
Marsell masih terlalu kecil untuk tau situasi apa yang terjadi padanya saat ini. Instingnya hanya mengatakan kalau dia harus segera pergi karena saat ini ada binatang berbahaya di hadapannya. Begitupun dengan Meisya yang sejak tadi menangis karena takut. Gadis kecil itu seharusnya lebih aman dibandingkan dengan Marsell yang jaraknya sangat dekat dengan sang ular. Tapi gadis kecil itu memang bukan menangis karena dirinya tapi karena mengkhawatirkan sang sahabat.
"Acell, jangan gigit Acell. Huuuuhuuuhuu." Meisya terisak.
Marsell pun tidak tau apa yang seharusnya dia lakukan. Saat semua orang berteriak dan menyuruhnya untuk tenang. Dia tidak mendengarnya. Siapapun pasti panik jika ada di posisinya saat ini. Dia ingin kabur dari sana. Namun, sayangnya dia kurang beruntung karena dia tersandung akar pohon saat sedang mundur.
Melihat musuhnya terjatuh, sang ular pun mendekat. Sebenarnya ular adalah makhluk yang tidak bisa melihat atau penglihatannya buruk. Jadi jika sesuatu bergerak secara tiba-tiba justru akan ia anggap sebagai ancaman karena dia sangat peka dengan sebuah gerakan kecil sekalipun. Otomatis dia pun berusaha melindungi dirinya.
Keringat dingin sudah membasahi dahi Marsell kecil saat ini. Meisya pun semakin ketakutan. Oma Gina dan para pelayan yang ada di sana juga panik tapi mereka juga tidak berani dengan ular berbisa itu.
"Tolong cucuku, tolong selamatkan dia. Siapapun tolong cucuku!" Oma Gina berteriak meminta bantuan.
"Ada apa ini?" seseorang baru saja datang setelah dari kebun untuk mengecek.
Oma Gina melihat Panji yang merupakan salah satu pekerjanya pun segera meminta pertolongan. "Panji, tolong selamatkan cucuku. Cucuku dan putrimu berada dalam bahaya. Mereka ada di sana." Oma Gina menunjuk posisi sang cucu yang cukup jauh.
Panji yang melihat ular sedang menghampiri cucu majikannya dan sang putri, tanpa pikir panjang dia segera mengambil balok kayu dan menghampiri mereka. Pria itu berjalan berhati-hati dan sampai pada putrinya yang sedang menangis.
__ADS_1
"Putriku, tenanglah. Ada ayah di sini. Kau harus lari ke arah Oma di sana, biar Ayah menyelamatkan temanmu," titah Panji pada putrinya yang saat ini posisinya cukup aman.
"Hiks Ayah, tolong Acell."
"Anak pintar, sekarang kamu dengarkan Ayah ya. Kamu larilah yang jauh, Ayah janji akan menyelamatkan temanmu."
Gadis kecil itupun percaya dengan apa yang dikatakan sang ayah. Dia pergi dari sana, berlari ke dekapan para pelayan yang sudah menunggunya. Karena memang Meisya dekat dengan semua orang.
Panji berjalan perlahan, mendekati Marsell yang sedang terduduk di atas tanah. Anak lelaki itu tubuhnya bergetar ketakutan tapi tidak menangis ataupun berteriak. Dia tetap berusaha tenang dalam situasi seperti ini.
"Nak, ini Paman. Kamu tenang ya, Paman akan menyelamatkanmu," ujar Panji.
"Iya nak, Paman pasti menyelamatkanmu." Panji berusaha mendekap tubuh anak itu dan berhasil. Ular itu tampaknya juga cukup tenang.
"Paman, aku takut."
"Hussstt, tidak apa-apa. Ada Paman sekarang, kau sudah aman."
__ADS_1
Namun, mereka kurang beruntung karena tiba-tiba ular itu menyerang. Mematok apa yang ada di depannya. Dan beruntung itu meleset. Panji pun membawa Marsell di belakangnya dan mencoba mengusir ular itu.
"Paman, aku takut. Paman ...." Marsell terus memegangi pakaian Panji.
"Nak, pergilah. Larilah ke arah Meisya sekarang," titah Panji. Tapi Marsell terlalu takut dan malah berdiam di sana. Itu justru membuat Panji kesulitan untuk mengatasi ular itu.
Beberapa kali Panji coba usir tapi ular itu tidak juga pergi. Sepertinya di sana memang wilayahnya sehingga dia tidak mungkin mengalah dan pergi. Kalau begini terus, akan sangat berbahaya. Panji pun berniat akan pergi perlahan. Sayangnya, ular itu malah kembali menyerang. Panji yang tidak siap pun mendorong tubuh Marsell dan menghadang ular tersebut. Kali ini ular itu menyemburkan bisanya dan mengenai kedua mata Panji.
Tentu saja itu sangat menyakitkan tapi Panji tidak menyerah. Dalam keadaan mata yang sakit dan terasa terbakar dia mencoba menyerang ular itu dan akhirnya ular itu pergi juga dari sana.
Beberapa saat kemudian.
Semoga orang sedang berkumpul di depan sebuah ruangan gawat darurat di sebuah instansi kesehatan. Seorang wanita dan putrinya menangis mengkhawatirkan orang tersebut. Oma Gina dan sang cucu juga ada di sana. Semuanya telah selamat dari ular itu tapi sayangnya, tidak dengan Panji yang sempat terkena semburan bisa mematikan itu.
Sebuah kenyataan buruk harus didengar semua orang. Penglihatan pria itu tidak bisa diselamatkan. Bisa ular itu sangat beracun dan merusak penglihatan Panji.
Oma Gina tentu merasa sangat bersalah atas kejadian itu dan tidak pernah lupa dengan apa yang Panji lakukan untuk cucunya.
__ADS_1
Oma Gina pun memberikan kompensasi untuk keluarga itu. Meski awalnya mereka menolak karena memang mereka terlalu baik. Namun, Oma Gina tetap memberikannya.
Bukan hanya itu saja rupanya. Kebaikan keluarga mereka pada keluarga Oma Gina ternyata tidak hanya itu. Bertahun-tahun kemudian saat Marsell masuk sekolah dasar, anak itu sering sakit-sakitan dan didiagnosa menderita gagal ginjal. Hancur dunia Oma Gina saat ini. Dia pun berusaha keras mencari orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk sang cucu tercinta. Mencari orang lain tentunya karena keluarganya sendiri tidak mungkin mau mengorbankan salah satu ginjalnya untuk Marsell.