
Leo kebingungan karena sejak kemarin Alexa belum juga keluar kamar, makan pun dia meminta pelayan untuk membawakannya ke kamar.
"Aku harus bagaimana?" gumam Leo.
Lama ia berpikir akhirnya sebuah ide terlintas dipikiran Leo, seperti biasa para pelayan akan segera datang ketika Leo menjentikkan jarinya.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya kepala pelayan.
"Beri aku pakaian Neni yang pas di tubuh ku ini" pinta Leo seraya berdiri dan menaik turunkan tangannya seolah menjelaskan kepada para pelayan bentuk tubuhnya.
Sontak saja para pelayan yang melihat hal itu langsung tersenyum kikuk, melihat bahwa dia sedang ditertawakan oleh para pelayan Leo langsung kembali ke mode dinginnya, meskipun sebenarnya dia sangat malu saat ini tapi dia harus tetap menjaga wibawanya dihadapan para pelayan.
"Kalian bisa pergi" ujarnya dengan memalingkan wajahnya.
Begitu mendengar perintah dari tuannya para pelayan langsung pergi meninggalkan Leo.
Tidak menunggu lama kepala pelayan datang dengan membawa sebuah pakaian khusus neni-neni.
"Ini tuan" ucap kepala pelayan seraya memberikan barang yang diminta oleh tuannya tadi.
"Kau bisa pergi sekarang" tutur Leo setelah mendapat barang yang ia perlukan.
"Apa perlu aku melakukan ini?" gumamnya sendiri sambil membolak-balik pakaian yang dibawakan oleh kepala pelayan tadi.
Tidak ingin berpikir panjang akhirnya Leo memutuskan untuk tetap melanjutkan idenya tadi.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar Arman terbuka begitu melihat Leo mengenakan rok pendek selutut dan juga baju lengan pendek berwarna hitam putih yang biasanya digunakan oleh para Neni hal itu membuat Alexa tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
Alexa tertawa sampai terduduk di lantai karena melihat penampilan seorang Leo, karena setahunya Leo adalah pria berdarah dingin dan hal seperti ini sangat mustahil terjadi, siapa sangka dirinya akan melihat Leo versi perempuan.
Arman yang melihat itu ia langsung berlari masuk kedalam kamar dan mengambil ponsel milik Alexa lalu memotret Leo yang sedang berdiri seraya membawa baki berisikan cemilan dan minuman dengan mengenakan baju pelayan.
Leo melihat bahwa dirinya sedang dipotret oleh anaknya langsung berjalan masuk menghampiri Arman yang masih saja sibuk memotret.
Ketika hendak mengambil ponsel yang dipegang oleh Arman tangan Alexa lebih dulu menyambar ponsel itu.
Tawa Alexa kembali pecah ketika melihat beberapa foto yang diambil Arman tadi.
Leo hanya bisa pasrah ia juga senang karena bisa melihat tawa Alexa yang begitu alami tanpa dibuat-buat.
"Apa kau senang?" tanya Leo kepada Alexa.
Mendengar pertanyaan Leo akhirnya Alexa tersadar bahwa dirinya sudah terlalu banyak tertawa "Maaf, karena sudah menertawakan mu" jawab Alexa penuh penyesalan.
__ADS_1
"Aku senang kamu tertawa sampai seperti itu, aku hanya berharap kamu bisa terus tertawa seperti itu ketika bersama denganku" tutur Leo.
Alexa yang mendengar penuturan Leo langsung tertegun, ia baru menyadari bahwa dirinya belum pernah tertawa sampai seperti ini setelah ditinggal oleh kedua orangtuanya.
Meskipun Alexa hidup bahagia bersama Hendra sebelumnya tapi dia belum pernah tertawa lepas sampai seperti ini.
"Ada apa?" tanya Leo karena melihat Alexa yang tiba-tiba terdiam dan melamun.
"Apa aku salah bicara?" imbuhnya lagi.
"Tidak, justru aku harus berterima kasih pada mu karena sudah membuat ku tertawa setelah sekian lama" jelas Alexa dengan senyum tulusnya.
"Tapi apa yang membuat mu sampai melakukan hal seperti ini?" tanya Alexa dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.
"Aku bingung harus melakukan apa karena sejak kemarin kamu tidak keluar kamar" tutur Leo dengan memasang wajah sedih.
"Oh.. Itu sebenarnya aku sedang sibuk memeriksa dokumen -dokumen kantor, aku memang sempat marah padamu tapi untuk hal sepele aku rasa tidak akan marah selama itu" jelas Alexa.
