Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
30


__ADS_3

Jika kalian mengira Meisya akan marah atau menangis melihat Laura datang. Kalian salah besar karena saat ini, wanita hebat itu berdiri dengan tenang dan tersenyum. Sama sekali tidak ada dendam dalam hatinya ataupun perasaan benci seperti yang semua orang rasakan.


Meisya tersenyum pada Laura yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Sama sekali tidak niatan untuk mengusir wanita itu dari sana. Meisya justru sedang menenangkan Oma Gina agar dia tidak tersulut emosi.


"Untuk apa wanita itu datang kemari, cepat usir dia Jeni! Usir wanita yang sudah menyebabkan Marsell kita celaka! Dasar jal**g! Penggoda suami orang!" maki bibi Sira. Meski selama ini dia tidak begitu akur dengan keponakannya tapi melihat anak dari kakaknya tak berdaya dan berlumuran darah membuat dia iba dan merasa bersalah.


Oma Gina sendiri tetap diam sama sekali tidak mau melihat wajah wanita itu. Sebelum ada kejadian seperti ini saja, Oma tidak pernah suka dengan Laura. Ditambah kejadian seperti ini menambah kebencian di hati Oma.


Meisya menggenggam tangan Oma Gina agar beliau tenang. Percayalah kalau Marsell pasti baik-baik saja.


Sementara bibi Sira dan juga Nico sedang menghadang Laura dan managernya agar tidak mendekat. Berbagai makian mereka lontarkan untuk Luar.


"Dasar wanita tidak tahu malu, pergi sana! Tidak usah menemui keponakan ku lagi," usir bibi Sira.


"Benar kata mamahku, lebih baik Anda pergi dari sini. Kedatangan Anda tidak diharapkan di sini. Kakakku tidak akan seperti ini kalau bukan karena kamu. Lebih baik kau urusi saja karier mu. Mengapa setelah kakakku menikah, kau masih saja tidak mau melepaskannya. Apa jadinya kalau sampai para fansmu tau kalau idola mereka ternyata perebut suami orang!" Niko mendukung penuh ibunya yang sedang memberantas pelakor.

__ADS_1


"Betul itu, lebih baik kita viralkan saja biar hancur karirnya wanita itu!" Bibi Sira bersiap mengambil ponsel untuk merekam.


"Bibi Jeni, bisakah kau hentikan Nico dan bibi Sira," pinta Meisya.


"Baik Nona." Jeni menghampiri mereka berempat yang sedang bersitegang. Beruntung di lantai itu telah di sterilkan agar tidak ada pasien lain.


Meisya tidak tinggal diam melihat hal itu. Walaupun dia telah disakiti tapi dia tidak mungkin membiarkan wanita itu viral karena akan berdampak pada suami dan keluarganya juga.


"Nyonya, Tuan Nico. Mohon hentikan. Nyonya besar ingin kalian berhenti," ujar Jeni menghentikan mereka.


"Biarkan saja Jen, wanita seperti dia harus diberi pelajaran agar berhenti mengganggu suami orang. Wanita hina dan tidak tau malu." Cacian dan makian terus terlontar dari mulut bibi Sira.


"Maaf, maafkan aku. Tapi aku mohon ijinkan aku melihat keadaan Marsell. Aku juga tidak bersalah, kami saling mencintai dan kalian semua tau itu, tapi kalian malah menyuruh Marsell menikah dengan orang lain," ujar Laura membela diri.


Bibi Sira meludahi Laura, geram dengan perkataan wanita itu. Hal itu tentu saja mematik amarah Laura.

__ADS_1


"Hai Jala*g! Aku bersyukur keponakan ku tidak menikah dengan mu. Wanita murahan!"


Laura marah, begitupun Melly yang sejak tadi diam. "Hai Nyonya, kami datang baik-baik kenapa Anda berbuat seperti ini pada Laura!"


"Apa kau, diamlah kalau tidak punya urusan dengan keluargaku!" sentak Sira.


Tak lama pintu kamar operasi terbuka, dokter keluar dari ruangan itu. Meisya, Oma Gina dan semua orang menghampiri dokter untuk mengetahui keadaan Marsell saat ini.


"Bagaimana dengan cucuku dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Oma.


"Nyawa cucu Anda berhasil selamat, hanya saja ada sedikit masalah pada bagian kakinya. Kami sudah memeriksa tapi untuk lebih jelasnya tunggu dia siauman," ujar Dokter.


"Apa masalahnya serius dok? Apa lukanya parah!" Oma Gina cemas.


"Saya tidak bisa mengucapkan pasti sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nanti akan saya beri tau hasilnya. Kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


"Apa kami boleh menemui cucuku Dok?"


"Tentu saja biisa, silahkan nanti setelah cucu anda dipindahkan ke ruangan rawat."


__ADS_2