Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 1


__ADS_3

Ulang tahun? Ulang? Tahun? Apa itu kata indah? Apa arti ulang tahun sesungguhnya? Mengapa semua orang merayakannya? Aku benci kata itu!


Pernah terbayang tidak? Sebanyak orang hidup di Dunia ini merupakan sebuah cerita yang diperankan oleh masing-masing pemeran utama disetiap adegan dan disetiap waktunya. Disini akulah pemeran utama sebuah cerita yang kususun sendiri bersama teman-temanku yang mempunyai ceritanya masing-masing.


Aku Saldria Rasya Razenna namun keluarga dan temanku sering memanggilku Rasya. Aku adalah anak tunggal yang ditinggal ayahku 4 tahun yang lalu akibat suatu peristiwa yang sangat menyakitkan, itu adalah sebuah kecelakaan. Ya, ayahku meninggal karena kecelakaan dan sekarang aku tinggal bersama ibu di sebuah rumah yang kami sewa 4 tahun lalu setelah ayahku meninggal. Di sebuah desa kecil dan kami berasal dari kota. Karena di kota tidak lagi ada ayahku jadi kami pindah mendekati keluarga ibu karena katanya kalau masih tinggal di kota tidak ada tempat untuk kami meminta bantuan. Tapi nyatanya sama saja di sini kami terasa di kucilkan karena keluarga dari ibu seperti tidak mengharapkan adanya kami.


"Sya buruan nanti terlambat!!"


Teriakannya menggema di seluruh penjuru rumah. Itu adalah suara ibuku.


"Iya bu rasya berangkat"


Setelah pamit aku bergegas ke sekolah. Embun pagi masih terasa adanya walaupun hari kini mulai cerah. Aku berjalan menyelusuri koridor sekolah menuju kelas XI IPS 1. Itu adalah kelasku.


"Baru datang tuan putri" sambut Zio yang berdiri tegak dihadapanku muncul entah dari mana.


Dia Zio temanku sejak smp dan kini kami sekelas lagi selama 5 tahun lamanya. Anaknya baik namun agak bandel juga, gayanya sok keren padahal tiap hari gayanya tak karuan dengan rambut yang sedikit panjang, tak jarang dia kena tegur guru.


Aku juga mempunyai 2 lagi sahabat namanya sita dan nazwa.


Tak lama bel berbunyi menandakan kelas mulai terisi guru yang siap mengajar.


Setelah sekitar 3 jam guru mengajar akhirnya bel keduapun berbunyi menandakan istirahat.


Aku bersama kedua sahabatku pergi ke kantin seperti biasa. Kami makan dengan menu yang berbeda-beda.


Beginilah hidupku tak ada yang spesial seperti cerita novel yang sering kubaca. Aku suka membaca dan banyak buku juga komik yang terkumpul begitu saja di kamarku tersusun rapih. Aku juga sering menulis puisi dan quotes yang ku upload ke sebuah aplikasi yang sekarang pengikutnya sudah lumayan banyak dan terkadang aku mengendose barang untuk diiklankan dan bayarannya lumayan untuk membantu ibu yang bekerja sebagai pelayan di sebuah toko makanan yang tak jauh dari rumah.


Duk


Seseorang menabrakku dari belakang dan berhasil membuyarkan lamunan dan membuat makananku berantakan.


"Hei" aku berbalik seketika karena kaget.


Alhasil mata kami bertemu dan hanyut dalam pandangan beberapa detik.


"Sorry" jawabnya dan langsung pergi bersama sekumpulan anak lainnya.


"Siapa sih" tanyaku membersihkan baju yang sedikit terkena cipratan makanan dengan tisu. Saat ku lihat kedua sahabatku mereka terus memperhatikan punggung laki-laki yang tadi menabrakku.


"WOYY" teriakku menggebrakkan meja.


"Astaga" Keduanya terkejut lucu.

__ADS_1


"Hahahaha" aku tertawa karena tingkah reflek mereka.


"Ishh" nazwa menjitak kepalaku pelan.


"Aww" ringisku bohong.


