
"Gak bisa gitu dong Pa!" Kesal Leo karena ia diminta oleh Bram untuk mengontrol proyek peluncuran senjata api yang akan segera diterbitkan.
Hal itu membuat Leo harus tinggal selama beberapa hari lagi, otomatis waktu untuk bertemu Alexa harus diundur lagi.
"Kali ini aja, kamu nurut sama Papa!" Bram yang masih tidak mau mengalah dan terus meminta Leo untuk tinggal beberapa hari lagi.
"Alexa gimana Pa!"
"Kamu jangan terlalu meremehkan calon istri kamu Leo, Papa lebih tau betapa kuatnya dia" Ujar Bram berusaha meyakinkan Leo untuk tetap tinggal beberapa hari lagi.
"Sekali ini saja, kamu bakalan tau seberapa kuatnya dia" Imbuh Bram.
Leo yang tidak punya pilihan lain hanya bisa menyetujui permintaan Papanya meskipun terpaksa "Oke, tapi hanya sampai acara peluncuran itu saja, Leo gak mau kalo nanti kebelakang-nya Papa halangi Aku lagi" Tegas Leo.
"Baiklah" Ucap Bram setuju dengan permintaan Leo.
Dengan suasana hati yang masih kesal Leo melangkah menuju ruang percobaan senjata sebelum dilakukan observasi lebih lanjut.
Dorr.. Dorr.. Dorr..
Suara tembakan demi tembakan memenuhi ruangan, Leo dengan tatapan tajam tanpa ekspresinya yang akan membuat setiap orang merinding ketika melihatnya, ingin melepaskan rasa kesalnya Ia melakukan percobaan dengan sedikit tidak sabaran.
Liam yang sedari tadi hanya menatapi tuannya dari sebalik kaca pembatas yang ada di ruangan tersebut, ia takut kalau nanti tuannya akan salah membidik sasaran karena terlalu kesal tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
Saat sedang asik melamun Liam dikejutkan dengan Leo yang tiba-tiba berdiri di hadapannya dan mengatakan "Ini cukup bagus" seraya memberikan sebuah pistol yang tadinya ia gunakan untuk menembak.
"Tapi, Tuan harus benar-benar mengujinya!" Tanya Liam dengan terbata karena takut kalau Tuannya akan marah, terlebih lagi suasana hati Tuannya sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan main-main ya!" Ucap Leo seraya mengarahkan pistol yang tadi ia pakai kepada Liam, Liam yang tadinya menatap Leo seketika langsung mundur perlahan takut kalau sampai Tuannya itu benar-benar menembaknya.
"Maaf Tuan" Sesal Liam dengan kaki gemetar.
"Bagaimana Seorang Leo Anggara bisa memiliki asisten seperti mu" Ujar Leo.
"Aku sudah lama tidak berburu, Ingin rasanya menembakmu, tapi sayang aku masih membutuhkan mu" Ucap Leo lalu pergi meninggalkan Liam yang masih terpaku.
.....
Alexa masih bekerja seperti biasa, ia begitu senang setelah mendapat kabar bahwa Leo akan segera pulang, segera ia menyelesaikan pekerjaannya yang seharusnya bisa ia selesaikan beberapa hari ke depan terpaksa harus ia selesaikan sekarang juga.
Rencana mereka berdua akan pergi liburan setelah Leo pulang dari luar negeri, hal itu membuatnya bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah merasa sudah menyelesaikan semuanya, Alexa segera keluar dari ruangannya menuju lobi, bayangan dimana Dia dan juga Leo akan pergi berlibur bersama, hal itu membuat Alexa terus saja mengumbar senyuman diwajahnya.
"Bu Lexa kenapa ya?"
"Gak tau, tumben banget mau senyum sama kita"
"Iya biasa Bu Lexa selalu menunjukkan wajah tanpa ekspresi dan bisa dibilang ketus kalau dihadapan kita" Celetuk beberapa karyawan yang merasa heran dengan tingkah Bos-nya itu.
Segera Alexa masuk kedalam mobilnya dan melajukannya menuju sebuah salon kecantikan, ia berniat mempercantik diri karena akan segera bertemu Leo, ia tidak ingin terlihat kucel ketika nanti bertemu dengan Leo.
Jujur saja selama ditinggal oleh Leo ia memang jarang berdandan dan juga jarang tidur.
Saat sedang menikmati pedi dan meni, ponsel Alexa tiba-tiba berdering, dengan malas Alexa menyambar benda pipih miliknya, setelah melihat bahwa Leo yang sedang menelponnya ia segera mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya Alexa cuek, berusaha menutupi rasa senangnya.
