
Hari berganti hari dan bulan pun ikut berganti. Namun, hati manusia tidak ada yang tau. Seperti sepasang suami istri yang menikah demi orang-orang tersayang mereka. Tidak ada yang berubah dari hubungan mereka, masih tetap ada jarak diantara mereka. Tepatnya, Meisya memilih menjauh setelah kejadian saat itu. Dia memilih meminimalisir pertemuan mereka.
Saat pagi, dia akan bangun lebih pagi masak lalu menyiapkan keperluan suaminya saat lelaki itu sedang mandi dan segera pergi. Jadi mereka hanya bertemu di meja makan saat pagi, itupun tanpa ada pembicaraan satu sama lain. Saat siang Meisya menyibukkan dirinya dengan kegiatan baru yaitu membuat kue untuk dijual secara online.
Ada Jeni yang membantu Meisya awalnya, sekarang dia mulai bisa menangani pesanan yang masuk dan gencar promosi di sosial media. Kadang dia juga live di toktok untuk memperkenalkan kuenya. Berhasil, dalam dua Minggu banyak sudah banyak yang memesan dan sekarang bahkan Meisya memperkejakan orang untuk mencatat pesanan dan alamat pemesan serta sebagai admin.
Semua memang tidak ada yang sia-sia jika kita mau berusaha. Seperti Meisya yang mulai kewalahan karena banyak sekali yang memesan kuenya. Sayang, karena keterbatasan tempat, alat dan sebaiknya. Jadi hanya melayani pembelian dari dalam kota saja.
"Kau lihat itu Jeni. Aku bangga sekali padanya, meski hanya gadis desa yang bahkan dicemooh saat di hari pernikahannya. Sekarang dia bisa menjadi seorang pengusaha. Meski masih seadanya tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan sukses." Oma Gina tidak melarang Meisya mau melakukan apapun.
"Anda benar Nyonya, Nona Meisya sangat gigih dan pekerja keras. Dia pasti akan berhasil."
"Rencananya aku mau membuat kejutan untuknya, aku ingin membuka toko kue untuknya. Apa kau setuju Jeni?" tanya Oma Gina meminta pendapat.
"Itu terdengar bagus Nyonya, Nona Meisya pasti senang mendengarnya. Nona bisa mengembangkan lagi usahanya."
__ADS_1
"Ya, aku juga berpikir seperti itu. Tolong kamu carikan tempatnya yang cocok untuk membuka toko kue."
"Baik Nyonya."
Sedangkan Sira yang awalnya menghina Meisya juga mulai malu melihat usaha keras gadis itu. Dia tidak lagi berbicara yang menghina, dia juga tidak lagi mengurusi gadis itu seperti dulu. Dia sadar kalau gadis itu tidak pernah merebut kekuasaannya di rumah ini. Semua masih atas kendali bibi Sira, termasuk dengan tentang keuangan untuk kebutuhan rumah.
Di perusahaan.
Sekarang kue buatan Meisya juga terkenal di sana. Banyak yang menjadi pelanggan. Katanya rasanya sangat enak dan harganya terjangkau. Mereka tidak tau kalau kue yang mereka beli adalah buatan istri CEO mereka karena Meisya tidak pernah menggunakan nama suami ataupun keluarga suaminya.
"Apa benar kamu berjualan kue?" Tanya Marsell saat itu. Sebagai CEO tentu dia malu kalau sampai orang-orang atau rekan bisnisnya tau istrinya bersusah payah berdagang kue. Padahal suaminya kaya dan tidak kekurangan uang. Marsell pun memberikan sebuah kartu kredit yang bisa Meisya gunakan. "Ini ambilah, kau bisa memakai itu untuk membeli apapun. Kalau kurang uangnya kurang katakan saja. Kamu tidak perlu berjualan seperti itu."
Meisya tidak menerima kartu itu. "Maaf saya tidak bisa menerima kartu itu. Saya juga tidak membutuhkan apapun karena di rumah ini sudah tersedia apapun yang aku butuhkan. Kalau anda khawatir saya akan membuat Anda malu karena berjualan kue, Anda tidak perlu merasa khawatir karena saya tidak pernah menggunakan nama Anda ataupun keluarga ini."
Awalnya Marsell tidak percaya, bagaimana mungkin dia tidak menggunakan nama keluarganya lalu banyak yang beli tapi setelah melihat sendiri bagaimana gadis itu live dan berjualan di sosial media memang tidak pernah sekalipun dia menyebutkan nama keluarganya.
__ADS_1
Tiba-tiba Laura menghubunginya. Karena memang sekarang wanita itu lebih sering menghubunginya.
"Hallo sayang," ujar Laura.
"Apa kamu tau, aku bawa kabar gembira. Minggu depan aku akan kembali ke Indonesia. Apa kau senang. Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, aku juga ingin menyapa Oma. Boleh kan?"
"Jangan macam-macam Laura. Kau tau kan aku sudah memiliki istri dan semua orang tau itu. Kalau sampai tertangkap media kita sedang bersama, aku akan dalam masalah. Kau juga akan terkena imbasnya."
"Iya aku tau, aku akan menemuimu diam-diam. Bagaimana."
"Hmmm, kenapa tiba-tiba sekali kembali?" tanya Marsell.
"Ya, ada salah satu stasiun televisi yang mengundang ku untuk menjadi bintang tamu. Aku harus datang, setelah itu aku baru akan fokus pada kompetisi penghargaan anugerah penyakit top dunia. Kau akan datang kan saat malam penghargaan itu. Aku pasti akan sedih kalau kamu tidak datang."
"Aku akan lihat dulu jadwalku."
__ADS_1