Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 7


__ADS_3

"Pegang tanganku" seorang anak laki-laki berusaha menolong anak perempuan yang hampir jatuh di tepi tebing.


"Ibu takut..." Rintih anak perempuan yang hampir jatuh.


"ACA..." teriak seorang ibu yang berlari panik ke arah dua anak yang keduanya kini hampir terjatuh.


Aku terbangun dari tidurku. Mimpi itu kembali lagi. Mimpi yang sering kualami saat aku masih kecil. Namun, mulai hilang saat aku masuk SMP dan kini entah kenapa kembali lagi. Rasa takutku mulai kembali. Takut akan sesuatu yang tak pasti. Aku tak tahu kedua anak itu siapa karena dalam mimpiku wajah mereka tertutup bayangan hitam tak terlihat.


Aku melakukan aktivitas pagiku seperti biasa mandi, makan, dan membantu ibu mencuci piring. dan berangkat ke sekolah setelah berpamitan kepada bunda.


Namun, saat aku keluar rumah aku melihat Zio dengan bersandar pada mobil sedan berwarna merah yang kuyakini itu adalah miliknya.


"Yuk" ajaknya dan dibukanannya pintu mobil itu untukku.


"Tumben bawa mobil" akupun masuk ke dalam mobil dan ditutupnya pintu kembali mobil setelah aku masuk.


"Gak tahu pengen aja" jawabnya setelah memasuki mobilnya.


Zio memang anak dari keluarga yang lumayan berada. Ibuku juga bekerja di toko milik orang tua Zio. dan masih banyak cabang toko yang dikelola keluarganya.


Dia melajukan mobilnya sedikit ngebut kerena waktu sudah menunjukan pukul 06.54 WIB dan jarak kami ke sekolah masih lumayan jauh.


Di tengah perjalan handphoneku bergetar bertanda pesan masuk. Aku membuka handphone terlihat nama Alvinku berada pada layar utama.


Ckittt


Tiba-tiba Zio menekan remnya mendadak sehingga kepalaku hampir membentur kaca mobil namun untungnya aku memakai sabuk pengaman.


"Sorry lu gakpapa" Zio dengan sigapnya mengecek kondisiku.


"Zio, lu kenapa sih?" Aku sedikit membentak karena kaget.


"Ada yang sakit?" tanyanya menghiraukan bentakkanku


"Gakpapa" jawabku singkat.


Zio melajukan mobilnya namun kali ini lebih pelan karena jarak ke sekolah mulai dekat. Akupun membuka handphoneku lagi yang belum sempatku baca namun Zio mencegahnya dan mengambil handphoneku sebelum aku membacanya.


"Zio lu apa-apain sih?" tanyaku seraya berusaha mengambil kembali handphone milikku yang kini disembunyikannya di dalam saku celananya.


"Diem Sya bahaya" Zio mencegahku dengan satu tangannya.


Akupun pasrah dengan menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

__ADS_1


Setelah sampai sekolah akupun langsung ke luar mobil yang disusul Zio. Sepanjang koridor sekolah aku berusaha mengambil handphoneku namun tetap tidak bisa tangan Zio terlalu tinggi untuk aku yang terbilang pendek ini.


Tiba-tiba dari arah belakang seseorang mengambil handphoneku dari tangan Zio. Kuyakini itu adalah Alvin.


"Hei" refleks Zio dan bersiap mengejar Alvin namun tercegah oleh jeweran bu Rina yang merupakan guru wali kelas kami.


"Ibu bilang apa kemarin rambutmu terlalu gondrong Zio" bentak bu Rina kesal.


"Iya bu iya besok saya cukur" jawab Zio kesakitan karena telinganya masih dijewer bu Rina.


"Rasya masuk" suruh bu Rina melihatku yang hendak kabur untuk menyusul Alvin yang membawa handphoneku.


Aku dengan terpaksa menuruti bu Rina memasuki kelas. Aku duduk di bangku kedua paling pinggir dekat jendela sebangku dengan Sita dan nazwa duduk di depan kami bersama Jimin. Namun sekarang hanya Jimin yang kulihat dan terasa sepi.


"Sya lu kenapa" tanya Sita yang melihatku tak semangat.


Aku hanya menggelengkan kepala dan menutup kepalaku dengan tas yang kusimpan di atas meja.


