
Meisya bangun lebih pagi dari semua orang. Dia membereskan sofa tempatnya tidur semalam barulah dia pergi mandi. Di rumah pun, dia tetap memutuskan untuk tidur di sofa. Ukurannya cukup luas untuk tubuhnya yang kecil dan cukup empuk, tidak terlalu buruk. Di desa pun dia sudah biasa tidur di atas kasur seadanya.
Bapak dan ibu Meisya sudah bertahun-tahun bekerja pada keluarga Oma Gina. Sebelum wanita tua itu sukses seperti sekarang, dulu mereka tinggal di desa. Dari ukuran orang desa, keluarga Oma Gina adalah yang paling kaya di sana. Pemilik kebun teh berhektar-hektar luasnya. Namun, jiwa pebisnis wanita itu terus berkembang. Bersama sang suami mereka mendirikan perusahaan di kota hingga sesukses sekarang.
Banyak cerita yang terjadi di desa sewaktu mereka masih tinggal di sana. Saat Putra putri Oma Gina mulai tumbuh dewasa barulah mereka benar-benar pindah ke kota dan fokus di perusahaan. Perkebunan teh yang ada di daerah Bandung juga masih berjalan sampai sekarang. Bapak dari Meisya yang membantu Oma mengawasi.
Setelah mandi, Meisya menyiapkan pakaian untuk suaminya. Dia mencari stelan jas yang menurutnya pas untuk sang suami. Ada banyak dan warnanya hampir sama jadi tidak sulit memilihnya. Laki-laki itu masih terlelap dalam mimpinya. Jika sedang tidur jauh lebih tampan bagi Meisya.
Meisya menggelengkan kepala, tidak boleh memikirkan laki-laki itu. Fokus saja pada tugasnya sebagai istri.
Meninggalkan lelaki yang masih asyik merajut mimpi dalam tidurnya. Meisya keluar dari kamar dan turun ke bawah. Tujuannya tentu saja dapur rumah itu, dari kemarin dia sudah tau letaknya tapi baru sekarang dia berani menginjakkan kaki di sana setelah sah sebagai menantu di rumah itu. Jika sebelumnya dia takut, orang-orang akan beranggapan jika dia bukan tuan rumah dan tidak boleh ada di sana. Sekarang dia ingin menjalankan perannya sebagai menantu jadi ia rasa, para pelayan juga akan mengerti.
"Nona, apa Anda membutuhkan sesuatu?" tegur Jeni saat kebetulan berpapasan dengan nona barunya. Jeni juga baru selesai mandi, jam segini para pelayan memang baru akan memulai pekerjaannya.
"Bibi Jeni, aku ingin membantu di dapur apa boleh?" tanya Meisya. Biar bagaimanapun bibi Jeni adalah kepala pelayan dan kepercayaan oma, dia pasti tau segalanya.
"Nona, Anda tidak perlu repot-repot. Di sini nanti ada orang yang akan memasak dan menyiapkan segalanya. Anda hanya perlu fokus mengurusi Tuan Marsell," ujar Jeni seraya bersikap sopan.
__ADS_1
"Begitu ya, tapi aku sudah menyiapkan pakaian untuk suamiku dan tidak ada yang bisa aku kerjakan lagi. Hari ini adalah hari pertama aku jadi menantu di rumah ini. Aku ingin memasak untuk semua orang, bolehkah Bi??" tanya Meisya lagi, matanya memancarkan penuh harap.
Jeni bukan mau melarang, tentu saja sebagai majikan, Meisya bebas melakukan apapun yang dia mau tapi Jeni hanya takut Oma Gina akan marah jika membiarkan cucu menantunya bekerja di rumah ini.
"Ya Bi, bolehkan?" Meisya menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya memohon.
"Saya akan bertanya pada Nyonya besar terlebih dahulu, Nona. Saya tidak berani memutuskan," ujar Jeni. Melihat wajah gadis polos itu memohon tentu saja membuat Jeni tidak tega.
Meisya menghela nafas panjang, pundaknya melemas. "Oma pasti masih tidur, jangan bangunkan dia hanya untuk bertanya. Baiklah aku akan kembali ke kamar saja," cicit Meisya dengan nada sendu.
Wajah Meisya langsung tersenyum bahagia, dia tersenyum girang saat Jeni memanggilnya.
"Benarkah Bi? Aku boleh memasak?" tanya Meisya memastikan.
"Iya Nona, nanti saya sendiri yang akan membantu Nona."
Tanpa Jeni duga, perempuan yang merupakan majikannya itu tiba-tiba memberinya pelukan.
__ADS_1
"Terimakasih, bibi Jeni."
Jeni pun tersenyum, "Sama-sama Nona."
Meisya langsung bergegas menuju dapur dengan penuh semangat. Dia akan memasak pertama kali untuk keluarga suaminya. Sebenarnya dia berdebar takut jika masakannya tidak sesuai dengan selera lidah orang kaya tapi dia akan berusaha semampunya. Jika gagal pun dia akan belajar.
Jeni ikut bahagia melihat Meisya begitu semangat. Oma Gina benar jika pilihannya tidak salah. Hati Meisya begitu murni dan polos, gadis itu meski sudah menikah dengan cucu konglomerat tapi tetap rendah hati. Berbeda sekali dengan wanita yang selama ini dipacari oleh Tuan Marsell. Artis itu begitu sombong pada orang yang ada di bawahnya. Hanya di depan lensa kamera saja dia terlihat baik hati dan suka menolong tapi Jeni pernah lihat sendiri kalau Laura bahkan pernah mengusir pengemis dengan kasar.
Selang satu jam kemudian. Semua masakan pun selesai di sajikan di atas meja makan. Semuanya ada menu yang Meisya pilih tapi dia menyesuaikan dengan bumbu yang biasa pelayan pakai.
"Nona, Anda sangat hebat. Bisa menyelesaikan masakan sebanyak ini dalam waktu singkat," puji Jeni. Dia kira Meisya hanya wanita muda yang masih suka menempel pada orangtuanya tapi ternyata nonanya itu sangat terampil mengerjakan pekerjaan rumah.
"Ini semua karena dibantu Bibi, kalau aku sendiri tidak akan bisa menyelesaikan secepat ini. Tapi bi, apa Bibi yakin kalau semua orang akan suka?" ragu Meisya.
"Nona, tenang saja. Biasanya mereka juga tidak terlalu pemilih soal makanan."
"Semoga saja cocok ya, dengan selera mereka."
__ADS_1