"Maaf"
"Ada apa? Kenapa minta maaf" Alexa yang terkejut begitu mendengar ucapan Leo, tanpa sadar ia langsung berdiri tanpa memberitahu orang yang sedang melayaninya terlebih dahulu, hal itu membuat cat kuku Alexa belepotan kemana-mana.
"Aku mungkin akan pulang beberapa hari ke depan, masih ada urusan yang harus aku selesaikan" Jelas Leo dengan suara beratnya.
"Ah.. iya sudah, kalau begitu kita akan bertemu beberapa hari lagi" Ujarnya berusaha menahan gejolak amarah didalam tubuhnya.
"Tidak, aku juga sedang sibuk di kantor, kalau begitu sudah dulu!" tanpa menunggu respon Leo, Alexa segera menutup telponnya.
Wajah berseri Alexa seketika berubah menjadi lesu, ditambah lagi cat kuku yang ia gunakan belepotan kemana-mana.
"Kenapa begini!" Pekik Alexa, setelah sadar bahwa cat kukunya belepotan.
"Maaf Nona" jawab karyawan itu dengan menundukkan kepalanya, menunjukkan bahwa dirinya sudah menyesal, meskipun ia tahu itu bukan kesalahannya, itu karena Alexa berdiri tiba-tiba tanpa memberitahu terlebih dulu.
"Iya gak papa, santai aja" meskipun suasana hati Alexa sedang buruk ia berusaha untuk tetap ramah kepada wanita itu.
Alexa kembali duduk dan meminta agar cat kukunya dirapikan kembali .
Setelah selesai mengecat kukunya Alexa segera keluar dari salon kecantikan, dengan mulut yang cemberut menahan kesal terhadap Leo.
"Kalau begini, aku yang rugi" Gerutunya kesal .
Tidak ingin terus-terusan berada dalam situasi kesal, Alexa melajukan mobilnya menuju tempat temannya berada.
__ADS_1
Raditya melihat kedatangan Alexa segera ia menghentikan kegiatannya lalu mendekati Alexa.
"Ada apa?" Tanya Alexa.
"Teman datang masa di cuekin" Jawab Radit dengan senyum simpul.
"Aku kesini sebagai pelanggan" Tutur Alexa seraya berjalan ke kasir meminta berkas pendaftaran.
Setelah selesai mengisi formulir Alexa segera pergi keruangan yang sudah ia pesan, Ya Alexa memesan sebuah ruangan khusus untuknya berlatih kemampuan menembaknya.
Radit hanya bisa terpaku melihat tingkah temannya itu, terlihat jelas bahwa suasana hati Alexa sedang tidak baik-baik saja.
Mata Alexa hanya terfokus pada objek sasaran saja sehingga sedari tadi ia tidak menyadari keberadaan Radit yang terus saja memperhatikannya.
Prok.. Prok.. Prok..
Suara tepuk tangan membuat Alexa tersadar, sebelumnya ia hanya memikirkan bagaimana bisa Leo membatalkan kepulangannya dan lebih bodohnya lagi ia sampai berdandan disebuah salon.
"Eh.. Ada apa?" Tanya Alexa bingung dengan kehadiran Radit.
"Ini" Ucap Radit seraya memberikan sebuah minuman, Alexa meraih minuman yang diberi oleh Radit dan langsung meminumnya.
"Ada masalah apa?" Tanya Radit tiba-tiba.
"Kenapa!" Imbuh Radit ketika melihat Alexa langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan darinya.
"Lo masih ingat ya?" Tanya balik Alexa cengengesan.
"Ya, jelas ingatlah, Lo selalu kesini kalo suasana hati Lo lagi buruk" Ujarnya.
"Iya juga sih.." Kata Alexa, ia baru menyadari kalau yang dikatakan temannya itu memang benar, dari dulu ia selalu datang kesini kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Lo belum jawab pertanyaan Gue, ada apa?" Tanyanya lagi.
"Ish.. Lo ingat kalo gue kesini itu karena lagi ada masalah, tapi Lo lupa kalo gue gak bakalan cerita masalah Gue ke orang lain" Jelas Alexa ketus.
"Ya, namanya juga usaha, sempat aja prinsip hidup Lo berubah" Celetuk Radit.
"Yang namanya prinsip hidup mana bisa berubah, dasar!" Ketus Alexa.
"Bisalah, buktinya perasaanku sama kamu bisa berubah" Celetuk Radit, ia sengaja berbohong, harap-harap Alexa mau bercerita tentang masalah yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
Alexa hanya menanggapinya dengan senyum tipis, dan melanjutkan kegiatannya.