Bel istirahat berbunyi disertai anak-anak yang berhamburan ke luar kelas.


"Kemana?" tanyaku heran melihat Sita yang buru-buru ke luar kelas.


"Sya, lu gakpapa kan makan sendiri gue ada urusan bentar"


"Rasya" panggil seseorang dari belakang.


Orang itu adalah Jimin. Dia menghampiriku dan menggandengku ke kantin.


"Tumben sendiri" tanyanya padaku.


"Lu juga tumben sendiri"


"Lah gue kan tiap hari emang sendiri"


"Ehh iya juga"


Jimin memang terlihat selalu sendiri namun kulihat kesendiriannya bukan hal yang menghambat kebahagiannya untuk berteman dengan siapapun. Buktinya banyak yang kenal Jimin karena dia ikut organisasi seperti osis dan pramuka. Dia juga anaknya cerdas dengan peringkat tiga besar setelah aku dan Nazwa disusul Sita peringkat 4.


Aku memang termasuk anak yang cerdas di kelasku. Aku peringkat satu dari jumlah 38 siswa dan kerap menjadi juara umum seangkatan jurusanku.


Aku dan Jimin memilih meja yang kosong dan memesan makanan. Dia memesan bakso dan es jeruk sedangkan aku somay dan es teh manis.


"Rame ya?" tanyanya seraya melihat sekitar.

__ADS_1


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Lu ada hubungan apa sama Alvin?" tanyanya lagi.


Pertanyaan itu membuat jantung berdetak kencang. Aku lupa Jimin adalah orang yang cukup dekat dengan Alvin dan mungkin Jimin adalah pacar Alvin.


"Gak ada apa-apa lu jangan salah paham ya" jawabku was-was agar Jimin tidak usah khawatir kepadaku.


"Apaan sih nga-" belum sempat dia melanjutkan omongannya dia memanggil seseorang. "Kak Alvin" panggilnya.


Akupun langsung mengarahkan kepalaku ke arah orang yang dipanggil Jimin dan bersiap untuk menghampirinya. Namun, Alvin yang melihatku dengan sigap berlari ke arah yang berlawanan. Akupun bersiap mengejarnya.


"Kemana?" cegah Jimin dengan memegang tanganku.


"Nanti makanannya gue bayar" aku melepaskan cekalan Jimin dan berlari ke arah larinya Alvin. Namun aku kehilangan jejaknya dan mencarinya dengan berjalan. Saat melewati halaman belakang sekolah aku tertarik dengan dua orang yang sedang cekcok. Kupikir itu Alvin dan Shinna lagi seperti saat itu. Aku berusaha mendekat dengan berjongkok mengendap-ngendap mengikuti rimbunan tumbuhan berjajar yang cukup untuk aku sembunyi.


Terkejutnya aku saat kulihat itu bukanlah Alvin dan Shinna melainkan Zio dan Sita. Kulihat Sita sedang menangis dengan Zio seperti memasang wajah kesal. Aku yang melihatnya dengan refleks memundurkan tubuhku dan tak sengaja menginjak botol yang menghasilkan bunyi yang mampu terdengar oleh keduanya.


Kudengar langkah yang semakin mendekat. Aku yang gugup hanya menutup mataku dan perlahan memundurkan badanku dengan berjongkok. Namun, seseorang menarikku kebelakang bagunan tepat di belakangku sambil mendekap mulutku.


"Zio?" Panggil seorang perempuan yang kuyakini itu adalah suara Jimin.


Lama-kelamaan suara mereka mulai mereda mungkin karena mereka sudah tidak ada lagi ditempat itu.


Aku mulai membuka mataku perlahan namun tidak ada siapapun yang berada disekitarku. Akupun mencarinya dan terlintas kulihat punggung seorang laki-laki terlihat seperti Alvin. Akupun mengejarnya dan berhasil meraih mendapatkan lengannya.


"Lu kenapa sih?" tanyaku.


"Kamu udah buka pesan?" tanyanya tanpa menjawa bertanyaanku.


"Belum" jawabku jujur yang mengerti pesan apa yang dimaksud Alvin.


"Hah serius?" tanyanya lagi


"Kenapa sih?"


"kamu mau temenin aku gak?"


"Kemana"


"Nanti kamu juga tahu" jawabnya dan berjalan meninggalkanku.


"Alvin handphone gue" teriakku dan mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2