Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 4


__ADS_3

"Udah diambil?" tanya ibu yang baru pulang.


"Udah"


"Kamu kenapa?" tanya ibu lagi melihat aku yang terus menyumbunyikan wajahku dengan bantal yang ada di sofa.


"Malu" jawabku cemberut.


"Tumben"


"Kok tumben?"


"Biasanyakan malu-maluin"


"Ahh ibu" aku merengek layaknya anak kecil.


"Malu apasih anak ibu ini"


"Rasya..."


"..."


"Rasya ken...-"


"Ken?"


"Aishh malu" aku kembali menutup wajahku dengan bantal.


"Rasya kentut" ucap ibu asal dan ikut duduk disampingku.


"Hah?" Aku yang kaget langsung mengahadapkan wajahku kearah ibu.


"Hahaha gak mungkinkan" candanya disertai tawa.


"..."


"Rasya?"


"Ahh" helaan napasku meyakinkan ibu.


"Gakpapa wajar kok nanti mereka juga lupa"


Aku menghela napas lagi.


"Astaga Rasya jangan-jangan?" ibu tiba-tiba memegang kedua bahuku.


"Heem" aku menganggukkan kepala.


"Tenang Zio pasti ngerti"


"Zio?"


"Kamu kentut di depan Zio kan?"


"Ah kalau Zio sih udah biasa"


"Terus?"


"Alvin"


"Alvin?"


"Iya"


"Kamu punya pacar?"


"Ishh bukan"


"Terus?"


"Dia udah punya pacar" aku memajukan bibirku cemberut.


"Udah, masih banyak yang mau sama kamu"


"Tapi malu"


"Udah sana mandi habis itu makan"

__ADS_1


"Iya bu" aku berjalan gontai dengan menundukkan kepala.


 


\*


 


"PENGUMUMAN PENGUMUMAN HARI INI TUGAS PAK ASEP DIKUMPULKAN DI SEKRETARIS" ujar Jimin Sang ketua kelas dengan mulut cemprengnya.


"Yess" semua orang bersorak karena itu bertanda bahwa Pak Asep tidak akan masuk.


"Sya kantin yuk" ajak Zio.


"Ikut" Nazwa dan Sita menggandengku ke luar kelas.


Aku yang digandeng hanya bisa pasrah. Kami berempat duduk di kantin yang masih sangat sepi.


"Biar gue yang pesen" tawar Zio.


"Iya harus dong orang lu yang bayar masa kita yang pesen iya gak?" Jawab Nazwa semangat.


"Yoi" jawab aku dan Sita dengan bertos ria.


"Ck pesen apa?" Zio berdecak kesal.


"Mie ayam dan es teh " jawab Nazwa paling semangat.


"Emm sama deh" lanjut Sita.


"Aku somay sama air putih" jawabku.


"Oke" Zio pergi memesankan makanan kami.


"Rasya lu suka kak drama?" tanya Sita yang melihat Zio mulai menjauh.


"Emang sih siapapun pasti kepincut sama ketampanannya babang idol" ucap Nazwa melanjutkan.


"Apasih ya enggak lah" jawabku cepat.


Aku memjelaskan semua yang terjadi dari mulai di perpustakaan sampai kemarin aku melihatnya bersana cewek namun aku tak menceritakan ada kejadian apa di dalamnya.


"Makanan datang" Zio datang dengan pelayan kantin di belakangnya.


"Lama ya?" tanya Zio.


"LAMA" jawab kami bertiga berbarengan.


"Bukannya makasih malah ngebentak"


"MA KA SIH" kami bertiga menjawab dengan berbarengan lagi.


"Ck" decak Zio.


"Kak idol" tunjuk Nazwa.


'Aishh kenapa malah ketemu sih kan masih malu' ucapku dalam hati dan menundukkan kepalaku.


Alvin duduk agak jauh dari tempat aku makan. Entah dia sadar atau tidak ada aku di sini. Dia sendiri dengan memegang ponselnya sebari tersenyum beberapa kali.


'Untunglah dia tidak melihatku'


Syukurku dalam hati. Namun, aku juga agak kesal dengannya yang tersenyum sendiri dengan ponselnya.


"Sya cobain deh baksonya kok rasanya agak beda?" tanya Zio sambil menyodorkan sendok yang terisi bakso kecil ke arah mulutku.


"RASYA" teriak seseorang perempuan dari jauh.


"Jimin?" tanyaku sebari memakan yang disodorkan Zio.


"Dicariin Pak Wahyu TU" ujar Jimin memberi tahu.


"Ah iya lupa" aku langsung bergegas menuju ruang TU meninggalkan makanan yang masih tersisa.


"Rasya anterin gak?" tawar Sita dengan nada yang sedikit tinggi melihatku mulai jauh darinya.


Saat aku membalikan badan ke arah mereka aku melihat Alvin yang sedang bercanda bersama Jimin.

__ADS_1


'jimin?' tanyaku dalam hati. 'Kalau dipikir-pikir ia juga, dilihat dari manapun bentuk tubuh Jimin terlihat sama dengan perempuan yang dibonceng Alvin kemarin' lamunku sekejap.


