Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
10.


__ADS_3

Paginya mereka sarapan bersama di restoran hotel itu. Semua orang berkumpul di satu meja panjang, Meisya duduk di samping suaminya, mereka tidak menunjukkan sikap yang aneh di depan semua orang. Mereka sudah sepakat jika akan terlihat baik-baik saja di depan mereka.


"Bagaimana dengan masalah perusahaan yang ada di Singapura, Nak. Apa masih ada masalah?" tanya Oma Gina pada cucunya.


"Semuanya sudah selesai Oma, aku sudah membereskan semuanya permasalahannya."


"Kamu memang cucu kebanggaan Oma, tidak salah Oma menyerahkan perusahaan padamu," puji Oma Gina. Tanpa sadar jika pujiannya pada sang cucu pertama membuat ke tiga orang ada di sana merasa iri. Terutama seorang laki-laki paruh baya yang duduk di meja yang sama.


Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sia-sia dia berusaha membuat putri dari pengusaha ternama itu jatuh cinta padanya kalau pada akhirnya dia tidak bisa mendapatkan apapun. Sang putra juga tidak dilibatkan dalam urusan pekerjaan, sementara dia hanya jadi manajer produksi di perusahaan sebesar itu. Dia adalah Sam. Suami dari bibi Sira, dia juga laki-laki biasa yang berhasil menikahi wanita kaya. Berharap nasibnya berubah dan menjadi bagian dari perusahaan mertuanya.


Sementara Sira seperti biasa dia diam saja. Sebenarnya jika dia tidak terpengaruh oleh suaminya, Sira adalah bibi yang baik dan bisa menjadi sosok ibu yang baik juga untuk Nico dan Marsell sekaligus. Sayangnya, dia memiliki suami yang memiliki peringai buruk dan selalu mempengaruhinya agar merasa iri pada keponakannya itu.


"Bagaimana tidurmu tadi malam, Nak? Kau pasti kelelahan setelah pesta kan, seharusnya kau istirahat saja di kamar nanti akan ada pelayan yang mengantarkan makanan ke kamar. Marsell kau harus memperhatikan istrimu mulai sekarang, kurangilah pekerjaanmu. Kalian harus banyak menghabiskan waktu bersama," ujar Oma Gina memberikan saran.


"Aku baik-baik saja, Oma. Lebih enak jika makan bersama-sama seperti ini," ujar Meisya.


"Marsell, kau harus bersyukur karena memiliki istri seperti Meisya. Dia bukan hanya cantik tapi juga baik dan pengertian." Oma Gina menepuk pundak cucunya yang sejak tadi diam saja.


"Iya Oma." Maaf Oma, tidak akan mudah bagiku melupakan perasaanku pada Laura.


Mereka pun lanjut sarapan, sambil bercengkrama. Meisya lebih banyak diam dan mendengarkan mereka. Dia senang bisa makan ditengah-tengah keluarga yang begitu hangat itu. Terutama Oma Gina yang begitu baik padanya.

__ADS_1


"Ssstt Kakak ipar," panggil Nico berbisik.


Meisya menatap putra dari bibi Sira itu dengan kening yang berkerut. Laki-laki itu yang sering mengganggunya seminggu ini, meski terganggu tapi Meisya jadi tidak kesepian.


"Bagaimana tadi malam?" tanya Nico bisik-bisik.


Alis Meisya makin berkerut, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan adik sepupu dari suaminya itu.


"Apa sih, dia ini." Begitulah yang ada di kepala Meisya saat ini.


"Ish, kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu. Itu lohh, apa semalam kalian sudah melakukan itu." Memberi isyarat dengan jarinya.


Blush. Mengerti akan arah pembicaraan adik iparnya, pipi Meisya langsung bersemu merah. Dia melihat yang lain, berharap tidak ada yang melihat dan mendengar ucapan memalukan itu.


"Kau pura-pura lagi, apa perlu aku tanyakan pada Kakak sepupu."


Meisya langsung mencubit pinggang Nico untuk memperingatkannya. "Jangan macam-macam!" katanya dengan nada ancaman.


"Aaww ...." Nico mengaduh cukup keras saat merasakan cubitan di pinggangnya.


"Nico, kamu kenapa Nak?" tanya bibi Sira khawatir.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mah, hehehe." Nico memamerkan giginya.


Setelah situasi kembali seperti semula, Nico kembali berbisik pada Meisya. Dia tidak akan menyerah sebelum mengetahui bagaimana kakaknya yang kaku itu bisa berhubungan.


"Kenapa kau mencubitku Kakak ipar. Sepertinya kau benar-benar mau aku bertanya pada Kakak sepupu ya."


"Tidak, jangan tanyakan apapun padanya. Tidak ada yang terjadi tadi malam, kami kelelahan dan langsung tidur," jelas Meisya pada Nico. Berharap pemuda itu tidak bertanya lebih dalam lagi.


"Yaaa, gagal dong berarti. Atau jangan-jangan kakak sepupuku yang tidak bisa melakukannya," pikir Nico. Baginya sang kakak sepupu itu seperti kertas putih yang tidak tau apa-apa dalam sebuah hubungan. Buktinya dia begitu menjaga pacarnya yang berpacaran bertahun-tahun dan tidak menyentuhnya. Tentu saja Nico tau, sudah jelas bisa di lihat dari sikap Marsell.


...


Setelah makan. Mereka memutuskan untuk pulang. Marsell yang semula ingin membawa istrinya tinggal di apartemen agar tidak perlu berpura-pura di depan Oma dan bisa bebas. Kini terpaksa memenuhi permintaan Oma Gina untuk tinggal di rumah utama.


Tentu hal itu karena Oma Gina khawatir dengan hubungan sang cucu dan istrinya. Bagaimanapun hubungan mereka bukan karena cinta dan butuh proses untuk bisa saling menerima satu sama lain. Namun, Oma Gina takut jika Meisya mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya jika mereka tinggal di apartemen.


Mereka berdua masih di mobil, masih dalam perjalanan. Sementara yang lain sudah pulang lebih dulu.


Tidak ada percakapan yang terjadi, kedua orang itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Kenapa kau mau dijodohkan denganku? Apa Oma memberimu uang agar kau mau menikah denganku atau kau memang menginginkan posisi ini agar kau bisa mengeruk uang Oma lebih banyak." Ucapan Marsell bagai tuduhan yang sangat keji dan kejam. Tanpa tau apa yang terjadi dia berkata seperti itu.

__ADS_1


"Tuan, tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang."


__ADS_2