Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
11. Kesepakatan


__ADS_3

Sungguh pemikiran yang sangat sempit jika Marsell berpikir istrinya menikah dengan dirinya hanya karena harta. Tidak bisakah dia melihat jika perempuan yang duduk di sebelahnya itu sangat murni.


Cih, memangnya apalagi jika bukan karena uang dan status. Bukankah semua wanita itu sama saja menginginkan hal itu.


Pria berwajah campuran Eropa itu berdecih tidak percaya dengan perkataan perempuan yang duduk di sampingnya itu. Dia tetap beranggapan jika semua wanita sama saja. Hanya Laura yang berbeda, menurutnya sang kekasih tidak pernah tertarik pada hartanya dia justru ingin membuktikan jika dia pantas bersanding dengan Marsell.


"Apa kau yakin, lalu kenapa kau mau menikah denganku jika bukan karena uang?" tanya pria itu lagi ingin tau motif perempuan itu.


"Karena Oma dan karena orangtua saya. Anda mungkin tidak akan percaya tapi itu tidak masalah bagi saya. Kita cukup jalani pernikahan ini sesuai keinginan Oma, sampai waktu yang pas. Anda bisa menceraikan saya. Atau kita perlu membuat perjanjian, tepatnya berapa lama Anda akan mempertahankan pernikahan ini?" ujar Meisya dengan wajah tenang. Dia mengatakan mengenai perpisahan tanpa beban.


"Satu tahun cukup. Cukup untuk meyakinkan Oma. Dia akan mengerti kalau kita tidak bisa saling mencintai," balas Marsell.


"Baiklah, terserah Anda saja. Saya akan mengikuti permainan Anda, saya juga akan menjalani peran sebagai istri dengan baik. Tenang saja, bukan karena saya ingin mendapatkan simpati dari siapapun tapi karena itu adalah tugas saya sebagai istri. Jadi saya mohon Anda tidak menolak apa yang saya lakukan dalam menjalankan tugas-tugas saya."


"Baik, dan ingat satu hal lagi, kamu tidak boleh mencampuri urusanku. Sepakat?!" Marsell menghentikan mobilnya lalu mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan.


"Sepakat!" seru Meisya sambil bersalaman dengan suaminya.

__ADS_1


Mereka tidak tau jika kesepakatan itu nantinya akan merubah hidup mereka.


...


Di sebuah apartemen mewah kelas atas di negara Prancis. Seorang wanita sudah dua hari ini mengurung diri di kamarnya. Tidak melakukan apapun hanya menangis, makan sedikit lalu tidur lagi. Dia bahkan sudah tidak memperdulikan lagi penampilannya yang biasanya selalu ia prioritaskan. Penampilan yang tidak boleh cacat barang sedikit saja, kini sangat kacau. Rambutnya bak singa, kulitnya kusam, lingkaran mata menghitam seperti panda.


"Apa dia masih mengurung diri di kamar?" tanya sang manajer pada sang asisten artis yang menunggui wanita itu di apartemen tersebut.


"Iya, Nona Laura sama sekali tidak keluar kamar. Makan juga sedikit, jendela kamarnya bahkan tidak boleh dibuka. Sepertinya dia benar-benar terpukul karena ditinggal nikah oleh kekasihnya," ujar sang asisten prihatin dengan keadaan nonanya.


"Mana makanannya, biar aku bawa ke dalam. Tidak bisa begini terus, banyak iklan dan syuting yang menanti dia di depan dan kontraknya sudah ditandatangani. Kita harus membayar ganti rugi yang besar jika tidak menjalankan tugas sesuai dengan isi kontrak," ujar Melly. Dia mengambil alih nampan yang berisi makanan untuk dibawa ke dalam. Dia akan berusaha membujuk Laura agar kembali bangkit. Dia tidak bisa mengorbankan semuanya hanya karena patah hati yang tidak berguna itu. Seperti tidak ada laki-laki lain saja, pikir Melly.


"Baby, boleh aku masuk?" tanya Melly. Dia tidak ingin terkena amukan Laura jadi lebih baik bertanya lebih dulu.


"Pergi!! Aku tidak mau bertemu dengan siapapun!!" teriak Laura dengan suara melengking.


"Baby, aku membawa makanan kesukaanmu. Aku suapi ya." Melly masuk meski Laura mengusirnya. Dia harus berhasil membujuk perempuan itu saat ini. Tidak ada waktu lagi, besok Laura sudah harus syuting iklan yang sudah ditandatangani.

__ADS_1


"Keluar aku bilang! Aku tidak mau!" Laura melempar bantal ke arah managernya dengan membabi buta.


"Huh untung tidak kena." Beruntung karena bantal itu hanya mengenai kaki Melly.


"Laura sayang, kamu makam dulu ya. Lihatlah tubuhmu sangat kurus sekarang, makan dulu ya," bujuk Melly. Dia menyodorkan sesuap sendok makan.


Namun, Laura justru bersikap kurang ajar. Dia malah menyingkirkan tangan Melly hingga makanan yang wanita itu pegang pun terjatuh ke lantai.


Prank!!


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Melly sungguh habis kesabarannya. Dia sudah bersabar dan mencoba mengerti artisnya tapi Laura justru bersikap demikian.


Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di mulus Laura. Jika itu dulu maka Melly tidak akan berani menyentuh Laura karena berhadapan dengan Marsell. Padahal Melly terkenal sebagai manager yang sangat tegas dan tidak kenal ampun jika ada yang membuat kesalahan. Hanya pada Laura, dia bersikap lembut tapi sekarang tidak lagi.


"Sampai kapan kau akan seperti ini? Menangis tidak akan menyelesaikan masalah! Apa kau pikir, dengan begini Marsell akan kembali padamu begitu saja! Tidak! Dia justru akan ilfil padamu jika melihat keadaanmu seperti ini. Kau harus bangkit Laura! Tunjukkan pada semua orang jika Laura ada penyanyi hebat yang pantas mendapatkan penghargaan. Setelah kau mendapatkan semua itu, kau bisa kembali ke Indonesia dan menunjukkan pada Marsell dan keluarganya kalau kau hebat."


Perlahan mata yang memerah itu menatap Melly. Tatapan mata sang bintang yang biasanya bersinar kini sungguh sangat miris.

__ADS_1


"Ayo bangkit Laura, kau harus menunjukkan pada mereka kalau kau bisa dan mampu mendapatkan penghargaan itu!" seru Melly lagi menyemangati perempuan yang terlihat seperti tidak bernyawa itu.


__ADS_2