Halalin Aku, Sayang

Halalin Aku, Sayang
32


__ADS_3

Saat mereka sedang asyik bertukar Saliva. Tiba-tiba ponsel Zeina berdering membuat aktifitas keduanya terganggu. Zeina terpaksa mengangkat panggilan tersebut.


"Ha-halo sis, ada apa?" tanya Zeina mengatur deru napasnya yang tidak beraturan akibat ulah suaminya barusan. Ali hanya menghela napasnya panjang karena aktifitas mereka yang terganggu karena ulah teman baik Zeina itu.


" Zein, kamu dimana? kok katanya kamu ijin selama seminggu. Kamu ada urusan apa? atau jangan-jangan kamu sakit? aku dan Rio sudah berpikir yang enggak-enggak neh tentang kamu. Kamu kemana sih Zein?" cecar Siska dengan nada paniknya saat teleponnya diangkat oleh Zeina.


Gadis manis itu mengatur napasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Aku ada urusan sebentar sis. Nanti akan aku ceritakan tetapi bukan sekarang saatnya. Oya, selama seminggu aku tidak bekerja ini tolong handle kerjaan aku dulu ya," pinta Zeina karena Siska adalah teman satu divisi dengannya.


"Kamu pergi bukan karena sengaja menghindari pesta pernikahan Rolan dan Bella kan?" tanya Siska menimpali.


"Oya, mereka mau menikah memangnya? aku justru nggak tau kalau mereka mau menikah sis. Bukan karena itulah, buat apa juga aku menghindari. Yang berbuat salah bukan aku tetapi mereka," jawab Zeina yang baru tau kalau Rolan dan Bella jadi menikah. Dia saja sudah tidak peduli dengan kedua makhluk tersebut.


"Jadi kamu akan datang kan di pesta pernikahan mereka? takutnya orang-orang pada ngatain kamu nggak bisa move on dari Rolan kalau kamu nggak datang Zein," ujar Siska kembali.


Zeina menghela napasnya panjang. Ia sungguh malas menghadiri pesta kedua pengkhianat tersebut. Lebih baik dia menikmati waktunya bersama dengan sang suami.


"Aku nggak tau, kalau aku nggak bisa datang ya sudah cukup kalian berdua aja. Kehadiran aku juga nggak penting di pesta itu."


"Kalau kamu jadi datang kabari kami ya Zein. Kami hanya tidak ingin kamu nanti datang seorang diri ke sana. Kami akan selalu menemani kamu. Terutama aku nggak mau kamu datang sendirian. Aku akan selalu ada buat kamu Zein."

__ADS_1


"Makasih ya Sis, kalian sudah mau peduli denganku."


"Itulah gunanya sahabat, Zein."


"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya. Aku sedang ada perlu ini. Aku duluan ya, bye."


Lalu panggilan pun diputus.


"Maafkan aku sis, aku belum bisa mengatakan tentang pernikahanku ini," ucap Zeina lirih serasa menatap layar ponselnya.


Ali yang melihat istrinya tampak menatap dalam ke arah handphonenya. Segera ia datang dan memeluk sang istri dari belakang. Ia memberikan kecupan sayang di kening Zeina cukup lama.


"Nggak apa-apa sayang. Nanti juga semua orang akan mengerti dengan pernikahan kita ini. Bila saatnya sudah tiba nanti. Kita akan umumkan bersama-sama jika kita adalah pasangan suami-isteri yang sah," ujar Ali menenangkan Zeina yang ditanggapi sang istri dengan senyumannya yang hangat.


Kembali Ali mendekap tubuh sang istri yang begitu membuatnya candu.


"Kita lanjutkan yang tadi ya," bisik lirih Ali membuat Zeina menegang seketika. Astaga, padahal ia sudah lupa dengan apa yang tadi ia lakukan dengan sang suami. Sekarang justru diingatkan kembali oleh suaminya tersebut.


Cup


Tak banyak bicara lagi, Ali segera mengecup bibir tipis zeina yang rasanya begitu manis dan membuatnya candu.

__ADS_1


"Al...." seru Zeina dengan mata mendelik ke arah ali yang justru hanya terkekeh melihat sikap istrinya.


"Hmm...bibirmu selalu manis sayang. Rasa manisnya melebihi gula yang ada," ucap Ali membuat wajah Zeina bersemu merah karenanya.


"Gombal ih," desis Zeina membuat Ali terkekeh dengan sikap menggemaskan sang istri.


"Aku tidak sedang merayu sayang, aku serius. Bibir kamu ternyata bisa membuat aku merasa candu," bisik Ali membuat Zeina semakin salah tingkah dibuatnya.


"Emm...aku mau mandi dulu,"ujar Zeina berusaha melepaskan jeratan Ali di tubuhnya.


"Kita mandi duluan saja sayang," ujar Ali yang tidak mau sang istri sendirian saja di kamar mandi.


"Aku mandi duluan saja sayang, kalau mandi berdua ntar lama yang ada," sahut Zeina kemudian dia bergegas mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ali hanya geleng-geleng kepala dibuatnya. Ada-ada saja istrinya tersebut kelakuannya.


Sementara di dalam kamar mandi, Zeina memandang wajah cantiknya di cermin. Ia pun tersenyum lebar.


"Akhirnya aku telah menjadi seorang istri dari Ali. OB yang bekerja di perusahaan yang sama denganku. Lupakan Rolan, Zein. Mulailah hidup baru dengan ali. Ia begitu mencintaimu. Aku akan belajar membuka hatiku untuk Ali. Aku akan membalas cinta yang ali berikan kepadaku," ucapnya yakin.


❤️❤️❤️

__ADS_1


TBC


Dukung terus karya ini ya🥰


__ADS_2