
"Saya ingin bertemu dengan Alexa" kata Hendra.
"Maaf Tuan, Ibu Alexa sedang meeting, beliau tidak ada janji temu dengan klien hari ini, Tuan bisa kembali besok setelah membuat janji temu dengan ibu Alexa" Jelas resepsionis dengan menyunggingkan senyum manis.
"Lima menit saja! Tidak akan lama" Hendra yang masih bersikukuh dengan niat-nya untuk bertemu dengan Alexa.
"Maaf tuan, anda bisa pergi sekarang, dan kembali lagi besok"
Hendra menerobos masuk begitu melihat resepsionis lengah "Pak! Ada orang menerobos masuk" Teriak seorang resepsionis kepada satpam yang berjaga.
Alexa yang sedang meeting dikejutkan dengan kedatangan Hendra yang tiba-tiba mendobrak pintu lalu disusul beberapa satpam yang tadi mengejar Hendra.
"Ada apa ini?" Tanya Alexa dengan ekspresi datar, meskipun sedang terkejut tapi Alexa berusaha tetap terlihat seakan tidak terjadi apa-apa.
"Orang ini menerobos masuk Bu" jelas salah satu Satpam dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Saya rasa meeting hari ini cukup sampai disini" ucap Alexa lalu pergi meninggalkan ruangan dan diikuti oleh Hendra.
"Ada apa?" Tanya Alexa begitu masuk kedalam ruangannya.
"Apa berita itu benar?" Tanya Hendra dengan menatap tajam pada Alexa.
Setelah mendengar penuturan Hendra, kini Alexa tahu bahwa mantan suaminya itu belum bisa move on dari-nya, terbesit pikiran licik di otak Alexa "Berita apa?" bukannya menjawab Alexa malah bertanya balik dengan ekspresi seakan dirinya benar-benar tidak mengetahui maksud dari pertanyaan mantan suaminya itu.
"Apa benar, kau akan menikah dengan Leo Anggara?" Katanya dengan tegas.
"Apa urusannya denganmu?" tanya balik Alexa dengan sinis.
"Kita baru bercerai beberapa bulan yang lalu, dan kau sudah akan menikah dengan orang lain" Marahnya dengan lengan yang berusaha mengendurkan dasi yang melilit dilehernya.
"Apa bedanya denganmu yang bahkan menikah lagi meskipun tahu kalau istrimu tersiksa" ucapnya santai lalu duduk di kursi kebesarannya.
Hendra tidak mampu berkata-kata lagi karena apa yang diucapkan Alexa memang benar adanya.
"Kenapa? gak bisa jawab ya!" kata Alexa dengan senyum sinis-nya.
"Mas, kesini cuma mau tanya tentang artikel ini, bukannya debat sama kamu" jelas Hendra seraya memperlihatkan sebuah artikel.
"Itu hanya hoax" ucap Alexa setelah sempat sekilas melirik artikel yang diperlihatkan oleh Hendra, dan masih dengan wajah datarnya.
"Kamu berubah sekarang!" kesal Hendra, karena Alexa begitu cuek dengan dirinya sekarang.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Alexa malah berjalan menuju pintu lalu membukanya seraya berkata "Silahkan"
Hendra merasa harga dirinya sedang dipermalukan oleh Alexa, dengan langkah panjangnya ia keluar dari ruangan Alexa dengan mulut yang terus mengerutu.
"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah merusak kepercayaan ku Mas!" gumam Alexa dengan seringai jahatnya.
.....
Ma!
Panggil Arman begitu melihat Alexa sudah pulang, berlari dan melompat kedalam dekapan ibunya.
Alexa merasa kini sudah menjadi seorang ibu sungguhan meskipun belum merasakan mengandung ataupun melahirkan tapi kehadiran Arman setidaknya bisa mengobati luka yang Alexa miliki.
"Oma dan Opa kemana?" tanya Alexa seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan calon mertuanya.
"Di kamar Ma" jawab Arman .
"Kalau Papa?" tanyanya lagi karena belum melihat kehadiran Leo.
"Belum pulang" .
"Kalo gitu, kita main dikamar, mau?" Tanya Alexa dan angguki oleh Arman.