"Wow anugrah tuhan menciptakannya" ucap sita yang masih melihat ke arah laki-laki yang tidak lagi terlihat mata.


"Matanya sedikit sipit, kulitnya putih, rambut berponi yang terbelah dua, bak pemain drama" lanjutnya.


"Seperti idol korea" timpal nazwa.


"Apasih kalian berdua" aku yang bingung dengan pembicaraan mereka langsung bergegas pergi.


Mereka berdua pencinta korea dimana yang satu pencinta drama dan yang satu mencinta idol korea. Apalah aku yang tak bisa membedakan artis dari negeri ginseng itu. Menurutku wajahnya sama saja. Kadang aku bosan mendengarkan ocehan mereka tentang khayalan bisa memiliki sosok pendamping hidup dari negara sana.


Aku duduk di tempat dudukku melihat jendela yang menuju lapangan sekolah. Banyak anak bermain basket salah satunya dia yang tadi tak sengaja menabrakku. Kalau dilihat dia sosok laki-laki tampan, hidungnya mancung dilihat dari arah apapun pasti akan terlihat itu dia karena tubuhnya yang atletis dan kulitnya putih yang membedakan dengan remaja lain di sekitarnya. Mungkin memang benar dia seperti orang yang berasal dari negeri ginseng.


 


\*


 


Minggu 13 Januari


Langit tanpak mendung. Sepertinya mendukung untuk aku yang sedang gelisah dengan keadaan ini. Setelah membantu ibu membuka toko aku bersiap pergi menuju perpustakaan umum dekat pinggir kota. Dengan menaiki angkutan umum karena kami tak mempunyai kendaraan pribadi. Bermacam gendre novel kubaca dari mulai romantis, drama, komedi, horor, misteri dan lainnya. Namun aku lebih suka novel misteri dan horor karena bagiku tak ada cinta semanis cerita indah novel.


Aku berkeliling mencari bacaan yang cocok denganku, saat mataku tertuju sebuah buku tertulis happy birthday aku menariknya dan tanpa sadar banyak buku yang ikut tertarik dan akhirnya jatuh mengenai kepalaku.


"Aww" teriakku tanpa sadar


"Kau gapapa?" Seseorang datang dan membatuku membereskan buku yang berserakan


"Hemm" aku mengangguk menandakan tidak apa-apa


 


\*


 


Di sebuah caffe dengan dua minuman tepat dihadapan kami.

__ADS_1


"Jadi kamu sendiri" tanyanya


"Sendiri belum punya pasangan" jawabku


"Hah?"


"Ko hah? Lu mau pdkt kan?"


"Astaga geernya, aku Alvin"


"Rasya" jawabku


Entahlah terjadi begitu saja. Kini aku bersama orang yang tak di kenal yang saat itu menabrakku saat dikantin kemarin. Ternyata dia Alvin orangnya cukup ceria tidak seperti keliatannya yang jutek. Berbeda dengan aku yang tidak terlalu suka banyak bicara. Tapi entah kenapa dengannya aku sangat nyaman mungkin karena hobi kita sama membaca novel dan komik horor. Jadi nyambung begitu saja dan saling merekomendasikan bacaan yang seru.


"Ohh jadi lu murid baru pantes baru lihat" timpalku saat mendengarkan ceritanya.


Dia hanya menganggukan kepalanya.


"Kelas berapa?" Tanyaku


"12 ipa"


"Oww"


"Kenapa"


"Enggak"


"Kamu?"


"11"


"Coba panggil kakak"


"ALVIN"


"Loh gak sopan, KA KAK!" Seolah mengajarkan anak kecil


"A L V I N" jawabku penuh tekanan di setiap hurufnya


"Hahaha" kami bercerita riang sampai tak sadar petang mulai datang.


Aku pulang diantarkannya naik motor ninja berwarna kuning yang dibawanya. Begitulah cerita awal mula aku kenal dengannya tanpa pertengkaran dan perdebatan seperti cerita novel yang berujung kedua pemeran utama saling menyukai dan akhirnya berakhir bahagia.

__ADS_1


Kisahku dimulai tepat di hari ulang tahunku.


__ADS_2