
Akhirnya Marsell bisa pulang juga setelah membujuk Laura dengan susah payah. Dia kelihatan sangat tidak nyaman saat berada di sana. Entah mengapa dia tidak nyaman saat Laura terus menempel padanya.
"Apa Oma bertanya tentang keberadaanku?" tanya Marsell pada asistennya.
"Beliau hanya bertanya sekali, setelah mendengar jawaban saya sesuai dengan perintah Anda. Nyonya besar tidak lagi bertanya."
Marsell mengangguk lega karena Omanya tidak curiga. Dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Apa Anda dan nona Laura masih bersama?" tanya Gio penasaran.
"Entahlah, dia tidak mau berpisah dan mengancam akan melakukan hal berbahaya lagi kalau aku memutuskannya. Aku tidak ingin melihatnya terluka lagi, aku merasa bersalah melihat dia terluka. Mungkin apa yang aku lakukan sudah terlalu kejam, meninggalkan dia begitu saja lalu menikah dengan orang lain."
"Menurut saya, Anda tidak bersalah Taun. Bukankah Anda sudah berusaha melamar nona Laura."
"Ya kau benar, apa menurutmu aku ini egois karena tidak mau menunggu dia. Tapi aku juga tidak bisa melihat Oma bersedih terus karena mengkhawatirkanku yang belum menikah. Para pemegang saham juga tidak akan percaya padaku jika aku belum menikah."
"Tidak Tuan, Anda sudah menunggu dan bersabar sangat lama. Bukankah seharusnya nona Laura yang mengalah. Eh, maaf karena sudah lancang Tuan." Gio memukul mulutnya sendiri.
"Entahlah, aku tidak bisa menyalahkan Laura. Kau tau kan kelemahan ku kalau sudah benar-benar mencintainya. Dia hanya ingin menggapai mimpinya dan sekarang aku sudah melepaskannya tapi dia yang tidak mau berpisah dengan ku." Marsell memijit pelipisnya.
__ADS_1
Gio hanya melihat dari spion. Kasihan pada tuannya tapi kenapa tuannya sama sekali tidak menanyakan tentang Istrinya. Apa dia sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya.
"Apa Anda masih mencintai nona Laura, Tuan?" tanya Gio berhati-hati.
Marsell melihat ke arah lain, dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.
"Aku sudah berpacaran dengan Laura sangat lama, tidak mungkin perasaan ku hilang begitu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Ah tidak Tuan, saya hanya ingin tau saja. Lalu bagaimana dengan istri Anda?"
"Heh, apa sekarang kau sudah mulai berani banyak bertanya!" Marsell tidak suka.
Biarlah itu menjadi urusan tuannya.
Marsell sendiri tidak tau apa yang terjadi pada perasaannya. Mengapa dia tidak nyaman saat berada di dekat Laura tapi dia tidak mau mengakuinya. Ya, tidak ia pungkiri kalau dia terbayang-bayang wajah sang istri saat bersama Laura tapi menurut Marsell itu hanya karena dia merasa bersalah saja.
Marsell sampai di rumah tepat saat sebelum jam makan malam. Dia bertemu sang Oma di lantai bawah tapi wanita tua itu tidak banyak bertanya seperti biasanya. Dia hanya bertanya apa Marsell baik-baik saja. Setelah tau cucunya baik-baik saja, Oma Gina tidak bertanya yang lain. Ini aneh, padahal biasanya sang Oma akan bertanya banyak hal pada sang cucu.
Ada apa dengan Oma.
__ADS_1
Marsell merasa kehilangan sosok omanya yang biasanya sangat mencemaskannya. Walaupun biasanya Marsell tidak begitu nyaman saat sang Oma banyak bertanya tapi saat omanya tidak lagi bertanya seperti biasa, Marsell justru merasa ada yang kurang.
Meisya juga menyambut sang suami seperlunya saja. Seperti membawakan tas dan menanyakan apakah mau dibuatkan minuman atau tidak, mau disiapkan air untuk mandi atau tidak. Meisya benar-benar membatasi dirinya agar tidak terlibat terlalu banyak dengan sang suami. Mau suaminya melakukan apa, Meisya rasa itu bukan kapasitas nya untuk banyak bertanya karena laki-laki itu sendiri yang mengatakan kalau pernikahan mereka hanya sebatas demi Oma.
Marsell mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk mendinginkan kepalanya dan pikirannya. Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya. Bukankah ini yang ia inginkan, bisa bertemu dengan Laura tanpa ada yang banyak bertanya dan menyuruhnya untuk pulang. Ya, karena biasanya saat baru sehari saja Marsell pergi menemui Laura, maka Oma akan terus menghubunginya. Dan saat itu Marsell akan kesal karena waktu nya bersama Laura akan terganggu. Tapi sekarang, dia sama sekali tidak merasa senang setelah beberapa hari menemui Laura.
Lalu bukankah itu yang dia inginkan, agar istrinya juga tidak ikut campur dalam urusan pribadinya. Tapi kenapa rasanya aneh. Dia jadi merasa asing.
"Sepertinya ini hanya perasaanku saja, aku pasti hanya kelelahan jadi banyak pikiran."
Usai membersikan diri, dia keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sedang meletakan teh yang ia minta tanpa sepatah katapun.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi?" tanya Meisya.
"Tidak."
Meisya pun pergi, dia merasa laki-laki itu tak nyaman saat ada dirinya.
"Isshh kenapa aku sebenarnya!" kesal Marsell saat melihat wanita itu pergi. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya terasa sangat kaku.
__ADS_1