
Pria yang awalnya bisa melihat lalu tiba-tiba kehilangan penglihatannya. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk Panji sebagai kepala keluarga dan harus mencari nafkah untuk keluarga. Beruntung Oma Gina masih mau mempekerjakannya. Dia pun mengabdikan dirinya pada perkebunan teh milik Oma Gina sampai sekarang.
Setelah Marsell semakin besar, dia semakin jarang pergi ke desa. Dia sudah mulai sibuk dengan sekolah, les, lalu Oma Gina juga memberi tambahan dia agar belajar bisnis. Jadilah dia mulai melupakan teman kecilnya. Sebenarnya Oma bukan sengaja melakukan itu, hanya saja tanpa sengaja dia telah menjauhkan Marsell dari kehidupan di desa. Bukan tanpa alasan Oma Gina melakukan hal itu, Marsell adalah harapan satu-satunya yang nantinya akan menjadi penerus dan memimpin perusahaan. Jadilah beliau benar-benar memforsir sang cucu pertama untuk belajar bisnis sejak dini.
Meski ada cucu dari putri keduanya, yaitu Nico. Oma Gina tetap hanya mengharapkan Marsell. Karena Oma Gina sebenarnya tau bagaimana menantu laki-lakinya itu yang merupakan suatu Sira. Dia hanya menikahi Sira karena tertarik dengan hartanya saja. Saat itu Oma Gina sudah melarang putrinya untuk menikahi pria itu tapi ternyata Sira telah mengandung Nico lebih dulu. Oma Gina pun tidak punya pilihan lain, selain menikahkan mereka. Karena itulah, Oma Gina selalu membatasi pergerakan sang menantu agar tidak memiliki akses untuk menjarah uang perusahaan. Selama ini sang menantu hanya bisa bergantung pada sang istri jika menginginkan sesuatu. Sira yang akan memberinya uang dari hasil sahamnya di perusahaan.
Namun, siapa sangka kalau dalam proses itu. Sang cucu kesayangan tiba-tiba sakit dan ternyata dia menderita gagal ginjal akut dan harus segera mendapatkan tranplantasi ginjal, jika tidak mungkin umurnya tidak akan lama lagi. Itu terjadi saat Marsell masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas tiga tepatnya. Mungkin karena kelelahan dan kurang istirahat, lalu terlalu banyak memforsir pikiran jadilah kesehatannya menurun dan ginjalnya bermasalah.
Oma Gina pun syok berat saat itu. Dia merasa bersalah pada sang cucu. Apapun akan dia lakukan asal sang cucu selamat. Soal uangpun tidak masalah asal Marsell bisa kembali sehat.
"Carikan pendonor untuk cucuku, berapapun biayanya akan aku berikan asal cucuku bisa selamat. Tolong selamatkan cucuku," mohon Oma pada para dokter.
Berita sakit cucu Presdir Weiner grup pun tersebar. Para orang-orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempatan memanfaatkan kondisi itu. Saham perusahaan pun menurut drastis dalam sekejap. Oma Gina tau kalau ini adalah perbuatan orang-orang dalam yang berkomplot dengan menantunya.
__ADS_1
Oma Gina bergerak cepat, mencari investor besar dari luar negeri. Beliau bekerja keras siang dana malam. Belum lagi memikirkan cucunya yang ada di rumah sakit. Untunglah saat ini Sira masih memiliki sedikit rasa kasihan pada keponakannya, sehingga mau membantu menjaga Marsell.
Hampir sebulan, keadaan Marsell makin buruk. Pihak rumah sakit pun belum juga mendapatkan pendonor. Padahal Oma Gina sudah membuat pengumuman kalau akan memberikan beberapa untuk si pendonor tapi ternyata hal itu tidak mudah karena menantunya yang berhati iblis menghalangi setiap orang yang berniat mendonorkan ginjalnya.
"Bagaimana ini, bagaimana kalau cucuku tidak selamat." Oma Gina hampir menyerah, semua orang juga tidak bisa membantu.
Orang-orang terdekat seperti Jeni pun sudah berusaha melakukan tes untuk menjadi pendonor tapi hasilnya tidak cocok. Ada juga yang bermasalah dan beresiko pada keselamatannya sendiri jika nekat mendonorkan ginjalnya.
"Oma, aku tidak apa-apa. Biarkan aku menyusul Mamah dan Papah." Marsell tau jika dirinya mungkin tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Tak berselang lama, keadaan Marsell makin memburuk. Dia masuk ICU lagi, dan tidak sadarkan diri.
Oma Gina terduduk lemas, rasanya dia ingin ikut pergi saja jika Marsell tidak selamat. Namun, keajaiban datang tiba-tiba. Seseorang penolong datang pada Oma Gina dan berkata akan mendonorkan ginjalnya.
__ADS_1
"Santi, apa kau yakin dengan apa yang kau katakan. Apa kau yakin akan mendonorkan ginjalmu? Apa kamu tau resikonya saat kamu hanya memiliki satu ginjal," ujar Oma Gina pada wanita itu.
"Saya tau Nyonya, seseorang telah mengatakannya pada saya. Dan saya sudah siap."
Oma Gina menitikkan air mata, melihat ketulusan wanita itu. "Tidak Sinta, aku tidak mungkin membiarkanmu melakukan itu untuk cucuku. Suamimu juga sudah banyak berkorban untuk cucuku, kali ini aku tidak bisa membiarkan kamu juga menderita. Apa kalian memikirkan Meisya? Bagaimana dia jika kalian melakukan hal ini."
"Nyonya, saya tetap masih bisa hidup setelah melakukan operasi. Suami saya juga, dan itu sudah cukup untuk putriku. Dibandingkan dengan kebaikan Nyonya pada keluarga kecil kami, tentu tidak ada apa-apanya. Sekarang yang penting Tuan muda selamat."
Oma Gina tampak menimbang dengan baik-baik. Dia tidak bisa egois demi sang cucu, bagaimana bisa dia mengorbankan kebahagiaan orang lain.
Namun, kembali lagi pada kenyataan. Tiba-tiba dokter mengatakan kalau kondisi Marsell benar-benar sudah drop, dan jika tidak segera melakukan transplantasi ginjal maka dia tidak akan bertahan.
"Aku berjanji akan membalas kebaikan kalian." Oma Gina berjanji.
__ADS_1
Operasi pun berjalan lancar, beruntung ginjal mereka cocok. Marsell selamat dan bisa kembali beraktivitas sedikit demi sedikit.
Lain halnya dengan Sinta yang hidup dengan satu ginjal. Dia tidak bisa terlalu lelah dan gampang sekali sakit. Tapi dia tidak pernah mengeluh bahkan menolak uang dari Oma Gina. Mereka benar-benar tulus dan bahagia karena hidup mereka bermanfaat untuk orang lain.