''Gak usah" jawabku pada Sita saat aku mulai sadar dengan lamunanku.


Aku pergi dengan perasaan campur aduk. Rasanya aneh padahal aku baru kenal Alvin beberapa hari ini.


Aku menyadarkan diriku sendiri memukul pelan kedua pipiku dengan kedua tanganku.


Setelah sampai ruang TU aku menghampiri Pak Wahyu yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya.


"Permisi Pak" sopanku.


"Ah ya silakan duduk" jawabnya mempersilakanku duduk.


"Maaf Pak saya baru datang, ini..." aku menyodorkan uang untuk biaya sekolahku yang belum lunas.


"Loh uang sekolahmu kan udah lunas" jawab Pak Wahyu dengan mengembalikan uangku.


"Lunas?" tanyaku.


"Iya, seminggu yang lalu ada tante kamu yang bayar sambil bayar punya anaknya"


'Tante siapa?' tanyaku dalam hati


"Jadi kenapa kamu gak akan ikut lompa cipta puisi kali ini?" tanya Pak Wahyu heran.


"Rasya gak tahu bakal ada cipta puisi lagi"


"Bapak kan udah kasih tahu kamu lewat Sita"


"Sita gak bilang apa-apa"


"Mungkin kamu lupa"


"Yaudah pak saya permisi"


"Rasya tolong antarkan data ini ke Pak Roni" Pak wahyu mencegahku sebelum pergi dan memberiku tumpukan kertas bertanda kelas XII IPA 3.


Aku berjalan dengan gontai. Bertanya-tanya tentang tante yang membayar uang sekolahku dan Sita yang belum pernah memberitahuku tentang lomba. Sambil bertanya-tanya dalam hati aku sedikit membuka kertas yang tertutup sampul biru ini. Ada sebuah nama yang menarik perhatianku 'Jeon Alvino ' itu adalah nama panjang Alvin. Tertulis bahwa Alvin pindahan dari Paris. Namun yang lebih menarik perhatianku adalah nama orang tua Alvin yang tertulis Joen Baekjim dan Riniyani. Terasa tak asing dengan nama Joen ini.


"RASYAAAA" teriak seseorang dari arah depan yang membuyarkan pikiranku.


"Aishh sial" umpetku.


Itu Shinna yang hobi mengejarku dengan satu alasan pasti. Aku berlari sekuat tenaga. Terjadilah aksi kejar-kejaran dengan aku yang setiap menemukan tong sampah ku dorong ke arah Shinna agar memperlambat larinya. Namun naas saat ku memasuki ruangan yang berisi kolam renang sekolah aku terpeleset dengan kertas yang berhamburan dan seseorang yang menangkapku bak adegan romantis seperti yang sering kubayangkan seperti dalam novel maupun drama. Namun saat kubuka mataku bukan seperti yang kuharapkan.


"Pak Roni?" aku terkejut melihatnya dan langsung berdiri.


Bukan pangeran yang kuharapkan tapi Pak Roni yang menangkapku.


"Pangeranmu menangkapmu baby" jawab Pak Roni lebay.


"Ciee" sorak siswa yang sedang berada di kolam renang yang diajar Pak Roni.


'Aish kenapa aku malah berharap Pak Roni adalah Alvin. Jauhkan pikiran kotormu Rasya' Aku berdebat sendiri dalam hati.


"Maaf Pak dan ini Rasya ketitipan sama Pak Wahyu" aku membereskan kertas yang berhamburan tadi.


"Gak usah buru-buru cantik'' ucap Pak Roni Menggoda.


Pak Roni emang sifatnya gitu. Aku udah terbiasa dengan kekonyolannya. Bahkan Pak Roni pernah menari tak karuan agar siswa tertawa dan tidak bosan diajar olehnya.


"Permisi Pak" pamitku setelah semua beres.


"Sering-sering ke sini cantik" Pak Roni dengan nada bercandanya.


"Siap Bapak Ganteng" jawabku menimbali candaan Pak Roni.


"Cieee witwiww" sorak siswa lagi namun lebih heboh.


Aku ke luar ruangan itu dengan hati-hati melirik ke sana kemari karena takut Shinna akan mengejarku lagi. Namun ternyata nihil Shinna tidak ada dimana-mana.


'Tumben' ungkapku dalam hati karena ku tahu Shinna akan terus berusaha mendapatkanku dengan sikap pantang menyerahnya. Bahkan pernah pada suatu saat dia sampai di hukum gara-gara ikut aku masuk kelas yang berisi guru sedang mengajar padahal kelasnya berbeda denganku.


Setelah terasa aman aku berjalan enjoy melewati koridor sekolah namun saat melewati laboratorium yang kosong aku mendengar keributan seperti orang sedang cekcok. Karena rasa super kepoku kambuh aku mengintip sedikit dan ternyata itu Alvin dan Shinna. Aku yang terkejut langsung mempercepat jalanku.


'Berapa perempuan yang kau permainkan Vin aku percaya kamu tak seperti lelaki lain. Namun apa? Kau lebih parah'

__ADS_1


__ADS_2