Alexa melihat jam yang ada didinding, Merasa ada yang janggal, karena Leo tidak kunjung pulang juga akhirnya Alexa pergi ke kamar calon mertuanya dan bertanya keberadaan Leo.
"Leo belum pulang Ma?" tanya Alexa meskipun ragu tapi ia tetap melakukannya .
"Leo pergi, mengontrol perusahaan yang ada diluar negri, Apa dia gak ngomong?, kalian ada masalah?" ujar Selly dengan beberapa pertanyaan.
"Tumben gak kasi kabar dulu" kata Alexa, raut wajahnya kini berubah menjadi kesal setelah mengetahui bahwa Leo pergi keluar negeri tanpa memberitahunya.
...
"Nona Alexa menelpon Tuan" bisik Liam .
Leo yang awalnya serius langsung terperjat karena mengingat bahwa dirinya lupa untuk memberitahu Alexa bahwa dia harus pergi keluar negeri.
"maaf tuan, sepertinya pertemuan kita sampai disini dulu, karena ada hal yang sangat mendesak yang sedang menunggu saya" jelas Leo kepada koleganya dan berlalu pergi.
Ya, Leo memang sedang meeting dengan kliennya, tapi karena tidak ingin membuat Alexa marah akhirnya Leo memutuskan untuk menyudahi meeting-nya.
__ADS_1
"Mana?" Tanya Leo dengan tangan menjulur meminta ponsel miliknya yang tadinya ia titipkan kepada Liam.
"Sudah mati tuan" jawab Liam seraya memberikan ponsel milik tuan-nya.
"Kita kembali ke apartemen saja" titah Leo lalu pergi menuju mobilnya yang berada di basemen, Liam dengan patuh mengikuti kemanapun Leo pergi.
....
Sesampainya di apartemen Leo segera menghubungi Alexa, ia tidak mau membuat Alexa marah apalagi dia merasa bersalah karena sudah lupa tidak memberi kabar terlebih dahulu sebelum pergi.
"Maaf, karena sudah lupa tidak memberimu kabar terlebih dulu" jelas Leo ketika telpon-nya diangkat oleh Alexa.
"Tidak masalah, kapan pulang?" tanya Alexa ketus.
" Aku tahu kamu marah, tunggu saja besok aku akan pulang" tuturnya dan hanya di respon dengan deheman saja.
"Marah?" tanya Leo.
"Tidak! Kalau begitu sudah dulu telpon-nya aku sedang sibuk" kata Alexa, belum juga mendapatkan jawaban dari Leo sambungan telpon-nya sudah dimatikan terlebih dulu.
Sepertinya itu memang kebiasaan Alexa, berbicara hanya seperlunya saja.
"Pesawat sudah siap tuan" ucap Liam dan di angguki oleh Leo.
Setelah mengetahui bahwa Alexa menelponnya Leo memerintahkan Liam untuk segera menyiapkan pesawat agar dia bisa pulang malam ini juga.
Awalnya Leo akan tinggal beberapa hari, tapi setelah mendengar suara Alexa ia tak tahan kalau sampai berhari-hari tidak bertemu .
"Orang ini memang benar-benar bucin akut, baru sampai tadi siang dan malamnya harus pulang lagi, ini luar negeri bukan luar kota! Apa badannya terbuat dari besi sampai-sampai tidak lelah sama sekali" gerutu Liam, ingin rasanya ia marah-marah didepan tuan-nya, tapi nyali-nya selalu menciut ketika Leo menatapnya dengan mata elangnya.
"Kalau kau ingin tinggal, silahkan!" katanya santai, tapi terdengar sangat menakutkan bagi Liam, karena tuan-nya ini akan benar-benar mewujudkan apa yang ia katakan jika dia benar-benar ingin.
Seperti paranormal yang mengetahui isi pikiran orang begitulah Leo yang selalu bisa menebak isi otak Liam.
"Tidak tuan" jawab Liam gugup.
"Aku lupa memberitahunya, dan sekarang mungkin dia merindukan ku" celetuk Leo dan tidak direspon oleh Liam.
"Aku sedang mengajakmu bercerita!" teriak Leo.
"Iya tuan, memang sebaiknya kita pulang saja" jawab Liam dengan tubuh bergetar.
__ADS_1
"Tenanglah aku tidak akan membuatmu masuk rumah sakit lagi"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...