
Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dialah laki-laki yang akan menjadi mempelai laki-laki di acara pernikahan itu. Marsell Weiner cucu tertua dari Presdir perusahaan Kosmetik terlaris di negara Indonesia saat ini. Kosmetik yang sedang digandrungi masyarakat, mulai dari bedak, pelembab, lipstik, sampo, handbody yang bisa memutihkan dengan sekali pakai, ada juga serum anti kerut dan banyak lagi produk lainnya. Hampir semua produk keluaran dari perusahaan itu menjadi best seller di kalangan masyarakat.
Marsell berjalan dengan langkah tegas, menggunakan tuxedo yang senada dengan gaun pengantin yang dipakai mempelai wanitanya. Kedatangan pria itu menyita perhatian wartawan dan tamu undangan. Seketika sorot lampu kamera langsung tertuju pada pria itu. Para tamu juga memperhatikan sang pemeran utama yang baru saja hadir di acara pernikahannya sendiri.
Oma Gina menatap cucunya penuh kekecewaan, jika memang dia tidak mau seharusnya menolak dari awal bukannya malah membuat gadis yang tidak bersalah dipermalukan dengan sangat tidak hormat. Sebelum Marsell datang, baru saja Oma Gina berencana membatalkan acara itu. Dia sungguh tidak tega melihat Meisya menanggung hinaan yang seharusnya tidak ia dapat.
"Oma, aku—" Melihat omanya begitu kecewa membuat Marsell merasa sangat bersalah.
"Pergilah nak, jika kamu memang tidak mau menikah dengan gadis pilihan Oma. Kamu tidak perlu datang ke sini. Pergilah, Oma tidak akan memaksamu," ujar oma Gina. Kecewa sampai tidak mau melihat cucunya.
Deg. Baru pernah Marsell melihat omanya sangat kecewa padanya. Biasanya sekecil apapun kesalahannya, sang Oma pasti akan memaafkan begitu saja.
"Jeni, ajaklah Meisya kembali ke dalam dan bilang pada para tamu untuk pulang karena acaranya sudah selesai," perintah Oma Gina pada asisten pribadinya.
"Baik Nyonya besar."
__ADS_1
"Sira, tolong bantu aku masuk ke dalam. Aku ingin beristirahat." Oma Gina menyuruh putrinya untuk memegang tangannya.
Gina menghampiri Meisya yang masih berdiri di atas altar seorang diri. Sejak tadi bahkan Marsell sama sekali tidak melihat mempelai wanita yang sudah dibuat menunggu lama itu. Dengan sepatu hak tinggi yang tidak terbiasa ia kenakan, menahan sakit pada tumitnya. Namun semua itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa malu dan terhina yang ia dapat dari para tamu undangan.
Dan sejak tadi meski dia mendengar para tamu undangan menyebutkan jika calon suaminya sudah datang. Dia sama sekali tidak berminat untuk melihatnya.
"Nona, mari kita masuk. Oma Gina menyuruh Anda untuk masuk." Jeni mengulurkan tangannya membantu gadis itu untuk berjalan.
Awalnya, Meisya terkejut tapi dia hanya menurut. Di sana dia tidak punya hak untuk bersuara. Dia pun mengikuti perintah Oma Gina dan pergi dengan Jeni.
"Tunggu Oma, aku akan menikahinya. Maafkan aku, tolong beri aku satu kesempatan lagi, Oma." Melihat sang Oma begitu kecewa membuat hati Marsell teriris. Dia baru menyadari kalau tindakannya sudah keterlaluan.
Oma Gina tersenyum pada cucunya, mengusap wajah tampan kebanggaannya. Dia memang kecewa sangat kecewa karena sang cucu telah membuat dirinya malu tapi yang membuat Oma Gina sangat-sangat terluka adalah saat melihat Meisya menitikkan air mata diam-diam. Dia sudah berjanji pada orangtua gadis itu untuk menjaga dan menyayangi Meisya. Oma Gina sangat merasa bersalah pada Meisya.
"Tidak perlu nak, menikahlah dengan orang yang ingin kau nikahi. Maaf karena Oma sudah memaksamu. Sekarang terserah padamu, tidak perlu memikirkan Oma lagi."
__ADS_1
Perkataan itu bagai tamparan bagi Marsell. Orang yang paling dia sayang di dunia ini menatapnya penuh kecewa dan sekarang tidak memperdulikannya lagi. "Oma ... tidak Oma. Maafkan aku ... aku tidak bermaksud membuat Oma sedih seperti ini. Tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku Oma. Ijinkan aku menikahi gadis pilihan Oma. Aku mohon Oma," ucap Marsell penuh penyesalan.
Di luar dugaan, Oma Gina justru tersenyum mendengar ucapan cucunya. Dia sudah menyadari tadi kalau pernikahan itu tetap berjalan maka bukan hanya Meisya akan menderita karena menikah dengan cucunya yang masih mencintai wanita lain. Tapi sang cucu juga akan menderita.
"Tidak nak, pernikahan ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Oma juga tidak ingin menjerumuskan gadis baik seperti Meisya untuk menikah denganmu. Cukup kamu mempermalukannya seperti ini, dia tidak bersalah dan tidak tau apa-apa. Semua salah Oma yang memaksakan kehendak padamu."
"Tidak Oma, Oma tidak bersalah. Oma hanya mengkhawatirkan aku. Oma, aku akan menikah dengannya. Aku akan mewujudkan keinginan Oma." Marsell berjalan mendekati gadis yang sejak tadi diam. Lalu dia meraih tangan gadis itu, mengambilnya dari Jeni.
"Tuan ...." Jeni pikir keputusan Oma Gina sudah tepat tadi. Dia juga khawatir kalau pernikahan itu tetap dilaksanakan.
"Nona, siapapun kamu. Maafkan aku, sekarang menikahlah denganku. Tolong bekerjasamalah." Setelah membisikkan kalimat itu, Marsell mengajak wanita itu untuk mengikutinya kembali ke altar. Laki-laki itu memberikan tangannya menunggu gadis itu.
Meisya mengangkat kepalanya, saat itulah pertama kalinya mereka bertatapan. Bola mata cantik milik Meisya bertemu dengan mata tajam milik laki-laki itu. Gadis itu melihat Oma Gina untuk meminta pendapat. Jujur dia tidak bisa memutuskan apapun saat ini.
"Mata itu ...."
__ADS_1