Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 8


__ADS_3

Biru langit tertutup awan putih mengelilingi. Matahari hampir sejajar kepala. Aku bersama Alvin yang baru turun dari mobil sedan berwarna hitam yang tanpak mewahnya kini mulai masuk ke tempat perbelanjaan. Sebuah mall yang berada di pusat kota.


Kami bolos pembelajaran. Aku lagi-lagi mengikuti Alvin dengan percaya tanpa curiga Alvin bisa saja menyakitiku.


"Sya, Sita telpon" Alvin memperlihatkan handphoneku yang masih disimpannya bergetar tanpa suara.


"Sini" aku meminta handphoneku untuk menjawabnya. Namun, Alvin segera mengangkatnya dia meminta tolong kepada Sita untuk mengizinkan aku.


"Ngapain ke sini?" tanyaku setelah melihat-lihat mall yang lumayan luas.


"Ikut aja" Alvin berjalan mendahuluiku.


Aku mengikuti Alvin dari belakang. Terlihat banyak wanita yang sudah bekerja atau mungkin menikah memperhatikan kami. Pastinya bukan fokus ke arahku tapi ke arah Alvin yang berjalan tanpa memperduliakan tatapan mereka yang seolah sedang mengagumi. Sampai kami beberapa kali berhenti karena ada aja orang yang meminta berfoto kepadanya tapi Alvin selalu menolaknya dengan sopan dan berlanjut dengan menggenggam tanganku. Kini aku percaya Alvin memang tampan seperti artis korea kalau kata Nazwa dan Sita. Dilihat dari nama ayahnya saja sudah dipastikan dia keturunan sana.


Setelah sampai di lantai atas khusus tempat bermain. Alvin memasuki tempat tertulis Timezone.


"Sya, kalau kamu bisa kalahkan aku. Kamu punya 3 permintaan yang siap kukabulkan" Alvin mengajakku untuk bermain maximum tune.


Maximum Tune adalah permainan balapan paling populer, di permainan ini kita bisa menjalankan story, ghost battle, dan multiplayer. biasanya dimainkan oleh remaja dan orang dewasa.


"Ck berasa jin lu ya"


"Mau gak" tawarnya lagi.


"Oke"


Aku dengan senang hati menerima tantangannya. Dia gak tahu kalau aku sering bermain ini bersama Zio dan kadang berhasil mengalahkan Zio walau sulit karena Zio sangat jago.


Kami bermain dengan seru namun pasti berujung dengan kekalahan Alvin.


"Kamu curangnya" dia frustasi karena selalu kalah.


"Lu aja yang gak bisa main" ejekku. "Gue menang ya" ucapku sombong.


"Enak aja. Baru satu kosong"


"Main lagi? Belum kapok lu"


"Bukan yang ini yang itu" tunjuknya lagi ke arah permainan bernama dance - dance revolution.


Dance Dance Revolution adalah game yang memerlukan kecepatan kaki dan keahlian menari. game ini bisa dimainkan oleh 2 orang, biasanya dimainkan oleh remaja dan orang dewasa.


Aku yang melihatnya sedikit panik karena jujur aku paling gak bisa dengan permainan yang satu ini.


Kami bermain diseritai tawa karena kami berdua sama-sama payah dalam memainkan ini. Terlihat skor akhir dimenangkan oleh Alvin walaupun skor kami beda tipis.


"Yess" soraknya gembira.


"Ck satu sama ya"


Aku yang kesal melihat-lihat permainan yang kuprediksi bisa mengalahkan Alvin.


"Gue mau itu" kali ini aku yang menunjuk permainan. Permainan yang kupilih adalah time crisis.

__ADS_1


Time Crisis adalah game tembak tembakan populer, di game ini kita bisa main berdua untuk menjalankan story, biasanya dimainkan oleh semua kalangan.


"Setuju" Alvin mengiyakan dengan cepat.


Kami bermain disertai candaan dan kadang aku mengganggunya memerapa kali. Namun usahaku gagal dia tetap memenangkan permainan ini dan prediksiku salah. Alvin sangat jago memainkannya.


Kami bermain permainan lain seperti street basketball, hockey meja, tekken tag tournament dan masih banyak lagi. Tidak terasa hari mulai sore. Kami menyudahi permainan dengan aku yang menjadi pemenangnya.


Kami ke luar dari area itu. Aku yang puas dengan hasilnya memikirkan permintaan apa yang pantas aku minta darinya. Sedangkan Alvin terlihat sangat lemas karena mungkin tak menyangka aku yang menang.


"Vin makan yuk" ajakku.


"Ayok aku juga lapar"


"Lu yang bayar ya" pintaku.


"Permintaan berkurang satu" timbalnya cepat.


"Kok gitu?" tanyaku tak terima.


"Mau gak?" tawarnya lagi.


"Oke deh" aku mengiyakan karena rasa laparku mulai tak tertahankan.


Aku memilih restoran termahal yang masih satu gedung dengan mall tempat kami bermain tadi. Aku memilih banyak makanan mulai dari salmon scrambled, steak sapi, juga veggie burgers dengan minuman chocolate milkshake. Sedang Alvin hanya memilih steak sapi dengan minuman sama denganku.


