Halalin Aku, Sayang

Halalin Aku, Sayang
33


__ADS_3

Zeina sedang duduk ditepian ranjang dengan wajah tertunduk. Ia merasa gugup di malam pertama keduanya menjadi suami istri. Meskipun kata Ali mereka sudah pernah berhubungan badan sebelumnya. Cuma Zeina belum pernah merasakannya secara sadar. Saat itu ia sedang mabuk jadi tidak tau apa yang sudah ia lakukan dengan Ali. Kini jantungnya berdetak begitu kencang seakan ia baru saja selesai lomba lari tujuh belasan.


Ceklek


Ali keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai celana boxer miliknya. Ia memamerkan bentuk tubuh bagian atasnya yang tampak berotot. Jangan ditanya betapa sempurnanya tubuh Ali. Bahkan Zeina sampai menelan salivanya susah payah melihat jajaran roti sobek di tubuh atletis seorang Ali.


Ekhemmm


Suara deheman itu membuat Zeina seketika salah tingkah. Ia merasa sedang kepergok mengagumi keindahan tubuh suaminya sendiri.


Ali berjalan mendekati Zeina yang tampak gugup. Ali hanya tersenyum melihat wajah sang istri yang sedang tidak baik-baik saja.


"Jangan gugup sayang," ujar Ali sambil menggenggam jemari tangan Zeina yang terasa dingin.


"Kita sudah pernah melakukannya dan aku sudah tau semua milikmu sayang," bisiknya sen-su-al membuat Zeina semakin belingsatan dibuatnya.

__ADS_1


Ali menarik pundak Zeina perlahan agar keduanya saling berhadapan. Ia menjepit dagu Zeina dengan ibu jari dan jari telunjuknya agar Zeina mengarahkan pandangan ke dirinya. Mereka bertatapan sejenak. Lalu perlahan-lahan Ali mendekatkan wajahnya dan mulai mencium bibir Zeina dengan mesra.


Ciuman itu begitu lembut karena Ali tidak ingin membuat bibir istrinya terluka. Atau tidak ingin membuat Zeina merasa takut kepada dirinya. Ciuman itu perlahan menjadi sebuah pa-gu-tan yang menuntut. Perlahan-lahan Ali mendorong tubuh Zeina agar terbaring dengan sempurna. Ia menurunkan ciumannya ke leher jenjang sang istri dan itu memberikan sensasi yang aneh pada tubuh Zeina. Ada rasa geli, merinding bercampur kenikmatan yang tiada tara. Ini adalah sensasi pertama untuk Zeina. Karena apapun yang terjadi dulu antara dirinya dengan ali. Dia tidak mampu mengingatnya sama sekali.


De-sa-han pun mulai terdengar dari bibir Zeina yang tidak ia sadari. Karena ulah Ali yang semakin tak bisa diam berada di atas tubuh sang istri. Tangan Ali tidak bisa diam begitu saja. Ia membuka satu persatu kain yang menutupi tubuh sang istri. Hingga semuanya yang dikenakan Zeina pun tanggal oleh perbuatannya.


Ali menelan salivanya dengan susah payah melihat untuk kedua kalinya keindahan milik Zeina. Karena yang pertama dulu ia juga melihatnya secara utuh. Akak tetapi malam ini tentunya berbeda. Karena kondisi Zeina yang sadar. Bukan terpengaruh oleh alkohol dan obat setan seperti sebelumnya.


"Kamu benar-benar indah sayang," bisik Ali kembali saat menatap kagum ke arah Zeina yang tampak malu karena Ali menatapnya dengan begitu intens.


"Aku malu...." lirih Zeina berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan meski itu tak mungkin bisa tertutup dengan sempurna.


Tak lama kemudian Ali mulai membuka celananya hingga adiknya tampak mencuat membuat Zeina yang melihatnya tampak syok. Karena adik suaminya itu sudah bangun , tegak dan menantang dirinya.


Giliran Zeina yang menjadi ketakutan sendiri. Ia menelan ludah berkali-kali sambil menggenggam erat sprei ranjangnya melihat pusaka sang suami.

__ADS_1


"I...itu.... apakah bisa masuk nantinya? Apakah itu kemarin pernah memasukiku?" tanya Zeina dengan raut wajah takut-takut. Bahkan wajahnya sudah tampak pucat sekarang.


Ali hanya terkekeh menyeringai.


Ini adalah kejutan buat kamu sayang. Maaf jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya kepadamu dengan kejadian malam itu, batin Ali.


Ali tidak menjawab pertanyaan Zeina karena ia nanti akan memberikan pembuktian bukan penjelasan yang akan membuat dirinya bosan. Dia ingin mencapai nirwana bersama dengan Zeina. Bukan untuk memberikan kuliah panjang kali lebar kepada istrinya.


Ruangan yang dingin dengan AC itu kini mendadak menjadi panas. Peluh mulai memenuhi sekujur tubuh mereka. Ali sudah siap dengan permainan terakhirnya. Suara rin-ti-han dan juga de-sa-han sudah memenuhi ruangan kamar tersebut.


Hingga saat yang dinanti-nantikan Ali pun tiba.


"Aaaaaaaaggggghhh....."


"Al, kenapa sa.....kiittttt..sekali," teriak Zeina seraya meringis bahkan sampai menangis saat Ali sudah menyatukan milik keduanya.

__ADS_1


❤️❤️❤️


TBC


__ADS_2