Happy Birthday

Happy Birthday
Chapter 9


__ADS_3

Perang hati tanpa tombak


Saling membunuh jerit tawa


Awan bergumbal hitam memekik


Jeritan terdengar perih meminta asa


Itulah kata yang kutulis yang akan ku upload ke media sosial. Setelah seminggu lamanya tidak update akhirnya aku kembali mengirimkan karyaku yang disambut baik oleh followers dengan beberapa like dan juga komentar. Aku terkadang membalas komentar-komentar mereka sekedar menyapa dan juga ada beberapa komentar negatif namun aku tak menghiraukan itu. Aku lebih melihatnya sebagai saran dan kritik bukan ungkapan kebencian. Aku juga mengecek pesan emailku dan kulihat terdapat beberapa tawaran untuk aku sebarkan ke media sosial punyaku. Aku menerima beberapa tawaran iklan yang kebanyakan dari sebuah olshopp. Aku mengupload ulang barang yang mereka jual dan setelah itu menunggu uang masuk ke rekeningku.


Karena hari ini hari minggu jadi aku santai di rumah. Ibu sudah pergi ke toko dari tadi pagi namun ibu belum sempat menyiapkan makan untukku dan aku yakin ibu juga belum makan. Ibu menyuruhku untuk membeli bubur yang ada di sebrang jalan raya. Walaupun jaraknya dekat namun aku malas ke luar rumah jadi aku memutuskan untuk tidak makan itung-itung diet itulah yang kupikirkan.


Tuk tuk tuk


Seseorang mengetuk pintu rumahku. Setelah memeriksa dari jendela aku melihat Zio memakai celana panjang abu dengan jaket hitamnya dan aku langsung membukakan pintu untuknya.


"Sya makan yuk?" Ajaknya.


"Gue ngambil jaket dulu"


Akhirnya takdir tidak mengizinkanku diet Zio datang menghampiriku yang tengah duduk di ruang tamu. Dia mengajakku makan ke luar kemungkinan dia tahu dari ibu kalau aku belum makan. Aku mengambil jaket abuku yang tanpak serasi dengan celana pendek selututku yang kebetulan lagi aku memakai sepatu berwarna abu yang semakin cocok untuk dipadukan.


Setelah ke luar dan mengunci pintu aku melihat Zio sedang menaiki sepeda onthel dengan boncengan di belakangnya.


"Tumben punya lu?" tanyaku.


"Punya pak Dito" jawabnya.


"Gak sopan" ucapku disertai tawa karena pak Dito adalah nama ayah Zio.


"Eh tahu gak bu, itu anak kemarin pergi dan pulang sama orang berbeda dua-duanya bermobil" terdengar suara tanteku di depan rumahnya sedang berkumpul dengan temannya sebari melihat ke arahku.


"Tante pake parfum apa?" tanya Zio setelah mendengar obrolan tanteku yang dia tahu itu dipertujukan kepadaku.

__ADS_1


"Emang kenapa?" tanya tanteku bingung sambil menyium bau bajunya.


"Kok bau tanah" ungkap Zio sinis.


"Heh maksud kamu apa?" bentak tanteku.


"Ati-ati tante udah pada keriput itu"


"YA" bentak tanteku lagi setelah sadar akan maksud dari perkataan Zio.


"Dadah tante" Zio melambaikan tangannya.


Aku hanya tersenyum mendengarnya dan terasa sedikit puas akan perkataan Zio pada tante. Jujur aku gak tahu ada salah apa aku pada tante namun tante selalu cari masalah kepadaku yang selalu ku acuhkan karena bosan mendengarnya mungkin telingan dan hatiku sudah kebal menghadapinya.


Aku menaiki sepeda yang diboncengi Zio. Dia menggayuh sepedanya pelan namun terkadang melajukannya cepat. Aku yang diboncengnya hanya bisa memukulnya dari belakang namun mungkin tak dirasa Zio.


Kami berhenti di depan rumah makan padang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman rumah Nazwa. Namun sebelum masuk aku terkejut melihat dua orang yang terlihat tidak asing hatiku bergetar tidak karuan.


'Bunda dan Jimin' ya aku melihat mereka tengah memesan makanan. Akupun langsung menarik Zio dan pindah tempat makan.


"Lu kenapa sih?" tanya Zio heran melihatku hanya mengaduk bubur dan tidak memakannya padahal aku paling males kalau melihat bubur yang diaduk.


"Sya?" tanyanya lagi melihatku yang tak menjawab pertanyaannya.


"Hah?" tanyaku kaget.


"Lu kenapa sih?"


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Sya lu tadi lihat siapa sih?"


"Bunda" jawabku pelan.

__ADS_1


"Bunda siapa?"


Aku menggelengkan kepalaku lagi bertanda tidak mau menjawab.


"Kemarin lu kemana? Hampir aja absen lu alpa bisa kena hukum bu Rina untung ada Jimin yang berhasil meyakinkan bu Rina" Zio mengalihkan pembicaraan karena tahu aku tidak akan menjawab pertanyaannya tadi.


"Lah Alvinkan udah minta tolong Sita buat izinin gue" ujarku heran mendengarnya.


"Alvin? Lu bolos seharian bareng Alvin" tanyanya kaget.


"Ya gitu" jawabku seraya menaikan kedua bahuku.


"Emang ya tuh anak pembawa gak bener tahu gak"


"Siapa yang pembawa gak bener?" terdengar suara seorang laki-laki yang ikut menimbrung.


"Alvin?" ucapku kaget.


Alvin ikut duduk di sebelahku. Dia memakai pakaian santai dengan celana panjang hitam dan jaket berwarna abu membawa kamera yang dikalungkannya.


"Dari tadi kupingku panas" ucapnya lagi menggaruk telinganya yang mungkin tidak gatal.


"Ngapain duduk?" tanya Zio sinis.


"Sya lagi ngomingin aku ya?" Alvin menanyaiku tanpa menjawab Zio yang kini terlihat sangat kesal.


"Ck geer" jawabku dengan berdecak.


"Sya foto yuk?" ajak Alvin membenarkan posisinya kamera yang dibawanya.


Akupun berpose dan mengajak Zio untuk ikut. Zio yang tadinya menolak setelah beberapa fotonya tanpa ekspresi kini malah lebih semangat memperagakan gaya lucu.


Beberapa foto berhasil ditangkap kamera Alvin yang terkadang terisi penuh oleh wajah Alvin dan Zio yang berebut posisi kamera dan menghiraukan beberapa orang yang melihatnya.

__ADS_1


Dan Sita? Entahlah aku tak memikirkannya sekarang. Namun aku harus berhati-hati sudah beberapa kali Sita berlaku aneh dari mulai pak Wahyu, Sita yang tak menghubungiku saat Nazwa akan pergi, dan kemarin aku hampir alpa. dan masih banyak lagi pikiranku seperti tadi Jimin sama bunda. Aku terus memikirkan hubungan mereka berdua. Entah apa yang harus aku lakukan yang terpenting sekarang aku bersama mereka yang menghilangkan sejenak beban pikiranku.


__ADS_2