
Hidup kedua orang tua Meisya berubah drastis, tapi mereka masih tetap bekerja pada Oma Gina. Namun, beberapa tahun terakhir kondisi mereka sama-sama memburuk. Karena tidak bisa melihat dan harus menyesuaikan dunia nya yang baru, Panji sering kali terjatuh dan terakhir kali dia tidak sengaja tertabrak pengendara di jalanan. Panji pun terluka cukup parah.
Dan Sinta. Dia yang hanya memiliki satu ginjal terkadang lupa dan masih melakukan pekerjaan berat. Alhasil dia sering sakit-sakitan dan didiagnosa menderita komplikasi.
Oma Gina yang mengetahui hal itu segera datang lalu mengatakan pada mereka dan berjanji akan membalas kebaikan mereka dengan cara akan menyayangi Meisya, menjaga dan menjamin masa depannya.
Sebagai orang tua, mereka pun sangat bersyukur karena ada yang akan menjaga Meisya jika memang mereka telah tiada.
"Bagaimana kalau menikahkan Meisya dengan cucuku, Marsell?" kata Oma saat itu.
Panji dan istrinya tentu saja terkejut dengan niat majikannya. Bagaimana mungkin putri mereka yang hanya orang biasa menikah dengan seorang cucu konglomerat. Ragu, tentu saja menyelimuti hati mereka.
"Jika Anda melakukan itu karena merasa bersalah pada kami atau mau membalas budi. Kami tidak setuju. Maafkan kami, tapi kami tidak mungkin membiarkan putri kami menjalani pernikahan yang mungkin tidak diinginkan suaminya. Kami tau cucu Anda baik tapi tuan muda sudah lama tidak datang, mungkin juga sudah melupakan Meisya. Kehidupannya saat ini pasti sudah berubah, apa mungkin mau menikah dengan putri kami."
Oma Gina tidak bisa membantah, apa yang dikatakan mereka benar. Sang cucu memang sudah berubah dan ini juga karenanya yang terlalu keras padanya makanya Oma Gina berharap sang cucu bisa memiliki pasangan yang seperti air yang bisa menyejukkan dan perlahan bisa membuat dia lupa akan kekasihnya yang tidak baik itu.
Oma Gina pun menceritakan semuanya. Tentang kegelisahan dan kekhawatirannya terhadap sang cucu.
__ADS_1
"Begitulah ceritanya, aku berharap Meisya bisa membuat cucuku sadar kalau wanita itu tidak baik untuknya. Dulu Marsell bisa dengan mudah akrab dengan putri kalian, mungkin sekarang juga begitu. Namun, aku tidak akan memaksa kalian. Semua keputusan ada di tangan kalian. Kalaupun Meisya tidak menjadi cucu menantuku. Aku akan tetap menjaganya."
Oma tersadar dari kenangan masa lalu. Tentu saja apa yang dilakukan kedua orang tua Meisya untuk cucunya tidak akan pernah bisa digantikan dengan apapun. Lalu mengapa Marsell tidak tau tentang hal itu. Dia tau, saat ular yang membuat ayah Meisya buta dia ada juga di sana. Tapi mungkin dia sudah lupa karena banyak yang dia pikirkan. Tentang siapa yang mendonorkan ginjalnya pada Marsell, barulah dia tidak tau karena Sinta yang minta itu. Sinta tidak ingin Marsell terbebani dan merasa berhutang budi.
"Jeni, apa mungkin menurut kamu sebaiknya aku memberi Marsell. Apa setelah itu dia akan memperlakukan Istrinya lebih baik. Tidak Jeni, mungkin itu karena dia merasa kasihan pada Meisya dan merasa berhutang nyawa pada mertuanya. Itu bukan cinta, hubungan mereka tidak akan menjadi baik."
"Anda benar Nyonya, saya setuju dengan pemikiran Anda." Jeni pun tau.
Lalu apa Meisya tau akan hal itu. Dia tau semuanya tapi dia juga tidak pernah mengungkit hal itu. Karena orangtuanya sendiri yang ikhlas melakukan semua hal itu.
Marsell baru saja sampai di Prancis. Setelah turun dari pesawat dia bergegas datang ke rumah sakit. Kalau saja di atas rumah sakit itu ada lapangan untuk mendarat pesawat, sudah pasti dia akan turun di sana menggunakan pesawat pribadinya.
Dia sudah menghubungi asisten Laura dan katanya dia akan menemuinya di basemen.
"Hallo, kau di mana?" tanya Marsell begitu sampai. "Baik, aku ke sana sekarang." Setelah mematikan sambungan teleponnya, dia pun turun dari mobil. Memakai topi, kacamata serta masker agar tidak ada yang bisa mengenalinya. Bagaimanapun dia adalah CEO dari perusahaan besar yang dikenal banyak orang.
"Selamat datang Tuan, saya akan mengantarkan Anda untuk bertemu dengan Nona Laura," ujar sang asisten artis itu. Dia sudah lama bekerja pada Laura, dari saat sang artis belum naik daun. Jadi sudah sedikit tau tentang pacar nonanya.
__ADS_1
Mereka naik ke lantai atas dengan lancar. Tidak ada satupun wartawan yang mengetahui kedatangan lelaki itu. Karena pengamanan rumah sakit itu cukup ketat.
Saat itu Melly masih ada di sana. Melihat pria itu Melly kesal karena pria itulah yang menyebabkan keadaan artisnya seperti sekarang. Melly melipat kedua tangannya dan memandang ke arah lain.
"Sebaiknya jika Anda sudah memiliki pasangan, jangan memberikan harapan apapun lagi pada Laura. Sudah cukup dia menderita dengan berita pernikahan Anda yang begitu tiba-tiba. Saya saja sampai terkejut bagaimana bisa Anda begitu tega melakukan hal itu pada Laura," ujar Melly menyindir Marsell yang berdiri tidak jauh dengannya.
"Bukankah karena Anda, aku sudah melamar Laura saat itu tapi dia lebih mementingkan karirnya dan tidak memikirkan perasaanku. Itu karena Anda yang terus membujuk Laura kan?" tuduh Marsell.
Melly tentu saja tidak terima, bagaimana perjuangannya selama ini. Kerja kerasnya demi kesuksesan Laura. Sekarang dia malah disalahkan.
"Kenapa Anda menyalahkan saya. Apa yang saya lakukan semua demi kebaikan Laura. Dia yang selalu bermimpi ingin menjadi bintang dan saya hanya membantu mewujudkan impiannya. Semua terserah pada Laura, dia sendiri yang memutuskan untuk mengejar kariernya. Apa Anda tega membuat usaha keras wanita yang Anda cintai kandas begitu saja. Seharusnya Anda mengerti dan menunggu Laura, jika memang Anda mencintainya."
Marsell memijit pelipisnya, entah siapa yang salah. Kalau terus saling menyalahkan memang tidak akan ada habisnya.
"Tuan, Anda bisa masuk sekarang untuk melihat Nona," ujar sang asisten. Melihat situasi yang semakin memanas membuat dia mencari cara agar salah satu dari mereka pergi.
"Aku sudah menunggu sangat lama, sampai kapan dia akan membuatku menunggu. Jika dia terus mengejar impiannya makanya aku akan membiarkannya bebas, terbang tanpa perlu terikat denganku. Aku ke sini hanya ingin tau bagaimana keadaannya," ucap Marsell penuh penekanan.
__ADS_1