
Meisya tidak menyangka kalau dia akan ikut adik sepupu suaminya pergi keluar. Awalnya dia menolak karena merasa aneh tapi karena kata Oma Gina tidak masalah jadi dia pun ikut. Tapi kalau dipikir-pikir adik iparnya yang sepertinya dari awal tidak suka dan merendahkannya itu mana mungkin mau mengajaknya jalan-jalan. Meisya merasa ada yang aneh, dia sedang menunggu laki-laki itu bicara.
"Terimakasih, karena Kakak ipar. Aku jadi bisa pergi keluar. Hari ini aku mau ada pertandingan balap mobil jadi aku harus pergi."
"Balapan?!" terkejut Meisya.
"Iya, apa Kakak ipar terkejut."
"Apa Oma tau?" tanya Meisya.
"Tentu saja tidak, karena itulah aku berbohong. Aku minta tolong pada kakak ipar untuk merahasiakan hal ini dari Oma. Anggap saja aku berhutang budi pada Kakak ipar, lain kali gantian aku yang akan menolong kakak ipar jika Kakak ipar membutuhkan bantuan."
"Tapi—" Meisya ragu jika harus membohongi Oma Gina yang begitu baik.
"Please, Kak. Aku janji ini yang terakhir! Aku harus melawan kampus Harapan agar mereka berhenti mengganggu anak-anak kampusku. Jika aku menang, anak-anak kampus lain sudah berjanji tidak akan mengganggu atau melukai anak kampusku," ujar Nico memohon.
__ADS_1
Meisya menghela nafas, "Baiklah, tapi berjanjilah kamu harus berhati-hati."
"Siap Kakak ipar." Nico pun sangat senang. "Ohh iya, maaf kalau dari kemarin sikapku menyebalkan. Aku memang seperti itu, suka mengganggu orang lain. Aku harap kakak ipar tidak masalah dengan hal itu."
"Hmmm tidak apa-apa," jawab Meisya.
Mereka sampai di tempat diadakannya balapan liar antar kampus. Yang akan diwakili oleh ketua geng masing-masing.
"Ayo turun, Kakak ipar. Nanti kakak ipar bisa menonton dari kursi penonton dan menjadi suporterku, hehehe."
Meisya melihat banyak orang di sana, "Aku akan menunggu di sini," ujar Meisya.
Meisya pun turun dan mengikuti kemana Nico pergi. Banyak yang mengira kalau Meisya adalah kekasih baru Nico, tapi melihat penampilannya yang sederhana dan kampungan rasanya tidak mungkin jika Meisya adalah kekasih si keren Nico. Begitulah tanggapan orang-orang. Akhirnya Nico memperkenalkannya Meisya pada semua orang sebagai istri dari kakak sepupunya.
Para wanita pun mulai bersikap baik pada Meisya, bahkan ada yang membelikannya cemilan dan minuman setelah tau kalau dia adalah keluarga Nico.
__ADS_1
Suasana mulai ricuh saat Nico dan lawannya itu sudah memasuki mobil yang akan mereka gunakan untuk balap. Lalu mereka mulai menyalakan mesin mobil itu dan suara kerasnya pun menggaung di arena balap. Meisya sangat khawatir akan keselamatan adik iparnya.
Brem brem!! Debu di jalanan pun berterbangan karena roda yang dibuat berputar dengan kecepatan penuh itu. Suara bisingnya justru membuat semua penonton bersorak Sorai.
Semua orang meneriakkan jagoan masing-masing. Mungkin hanya Meisya yang tenang dan berdoa di sana, untuk keselamatan adik sepupu suaminya itu.
...
Sementara sang suami saat ini masih di Prancis. Menemani Laura yang sejak tadi tidak mau ia tinggal. Ya, beberapa saat yang lalu Laura baru saja siuman. Dia sangat senang melihat lelaki yang ia cintai ada di sana. Dia yakin kalau Marsell masih mencintainya. Dia pun memanfaatkan kesempatan untuk bermanja pada lelaki itu.
"Sekarang makanlah, setelah ini aku harus segera pulang," ujar Marsell.
Tentu saja mata wanita itu langsung berkaca-kaca mendengar lelaki itu akan meninggalkannya lagi. "Tidak bisakah kamu di sini saja. Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
"Laura, please! Bukankah aku sudah memberimu pilihan waktu itu. Kamu sendiri yang memilih karir mu. Sekarang sudah tidak ada lagi yang menghambat jalanmu, seharusnya kamu senang kan?"
__ADS_1
"Hiks ... jangan pergi. Aku mohon .... Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh menyesal." Laura memeluk Marsell dan menangis memohon agar lelaki itu tidak pergi dari sana.
Marsell tidak membalas atau pun melepaskan pelukan Laura. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Tapi di satu sisi dia merasa bersalah telah melakukan ini. Pergi ke Prancis saja dia merasa sudah berbuat salah.