Halalin Aku, Sayang

Halalin Aku, Sayang
31


__ADS_3

Hampir satu jam perjalanan yang ditempuh oleh Ali dan Juga Zeina. Keduanya kini sudah sampai di sebuah kawasan yang tidak padat penduduknya. Waktu telah menjelang sore saat keduanya sampai dia sebuah villa mewah yang ada di kawasan pegunungan tersebut.


Zeina tampak terkagum-kagum melihat pemandangan yang saat ini terhampar di hadapannya. Wajah Zeina tampak bahagia, tidak ada lagi raut wajah kesal dan suntuk. Saat bersama dengan dirinya tampak Zeina begitu senang. Oleh karenanya Ali merasa bahwa dia sanggup untuk membuat Zeina merasa bahagia bersama dengan dirinya.


Zeina mendongakkan wajahnya ke atas sambil memejamkan matanya. Ia menarik napasnya panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan. Gadis tersebut tampak menikmati udara segarnya pegunungan. Sudah lama ia tidak pernah merasakan lagi segarnya udara di pegunungan. Selama ini ia hanya sibuk bekerja, bekerja dan bekerja saja. Tidak memikirkan untuk melakukan healing sekedar merilekskan pikirannya dari kejenuhan yang melanda.


Ali yang melihat istrinya merentangkan kedua tangannya. Ia segera menghampiri dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Ali meletakkan dagunya di atas bahu Zeina membuat gadis itu reflek menoleh dan mendapati bibir suaminya yang tidak jauh dari wajahnya.


Cup


Seketika Zeina memejamkan kedua matanya saat dengan cepat Ali menyambar bibir merah merekah milik sang istri. Ali sudah tidak tahan lagi untuk tidak mencicipi bibir tersebut. Apalagi selama tinggal bersama dengan Zeina. Ingin sekali rasanya Ali mencium bibir mungil itu. Hanya saja ia tidak mau membuat Zeina marah jika dia bertindak sembarangan.


Ali menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka. Sampai pada akhirnya Ali melepaskan tautannya karena sang istri mulai kesusahan untuk bernapas. Tampak wajah memerah Zeina setelah Ali menciumnya secara tiba-tiba. Sedangkan si pelaku justru merasa gemas melihat wajah manis istrinya yang sedang malu-malu tersebut.


"Ayo kita masuk sayang, hari sudah mulai malam. Kita harus persiapkan diri juga untuk malam pertama kita nanti," ujar Ali membuat Zeina mendongak seketika.

__ADS_1


"Malam pertama? bukankah kita sudah pernah melakukannya meski waktu itu aku dalam kondisi mabuk dan tidak bisa mengingat apapun," kata Zeina membuat Ali seketika mencari jawaban yang tepat untuk apa yang ditanyakan sang istri.


"Eh, iya sih, maksud aku malam pertama setelah kita sah menjadi suami istri sayang," ucap Ali sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tersebut.


"Oh," jawab Zeina beroh ria dan ia pun akhirnya menurut ketika diajak sang suami masuk ke sebuah villa mewah yang akan mereka tempati beberapa hari ke depan tersebut.


"Bagus banget tempatnya Al, ini rumah siapa sebenarnya?" tanya Zeina yang tampak terkagum-kagum dengan bangunan villa yang ia datangi. Sungguh begitu bagus dan berkelas sekali.


"Oh, ini punyanya si Jonathan," ucap asal Ali karena memang itu paling pas menurutnya.


"Wah asisten Jonathan kata raya juga ya sampai memiliki villa semewah ini. Kalau dia sekaya ini kenapa ia bekerja sebagai asisten di perusahaan. Kenapa tidak menjadi bos pemilik perusahaan saja," celetuk Zeina yang masih mengagumi keindahan setiap sudut ruangan yang ada di villa tersebut.


"Eh, tuan muda kenapa...."


"Oh Mang Ujang dan bik Inah ini saya Ali, temannya Jonathan. Dan perkenalkan ini adalah istri saya, Zeina. Kamu akan menginap di sini selama satu Minggu untuk merayakan honeymoon pernikahan kami. Jadi tolong bantuannya ya. Jonathan sudah mengatakan sebelumnya kan kepada mamang dan bibik?" kata Ali panjang lebar sambil memberikan kode kepada kedua pembantunya itu agar mengikuti apa yang sedang ia katakan dan perankan di depan Zeina. Agar istrinya tersebut tidak sampai curiga dengan penyamaran yang ia lakukan itu.

__ADS_1


"Eh iya den Ali, semuanya sudah siap. Kami sudah mempersiapkan segalanya sesuai dengan paa yang den Jonathan katakan, bukankah begitu Bu," kata mang Ujang mencairkan suasana.


"Benar itu, silakan masuk den Ali dan non...."


"Zeina," ucap Zeina sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Kedua orang tersebut menyambut uluran tangan dari istri majikannya dengan perasaan senang dan juga takut kalau-kalau sikap mereka sudah menyinggung keduanya.


"Baiklah kamarnya sudah kami persiapkan. Silakan beristirahat terlebih dahulu sebelum makan malam nanti," ujar bik Inah mempersilakan.


"Ayo sayang kita sudah waktunya mengecek kekuatan ranjang kita nanti," kata frontal Ali membuat Zeina reflek seketika memukul bibirnya yang suka banget mengomong begitu itu.


"Jangan ngomong sembarangan Al, didenger banyak orang tuh," tegur Zeina namun hal itu justru membuat Ali semakin terkikik dibuatnya.


"Nggak apa-apa juga denger mereka kan kitanya juga sudah sah dimata negara dan juga agama. Kenapa harus ditakutin sih ngomong begitu saja sayang. Selow aja," kata Ali dengan santainya.


Zeina hanya bisa menghela napasnya panjang. Suaminya memang suka begitu orangnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️


TBC


__ADS_2