
Oma Gina baru saja menerima laporan kalau sang cucu pergi ke Paris. Tentu saja wanita tua itu begitu geram pada sang cucu. Yang notabene sudah menikah tapi masih menemui wanita lain. Oma Gina tidak habis pikir dengan cucunya, padahal saat hari itu dia berjanji akan memperlakukan istrinya dengan baik.
"Nyonya besar, Anda tidak apa-apa?" tanya bibi Jeni khawatir.
"Apa menurutmu aku sudah salah menempatkan Meisya diposisi yang sulit seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Jeni. Aku bahkan tidak berani menampakkan wajahku di depan orangtua Meisya jika kelakuan cucuku seperti ini." Oma Gina hanya berharap Cucunya bisa menemukan pendamping hidup yang tepat dan menurutnya hanya Meisya yang bisa membuat cucunya berubah.
"Kenapa Anda tidak mencoba mengatakan yang sebenarnya saja pada Tuan Marsell, Nyonya. Saya rasa kalau Tuan Marsell tau apa yang terjadi sebenarnya, dia akan lebih memperhatikan nona Meisya," saran Jeni.
"Tidak Jeni, aku tidak ingin Marsell merasa kalau pernikahannya karena balas budi. Aku ingin mereka bisa dekat dengan natural, karena aku yakin sekarang Meisya bisa membuat Marsell nyaman seperti dulu. Hanya dia yang bisa membuat Marsell kembali ceria saat dia baru saja kehilangan kedua orangtuanya."
"Kamu paham kan, Jeni. Aku ingin perasaan mereka itu murni dari hati mereka. Bukan karena masa lalu atau rasa kasihan atau yang lainnya." Oma Gina memikirkan cucunya dan berharap dia bisa berubah.
"Saya paham Nyonya, Anda benar. Jika perasaan itu tumbuh dengan sendirinya maka akan sangat kokoh nantinya."
__ADS_1
Dulu, dulu sekali saat Marsell masih kecil. Ia sering diajak Oma dan opa nya saat masih hidup, pergi ke rumah lama mereka yang ada di desa. Saat weekend biasa mereka akan menginap di rumah yang saat ini dijadikan villa. Di sanalah Marsell kecil bertemu dengan sesosok gadis kecil itu rambutnya selalu dikepang dua.
Gadis itu adalah putri dari tukang kebun dan pelayan di rumah Oma. Mereka sudah lama bekerja pada Oma, saat keluarga Oma pindah ke kota mereka yang ditugaskan merawat rumah dan perkebunan milik Oma Gina dan suaminya.
Marsell kecil yang pendiam dan tidak banyak bicara bertemu dengan gadis kecil yang ceria. Awalnya mereka tidak akrab karena kepribadian mereka jauh berbeda tapi kalau sering bertemu lama-lama mereka pun mau bermain bersama. Bahkan semenjak itu, Marsell yang lebih dulu meminta untuk pergi mengunjungi teman barunya. Oma Gina dan suaminya pun dengan senang hati menemani.
Kedua orangtua gadis itupun senang karena putrinya jadi ada teman bermain saat cucu dari majikannya datang. Bahkan mereka sering bermain di kebun teh bersama.
Ini tentu sangat berat untuk Marsell yang selama ini paling sering dengan opanya. Setelah kehilangan orangtua, dia juga kehilangan sang opa.
Oma Gina yang khawatir dengan kondisi mental cucunya pun berusaha bangkit demi sang cucu. Dia lebih sering mengajak Marsell berkunjung ke desa agar sang cucu tidak terlalu terpuruk.
Rencana Oma Gina berhasil, Marsell kembali ceria setelah beberapa hari. Tentu hal itu juga berkat kerja keras orang-orang sekitar.
__ADS_1
"Marsell, Meisya, ayo sini Nak. Kita makan siang dulu." Oma memanggil cucunya yang sedang bermain dengan gadis kecil yang bernama Meisya.
Mereka pun mendekat. Pakaian mereka kotor penuh lumpur, ayah Meisya pun menyiram mereka dengan kran air dingin yang ada di luar untuk membersihkan lumpur yang menempel di tubuh mereka berdua.
Tawa canda dan keceriaan mulai terasa kembali. Marsell tidak jadi pendiam lagi.
Sampai suatu hari, saat Marsell sedang bermain dengan Meisya sesuatu terjadi padanya yang berakibat sangat fatal. Tiba-tiba ada seekor ular berbisa datang menghampiri mereka yang sedang bermain. Panik, tentu saja. Mereka kan hanya anak kecil. Meisya yang lebih dulu melihat ular itu sedang bergerak ke arah temannya pun menjerit dan membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah mereka.
"Aaa ada ulaaarrr, awas ada ulaaarrr!!!"
"Hah di mana? Di mana ularnya?" Marsell tidak tau jika binatang itu sekarang tepat di belakangnya. Kepala dan lehernya sudah berdiri, bersiap menyerang apa saja yang dianggap sebuah ancaman.
Oma dan para pelayan pun panik, Oma Gina berteriak agar sang cucu tenang tapi Marsell yang berbalik dan dihadapankan dengan seekor ular sebesar lengannya itu pun ketakutan. Dia mencoba mundur tapi ...
__ADS_1