"Kamu yang makan semua?" tanyanya heran melihatku memilih menu lumayan banyak.


"Iya dong" jawabku pasti.


"Kenapa?" tanyaku yang mendengarnya.


"Aku kira kamu orang sederhana ternyata kamu lebih berkelas ya jago milih restoran" ungkapnya.


"Iya dong. Nih ya kalau ditraktir orang tuh gak usah tanggung-tanggung kalau bisa nih aku beli restoran ini"


"Yang ada aku bangkrut tahu"


"Kamukan kaya" jawabku menggoda dengan alis yang ku turun naikan.


"Ck" Alvin hanya berdecak menanggapiku.


Kami makan dengan lahap. Lebih tepatnya bukan kami tapi aku. Aku memakan semua makanan dengan lahap dan Alvin sesekali melihatku dengan senyumnya. Alvin juga sering melihat handphoneku yang kulihat bertanda telpon masuk namun beberapa kali diabaikannya. Aku yang melihatnya hanya acuh dan tidak bertanya siapa yang dari tadi menelponku. Namun, bila itu penting aku yakin Alvin akan memberikannya padaku.


Setelah selesai dan aku merasa puas. Alvin membayar semua makanan dan kami bersiap untuk pulang. Namun saat kami melewati toko boneka, Alvin mengajakku masuk dan membeli sepasang boneka kelinci berwarna coklat.


"Buat siapa?" tanyaku setelah kami ke luar dari toko itu.


"Kepo" jawabnya.


Aku yang mendengarnya kesal dan hanya melanjutkan jalanku. Kami kembali menaiki mobil Alvin dan berjalan ke luar area mall menuju rumahku. Sepanjang perjalanan Alvin sesekali mengecek handphoneku yang masih dipegangnya.


"Vin sini gak" pintaku kesal melihatnya.

__ADS_1


"Ini kodenya apasih?" tanyanya padaku.


"Kepo" jawabku kesal.


Alvin kembali memasukan handphoneku ke saku kemejanya. Dia terlihat frustasi namun aku tak tahu dia kenapa.


Hari mulai gelap dengan jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Setelah sampai depan rumah aku ke turun dari mobilnya dengan diikuti Alvin. Dia memberikanku satu boneka yang dia beli.


"Buat aku?" tanyaku refleks dan tidak sengaja terucap kata 'aku'.


"Iya" jawabnya dengan senyum. Entah dia sadar atau tidak dengan aku yang mengucapkan kata 'aku' yang tidak biasa aku ucapkan.


"Kenapa?"


"Kalau gak mau yaudah" tutur Alvin dan bersiap untuk memasuki mobilnya kembali.


Namun tercegah olehku yang menggambil boneka yang tadi disodorkan Alvin.


"Kalau ngasih tuh gak boleh diambil lagi tahu"


Alvin tersenyum dengan apa yang aku lakukan.


"Aku pulang ya" pamit Alvin.


"Eh tunggu hp gue" cegahku lagi yang ingat handphoneku masih dipegang olehnya


"Sya, gimana kalau hp kamu aku beli?" tawarnya.


"Apaansih sini?"


Alvin dengan ragu mengembalikan handphoneku. Setelah aku mendapatkannya Alvin langsung menaiki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Kenapa sih?" aku berguman sendiri setelah melihat sikap Alvin yang agak terobsesi dengan handphoneku bahkan bukan hanya Alvin namun Zio juga di pagi tadi. Sambil berjalan ke rumah aku menyalakan handphoneku. Aku melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Zio dan membuka pesan dari tujuan dengan nama Alvinku.


'Aku kangen kamu'


Itulah isi pesannya dan lagi-lagi pesan singkat Alvin yang hanya tiga kata itu mampu membuatku tersenyum senang.


"Apasih senyum-senyum gitu?" tanya ibu yang sedang mempersiapkan makan.


"Gakpapa bu" jawabku dan langsung memasuki kamar dan menaruh boneka kelinci tadi di tempat tidurku dan bersiap untuk mandi.


Setelah selesai mandi aku kembali menghampiri ibu untuk makan. Sebenarnya aku sudah kenyang namun aku tak tega juga melihat ibu yang sudah memasak untukku. Akhirnya aku makan lagi dengan porsi yang aku kurangi dari biasanya.


"Sya Zio tadi beberapa kali mencari kamu ke toko dan katanya dia juga ke rumah mencari kamu" ujar ibu saat kami sedang makan.


"Emang kamu kemana?" Lanjut ibu.


"Oh iya aku lupa kabarin ibu" jawabku.


"Tapi Zio gak ngomong apa-apakan bu?" tanyaku khawatir karena takut Zio memberitahu ibu kalau aku bolos bisa-bisa aku kena marah ibu. Walaupun ibu terlihat sangat baik, ibu bisa berubah menjadi macan yang siap menerkam musuhnya jika dia marah.


"Enggak, katanya habis pulang sekolah kamu langsung pergi" jawab ibu.

__ADS_1


'Syukurlah' aku bersyukur dalam hati dan melanjutkan makanku bersama ibu.


__ADS_2