya orang yang ia ajak bercanda sedang tidak bisa diajak kompromi.
"Maafkan aku!" teriak Leo seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar Arman.
Arman kaget ketika mendengar suara pintu tertutup sangat keras lalu pergi menghampiri mamanya,
"Ada apa ma?" tanya Arman dengan wajah polosnya.
"Tidak, mama hanya ingin tidur disini malam ini" terang Alexa .
"Ini belum malam mama, papa mana?" tanya Arman penasaran.
"Kita main aja ya sayang" ajak Alexa karena tidak ingin membahas tentang Leo, entak kenapa Alexa bisa benar-benar marah padahal candaan Leo belumlah ketelaluan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like dan dukungan nya teman-teman demi berlanjutnya cerita ini...
...****************...
__ADS_1