Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara
13.


__ADS_3

Semua orang sudah berkumpul di meja makan tanpa terkecuali. Memang sudah tradisi setiap makan harus di meja makan bersama-sama. Kali ini Meisya duduk di samping suaminya, sejak tadi dia sudah menyajikan makanan untuk semua orang. Dia juga sudah mengisi piring suaminya. Saat semua orang bersiap makan, dia sangat gugup memperhatikan ekspresi mereka.


"Hmmm ...." Oma Gina tersenyum setelah memasukan suapan pertamanya. Begitupun dengan semua orang, tidak ada yang berkomentar jika makanannya tidak enak.


Akhirnya Meisya bisa lega juga, melihat wajah semua orang tampak menikmati makanan yang ia buat. Dia pun mulai memakan makanan yang ada di atas piringnya.


Satu persatu makanan mulai habis tak tersisa. Mereka semua menikmatinya dan ingin terus makan. Dalam hati Meisya sangat senang melihat makanan-makanan itu habis tak tersisa.


"Hmmm makanan pagi ini sangat enak. Oma sangat menyukainya, apa kamu juga suka Sira?" tanya Oma pada putrinya.


"Suka Mah, enak. Apa koki kita ganti tapi sepertinya tidak, kalau ada pelayan baru aku pasti tau." Ya karena yang bertugas mengawasi rumah adalah Sira selama ini. Berbeda tugas dengan Jeni.


"Ternyata pikiranmu sama denganku."


Deg. Meisya gugup, dia memang sengaja tidak mengatakan kalau dia yang sudah masak semua ini. Dia takut jika mengatakannya, mungkin mereka tidak mau memakannya karena bukan koki profesional yang memasak.


"Jeni, ada apa dengan semua makanan ini. Kenapa rasanya berbeda dengan biasanya?" tanya Oma Gina pada asisten Jeni yang setia berdiri di sana.


"Yang memasak semua ini Nona Meisya, Nyonya Besar," lapor Jeni.


Meisya meremat ujung dressnya saat semua orang memandang ke arahnya.


"Nak, apa benar itu? Kau yakin sudah memasak semua ini?" tanya Oma Gina pada cucu menantunya yang sedang menunduk.


"Ma—maaf Oma, maaf karena aku tidak ijin terlebih dahulu pada Oma." Bola mata Meisya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa kamu meminta maaf Nak. Masakan buatanmu sangat enak, justru Oma mau berterimakasih."


Meisya baru mau mengangkat kepalanya. Melihat Oma dan semua orang. "Oma tidak marah karena aku menyentuh dapur Oma?" tanya Meisya.


"Hahaha kamu itu lucu sekali. Untuk apa Oma marah. Kamu adalah bagian dari keluarga ini, kamu bebas melakukan apapun di rumah ini. Oma melarangmu melakukan pekerjaan rumah seperti memasak dan lainnya karena Oma tidak mau kamu kecapean. Bukan karena tidak boleh."


"Maaf Oma, aku sudah salah sangka. Jadi apa boleh mulai sekarang aku memasak untuk makan kita semua."


"Boleh tapi Oma tidak setuju jika pagi, siang dan malam kamu memasak. Kamu bisa pilih sehari cukup satu atau dua kali saja. kamu harus lebih fokus pada suamimu," ujar Oma.


"Terimakasih Oma, aku pasti tidak akan melupakan tugasku." Meisya bahagia karena dia berguna juga di sana tidak hanya seperti pajangan di rumah itu.


"Ck, hanya seperti itu saja sudah bahagia sekali," gumam bibi Sira yang masih tidak suka dengan keberadaan istri keponakannya itu.


"Terimakasih." Meisya lega karena semua orang suka. Meski masih ada yang tidak berkomentar dan terlihat tidak suka saat dia mengatakan kalau makanan itu adalah buatannya. Tapi melihat makanan yang ada habis tak tersisa, cukup membuktikan kalau memang suka.


"Ck, suka sekali mencari muka pada Oma." Marsell beranggapan kalau istrinya hanya mencari muka saja.


Meisya mengantarkan suaminya sampai ke halaman depan. Oma lah yang menyuruhnya. Meski sejak tadi laki-laki itu seperti tidak pernah menganggap keberadaannya.


"Pagi Tuan, pagi Nona," sapa asisten Gio yang sudah menunggu di depan.


Meisya belum mengenal asisten Gio, tapi dia tetap tersenyum ramah pada laki-laki itu.


Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut sang suami sampai laki-laki itu menghilang dari pandangan Meisya. Laki-laki itu menjaga batasan diantara mereka. Tapi Meisya lega karena pria itu menepati janjinya dengan mau menerima apa yang dia lakukan seperti mau memakai pakaian yang dia siapkan.

__ADS_1


Saat masuk ke dalam rumah, ternyata Oma dan Jeni sudah menunggu di depan pintu. Sejak tadi memperhatikan interaksi diantara sepasang pengantin baru itu. Tentu Oma sedih melihat keadaan mereka.


"Oma ...."


"Nak, bersabarlah. Oma yakin Marsell akan membuka hatinya untukmu."


"Aku mengerti Oma, tidak apa-apa."


Meisya mengerti Oma, kalaupun suamiku tidak bisa membuka hati juga tidak apa-apa. Aku akan pergi jika sudah waktunya.


...


Di perusahaan. Marsell sibuk dengan pekerjaannya dan ponselnya tidak berhenti berbunyi. Sampai saat ini, Laura masih mencoba menghubunginya. Ya, Marsell tau kalau berita pernikahannya pasti sudah sampai telinga Laura. Namun, Marsell belum ingin berbicara dengan perempuan itu.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Marsell, siapa lagi jika bukan dari Laura.


Marsell membukanya dan sangat terkejut saat sebuah foto di kirim ke ponselnya. Beserta dengan pesan di bawahnya yang membuat dia panik.


Seketika Marsell langsung mencoba menghubungi Laura, tapi sekarang giliran dia yang tidak mendapatkan jawaban.


"Ayo angkat Laura! Apa yang kau lakukan sebenarnya!"


Beberapa kali laki-laki itu mencoba menghubungi nomor ponsel Laura tapi tetap saja tidak ada yang mengangkat telepon darinya. Marsell pun mencoba menghubungi asisten Laura.


"Di mana Laura?!"

__ADS_1


__ADS_2