Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
19.


__ADS_3

Sepanjang hari Meisya disibukkan dengan merawat Oma dan menemani Oma Gina. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan karena Oma tidak mengijinkan. Dia berkata, Meisya di rumah itu adalah cucu menantunya bukan pembantu. Walaupun sebenarnya Meisya tidak pernah berpikir demikian, dia hanya suka mengerjakan sesuatu. Seperti saat masih berada di desa, dia juga rajin membantu orangtuanya.


"Oma, apa ini tehnya." Meisya memberikan teh pada Oma Gina yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Terimakasih, duduklah nak. Oma mau bicara," ujar Oma Gina.


"Iya Oma. Apa yang ingin Oma bicarakan?"


Oma Gina tidak memberitahu Meisya jika sang suami tengah pergi melihat wanita itu. Tentu Oma ingin menjaga perasaan cucu menantunya.


"Apa kau mau melanjutkan kuliah?" tanya Oma Gina.


Sebenarnya itu adalah kesempatan yang Meisya tunggu. Sejak dulu pun kedua orangtuanya membujuk dia untuk melanjutkan pendidikan tapi karena banyak pertimbangan termasuk Meisya yang tidak ingin jauh dari kedua orangtuanya. Jadilah Meisya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Ya, itu karena universitas letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya dan mungkin Meisya harus mencari tempat tinggal yang lebih dekat selama kuliah yang artinya akan jauh dari kedua orangtuanya.


Bukannya Meisya tidak bersyukur karena banyak di luaran sana yang ingin melanjutkan pendidikan tapi tidak bisa. Namun, Meisya melihat bagaimana kondisi orangtuanya yang begitu lemah, sakit-sakitan dan yang Meisya pikir entah sampai kapan dia bisa bersama keluarganya. Dia tidak ingin membuang waktu di luar saja lalu menyesal karena tidak bisa merawat kedua orangtuanya.


"Oma ... bukan aku tidak mau tapi aku masih perlu banyak pertimbangan. Dan lagi mungkin aku di sini hanya sampai tahun depan. Aku ingin kembali ke rumah setelah tugasku di sini selesai." Maksud Meisya adalah tugasnya sebagai istri.

__ADS_1


"Nak, sungguh Oma berharap kamu bisa selamanya menjadi cucu menantu Oma."


"Ya, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya Oma. Namun, sepertinya kalau kuliah aku tidak bisa. Jika Oma mengijinkan aku ingin mencari pekerjaan saja selama tinggal di sini," ujar Meisya.


"Pekerjaan? Untuk apa nak? Apa kau butuh uang? Kau bisa bilang pada Oma."


"Tidak Oma, aku hanya ingin mencari kegiatan dan menghasilkan uang sendiri. Oma sudah terlalu baik padaku dan keluarga ku. Aku tidak bisa terus-terusan menyusahkan Oma."


"Sama sekali tidak nak. Oma telah berjanji pada orangtuamu. Oma akan menjaga dan menyayangimu seperti cucu Oma sendiri jadi tidak ada kata menyusahkan sebagai cucu Oma. Kau bisa katakan pada Oma atau pada Jeni jika membutuhkan sesuatu," ujar Oma.


Meisya tidak berhasil membujuk Oma Gina agar bisa bekerja. Walaupun semuanya sudah tersedia di sana tapi Meisya juga ingin menghasilkan uang sendiri agar tidak perlu minta pada siapapun.


"Maaf ya nak, seharusnya Marsell mengajakmu untuk menemui kedua orangtuamu tapi dia masih sibuk dengan pekerjaannya," ujar Oma.


"Tidak apa-apa Oma." Meisya tersenyum miris. Namun dia tau kalau tidak boleh banyak berharap pada lelaki itu.


Di kejauhan ada Sira yang memperhatikan interaksi antara istri keponakannya dan ibunya. Tentu dia merasa tidak senang karena ibunya begitu dekat dan bersikap baik pada gadis desa seperti Meisya. Sira juga mendengar kalau Meisya hanya anak pekerja kebun teh milik ibunya. Entah bagaimana sang ibu menjodohkan cucunya sendiri dengan orang biasa seperti Meisya.

__ADS_1


"Apa yang Mamah lihat?!" tanya Nico mengagetkan mamahnya.


"Hampir saja Mamah terkena serangan jantung karena kamu. Kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu?" tanya Sira pada putranya yang menggunakan celana jeans dan jaket kulit.


"Ah, itu. Tentu saja aku mau kuliah. Daahh Mamah. Ohh ya, jangan terlalu sering mengintip nanti Mamah bintitan," ledek Nico saat mengetahui mamahnya sedang mengintip Oma Gina dan kakak iparnya.


"Kau anak nakal, awal nanti Mamah jewer kamu," kesal Sira tapi tidak mengejar ke bawah.


Nico berjalan ke arah omanya yang sedang mengobrol dengan kakak iparnya.


"Oma ... Kakak ipar," sapa Nico.


"Nico, kau mau kemana? Bukankah hari ini tidak ada jadwal kuliah." Oma tentu saja tau apa saja jadwal cucunya. "Kau pasti mau balapan lagi?" tebak Oma Gina.


Nico menggaruk tengkuknya, susah sekali membohongi sang Oma.


"Tidak Oma, aku itu mau mengajak Kakak ipar jalan-jalan. Iya benar, Kakak ipar pasti belum pernah berjalan-jalan di kota kan. Aku mau mengajaknya kalau begitu, aku kan tau kalau kakak sepupu pasti sibuk jadi aku yang akan mengajak Kakak ipar jalan-jalan," ujar Nico bicara asal. Hari ia ini ada pertandingan antar geng, sebagai ketua geng di kampusnya, Nico harus mengalahkan geng lain.

__ADS_1


"Aku??" ujar Meisya penuh tanda tanya.


__ADS_2