Halalin Aku, Sayang

Halalin Aku, Sayang
28


__ADS_3

Ali membawa Zeina ke rumah sakit karena kondisi Zeina yang tak kunjung membaik menurutnya. Meski Zeina menolak tetapi Ali tetap memaksa. Dia tidak mau Zeina sampai ambruk nantinya. Karena ia tau akhir-akhir ini banyak masalah yang mendatangi gadis tersebut. Sehingga ia banyak pikiran dan membuat kesehatannya terganggu.


Setelah menebus obat keduanya pun pulang ke apartemen Zeina. Ali sebenarnya ingin membopong tubuh Zeina tetapi gadis itu menolaknya. Akhirnya ia hanya memapah Zeina dalam rengkuhannya. Tetapi ketika keduanya sampai di depan unit apartemen Zeina tampak seorang pria paruh baya berdiri masih dengan gagahnya di sana.


"Zeina."


Deg!


Sapaan itu membuat Zeina yang tadinya tampak lemas mendadak menjadi berdiri tegak dan tampak wajahnya mulai mengeras. Ali mengetahui siapa yang berdiri di hadapan keduanya saat ini. Ia hanya diam saja dan bersikap sopan kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya tersebut.


Ya, ia adalah ayah Zeina, Zainal Pramudya.


"Silakan tuan," ucap Ali yang menyodorkan minuman dan juga cemilan ke atas meja.


Zainal Pramudya tampak tidak suka dengan kehadiran pria di apartemen sang putri. Apalagi tampak keduanya memiliki hubungan yang dekat. Dilihat dari cara keduanya berpegangan dan memberikan kode satu sama lain. Padahal Zainal datang ke apartemen putrinya selain ingin berbaikan kembali dengan Zeina. Ia juga ingin mengenalkan Zeina dengan pria sukses yang ia temui dan anggap cocok untuk putrinya tersebut.


"Ada apa kemari?" tanya Zeina to the point.


Zainal menghela napasnya panjang mendengar pertanyaan sang putri yang tidak ada basa basi sama sekali.

__ADS_1


"Tidak bisakah kamu memanggil ayah kepada ayahmu lagi nak?" tanya Zainal dengan sorot wajah kecewanya.


Ia tahu kalau sikapnya dulu begitu buruk kepada Zeina. Sehingga putrinya itu mungkin begitu membencinya. Tetapi apakah dibenarkan sikapnya yang tidak sopan kepada orang tuanya sendiri. Apalagi di depan orang lain seperti ali.


"Bagaimana kabar Bella?" tanya Zeina yang sedikit banyak memikirkan kondisi Bella. Apa benar ia keguguran.


"Saudarimu baik-baik saja. Dan maafkan perbuatannya. Ia hanya terlalu cemburu kepadamu sehingga ia berbuat salah seperti itu. Sebenarnya ia..."


"Aku memaafkannya kalau itu yang ayah mau. Kalau tidak ada lagi yang ingin ayah bicarakan, kita bisa akhiri pembicaraan ini," pungkas Zeina yang kecewa dengan pembahasan yang ingin diucapkan sang ayah.


Ternyata kedatangan ayahnya hanya ingin membela anak kesayangannya tersebut. Zeina sudah muak dan malas membahas Bella yang selalu benar di mata sang ayah. Dan dirinya hanya menjadi sosok anak pembangkang yang selalu salah. Ali yang mendengar percakapan keduanya cukup terkejut juga dengan sikap dingin yang ditunjukkan oleh Zeina kepada ayahnya. Baru kali ini Ali tau kalau zeina mampu melakukan hal tersebut. Ia melihat sosok Zeina yang kalem, lembut, dan juga baik hati.


"Kamu mengusir ayahmu sendiri Zein?" tanya ayahnya yang tidak suka akan sikap Zeina.


"Aku baru pulang dari rumah sakit. Aku ingin beristirahat," sahut Zeina.


"Kamu sakit apa?" tanya Zainal yang baru menyadari kenapa wajah sang putri tampak pucat sedari tadi. Rupanya Zeina sedang sakit dan ia baru mengerti setelah gadis itu mengatakan kepadanya. Benar-benar definisi ayah yang tak peka dengan kondisi putrinya sendiri.


"Ayah ingin membahas apalagi?" tanya Zeina yang sudah tidak sabar dengan kehadiran ayahnya di apartemen miliknya.

__ADS_1


"Ayah ingin mengenalkan kamu dengan pria yang baru-baru ini menjadi rekan bisnis ayah, nak. Ia berasal dari keluarga baik-baik dan juga mapan. Ayah ingin kamu berkenalan dengan dia nak," ucap Zainal mengeraskan suaranya agar lelaki yang berada di dalam rumah Zeina itu mendengarkan ucapannya.


"Aku tidak suka dijodohkan," jawab Zeina langsung.


"Ayah tidak ingin kamu memilih lelaki sembarangan Zein. Setidaknya kamu harus melihat kondisi perekonomiannya. Kamu terlahir dari keluarga baik-baik. Jangan sampai memilih lelaki yang tidak jelas asal usulnya dan juga status keluarganya seperti apa," tegas Zainal mulai mengatur kehidupan putrinya kembali.


Mendengar ucapan ayahnya membuat kepala Zeina kembali pusing. Ia tidak suka akan sikap ayahnya yang menginginkan dirinya menjadi seperti apa yang ayahnya mau. Zeina memiliki hak untuk melakukan apa yang ia suka dan impikan. Termasuk memilih seorang pasangan hidup.


"Cukup ayah, aku ingin istirahat. Kepalaku pusing sekali. Ayah kembali saja kapan-kapan kalau aku sudah sehat," putus Zeina.


"Baik, ayah akan kembali nanti. Tetapi kalau kamu menginginkan restu dari ayah untuk menikah dengan lelaki itu, maaf, ayah tidak akan memberikannya. Ayah tidak suka dengan pria yang tidak jelas bibit, bebet dan bobotnya seperti apa," ucap Zainal kemudian ia berpamitan pulang dari apartemen sang putri.


Astaghfirullahhaladzim.....


Zeina tidak menyangka kedatangan ayahnya hanya untuk menaburkan garam dilukanya yang masih belum mengering.


❤️❤️❤️


🥺 sabar ya Zeina...

__ADS_1


Author malmingan dulu ya guys, ceritanya dilanjutin besok lagi.


__ADS_2