Leo baru tahu ternyata dia sudah salah menduga "Lalu untuk apa aku harus memakai ini" gumamnya.
Alexa hanya menjawab dengan mengangkat pundaknya menandakan bahwa ia juga tidak tahu kenapa Leo bisa sampai berpikir untuk melakukan itu.
Saat sedang sama-sama kebingungan tiba-tiba Liam datang melihat sisi lain dari tuannya itu ia terpaku sesaat karena masih tidak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini.
Brakk.. suara pintu tertutup dengan kerasnya.
Alexa dan Liam saling menatap satu sama lain dan sedetik kemudian tawa mereka berdua pecah.
Leo mendengar tawa mereka dari dalam kamarnya ia merasa sangat malu sampai-sampai dia hampir saja tidak berani untuk keluar dari kamar.
Arman yang menyadari bahwa papanya sangat malu akhirnya ia pergi ke kamar papanya.
Tok.. Tok..
Mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya Leo segera membukanya harap-harap Alexa yang datang, tapi begitu dibuka ternyata Arman lah yang datang sembari membawa sebotol susu miliknya dan diberikan kepada papanya.
Leo kecewa karena ternyata bukan Alexa yang datang menemuinya, mau tidak mau dia harus menerima susu pemberian anaknya meskipun sebenarnya dia sangat tidak menyukai susu.
Namun karena tidak ingin mengecewakan anaknya akhirnya Leo menerima dan meminumnya.
"Papa kok susu ku papa minum?" Leo sangat terkejut ketika mendengar penuturan Arman.
"Tadi Arman kasi ke papa kan?" tanya Leo dengan mengerutkan keningnya karena bingung.
"Tidak, aku minta ayah bukain botolnya" jawab Arman.
__ADS_1
"Astaga!!" Teriak Leo seraya menepuk jidatnya.
"Kenapa tidak meminta para Neni untuk membukanya?"
Arman hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan papanya.
"Mama mana?" tanya Leo lagi karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Mama pergi" jawab Arman lirih.
"Kemana?" tanya Leo penasaran dan dijawab gelengan kepala oleh Arman.
"Kalo gitu Arman masuk ke kamar nanti papa panggilkan Neni untuk temani Arman main ya" ujar Leo dan di anguki oleh Arman.
Setelah mengantar Arman masuk kedalam kamar dan memanggilkan salah satu pelayan untuk menemani Arman bermain barulah Leo pergi ke kamarnya untuk ganti pakaian setelah itu dia menghubungi Alexa.
Namun telpon Leo sedari tadi tidak diangkat oleh Alexa, hal itu membuat Leo bertambah khawatir takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Alexa.
Ia baru mengingat bahwa tadi Liam datang ke mansion akhirnya Leo memutuskan untuk menghubungi Liam.
Sambungan pertama belum diangkat dan begitupun sambungan kedua , setelah sambungan ketiga barulah telpon Leo diangkat oleh Liam.
"Dimana?" tanya Leo penasaran.
"Di kantor Nona Alexa tuan" jawab Liam lirih karena tadi dia sudah diberikan pesan oleh Alexa untuk tidak memberitahukan keberadaannya.
Tapi Liam tidak memiliki keberanian untuk berbohong kepada tuannya itu, Sambungan telepon langsung terputus ketika Liam sudah memberitahukan keberadaan mereka.
"Bisa-bisanya dia pergi tidak memberitahu ku awas saja, aku akan memarahinya nanti" gerutu Leo seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai di kantor, Leo langsung pergi keruangan Alexa dan tidak mendengarkan peringatan dari sekertaris Alexa.
Ia bingung karena orang yang dicari malah tidak ada di ruangannya mau tidak mau Leo harus bertanya kepada sekertaris Alexa "Dimana Alexa?".
"Saya tadi sudah berusaha memberitahu tuan bahwa ibu Alexa berada di kantin kantor tapi tuan tidak mendengarkan" jelas sekertaris itu.
"Benarkah?" karena terlalu buru-buru Leo sampai tidak memperhatikan orang disekitarnya.
"Iya tuan" jawab sekertaris itu.
Leo langsung pergi ketempat yang dikatakan oleh sekertaris tadi dan benar saja bahwa Alexa dan Liam sedang makan siang bersama.
Niat hati ingin memarahi Alexa namun setelah melihat senyum manis Alexa seraya melambaikan tangannya kearah Leo hal itu membuat kemarahan Leo memudar seketika berganti dengan hati yang berbunga-bunga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1