
Sudah dua hari lamanya Marsell tidak pulang. Sang asisten bilang dia ada pertemuan di luar negeri dengan kliennya. Tentu saja Oma Gina tidak percaya dengan perkataan Gio.
"Anak itu benar-benar keterlaluan!" kesal Oma Gina.
"Apa rencana Anda Nyonya?" Tanya Jeni.
"Aku pikir dia tidak akan mengganggu cucuku lagi setelah dia menikah. Tapi ternyata dia sangat licik dan masih saja membuat cucuku repot. Wanita itu terlalu bangga dengan dirinya dan berpikir kalau cucuku akan selamanya tertipu olehnya. Padahal aku ingin membiarkan dia begitu saja setelah Marsell menikah. Tapi ternyata dia masih mengganggu cucuku, biarkan dia malu saat kontes penyanyi terbaik diadakan. Putuskan semua sumber dayanya!"
"Baik Nyonya." Jeni pun segera melaksanakan perintah nyonyanya.
Dua hari ini, Meisya juga tidak menanyakan keberadaan suaminya. Setelah asisten suaminya mengatakan kalau sang suami sedang dalam perjalanan bisnis. Mau tidak mau Meisya harus percaya bukan.
"Oma, ini aku buatkan kue tradisional untuk Oma. semoga cocok dengan selera Oma," ujar Meisya yang sedang senang membuat kue di rumah.
Setelah ibunya sakit-sakitan karena hanya memiliki satu ginjal dan tidak lagi bekerja di rumah lama Oma, apalagi mengurus kebun bunga milik Oma Gina. Sinta memang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan membuat kue kering jika ada yang pesan. Karena itulah Meisya juga banyak belajar dari ibunya.
Saat di rumah Oma Gina Meisya melihat alat-alat membuat kue yang sangat lengkap. Dia pun bersemangat sekali untuk mencoba beberapa resep yang ia lihat dari sosial media. Dan rencananya, jika sudah benar-benar berhasil. Dia ingin menjual nya secara online untuk mengisi waktu luang.
"Waahh kamu pintar sekali nak. Dari aroma dan bentuknya saja sangat menarik. Oma pasti suka," kata Oma Gina yang antusias melihat kue buatan cucu menantunya.
__ADS_1
"Cobalah Oma, bibi Jeni juga, cobalah. Biar aku bisa tau kurangnya di mana," ujar Meisya.
"Saya tidak perlu Nona, biar Nyonya besar saja yang mencobanya," tolak asisten Jeni merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Jeni, kalau cucu menantuku memintamu untuk mencobanya berarti kamu harus coba. Ayo," perintah Oma Gina.
Jeni masih merasa tidak enak karena harus makan apa yang majikannya makan. Karena selama ini dia tidak pernah melakukan hal itu.
"Tidak apa-apa Bibi, ayo coba. Tadi semua orang di dapur juga sudah mencobanya." Meisya menyodorkan piring berisi kue pada Jeni.
"Baik saya akan mencobanya, terimakasih Nona."
"Bagaimana rasanya Oma? Bibi Jeni, bagaimana rasanya. Kalian bisa berbicara jujur dengan rasanya agar aku bisa memperbaiki nya." Meisya sangat penasaran dengan pendapat Oma Gina dan Jeni.
"Heemmm luar biasa, rasanya pecah di mulut Oma. Lembut, garing di luar dan lembut di dalam, manisnya juga pas, tidak berlebihan. Rasanya lebih enak dari kue yang sering Oma beli dari toko kue langganan Oma. Kalau begini Oma pasti akan ketagihan untuk mencicipi kue buatan kamu," puji Oma Gina. Dia mengambil kembali kuenya dan menyuapnya ke dalam mulut.
"Benarkah? Syukurlah kalau Oma suka." Meisya lega mendengar pendapat Oma. Meski tadi para pelayan juga mengatakan hal yang sama tapi dia masih ragu, sebelum mendengar penilaian dari Oma Gina. "Bagaimana rasanya menurut bibi Jeni? Apa ada yang kurang?" tanya Meisya pada Jeni.
"Nona, saya sampai tidak bisa berkata-kata. Benar kata Nyonya besar. Kue buatan nona ini sangat spesial rasanya."
__ADS_1
Meisya senang semua orang menyukai kue buatannya. Kalau begini dia semakin yakin ingin mengembangkan bakatnya untuk berbisnis. Dengan modal kecil-kecil, dia ingin mulai berjualan online.
"Ada apa ini, Oma? Sedang makan apa kalian, seperti sangat enak."
Semua orang menoleh pada seseorang yang baru saja datang. Nico baru keluar dari kamar setelah dua hari, keadaannya sekarang sudah membaik. Itu juga karena Meisya yang rajin merawatnya.
"Ini kue buatan kakak ipar mu, cobalah," ujar Oma Gina.
"Ini buatan kakak ipar? Waahh kakak ipar memang paket komplit, sudah pintar masak, pintar bikin kue juga. Aku coba ya." Nico ikut memakan kue itu, bahkan dia mengambil dua potong langsung karena aromanya yang sangat lezat.
"Cobalah, jangan lupa beritahu bagaimana rasanya menurut kamu. Terutama kalau ada yang kurang."
"Waaahhh ini ... ini ... meleleh, rasanya meledak di mulutku kakak ipar." Nico kembali mengambil kue nya. "Buat aku semua ya Oma," katanya.
"Eeiittss! Tidak boleh, Oma juga masih mau makan." Oma menarik piringnya.
"Oma ... berikan padaku, Oma harus mengalah pada yang lebih muda."
Meisya dan Jeni gelang-gelang kepala melihat tingkah Oma dan cucunya.
__ADS_1