
Jika mereka menyebutnya cinta, tetapi kamu tidak mengenalinya, itu bukan cinta yang kamu butuhkan.
Pagi ini aku pergi ke sekolah seperti biasa dengan menaiki angkutan umum. Hari mulai menampakkan cerahnya dan aku berjalan melawati koridor dan tangga karena kelasku berada di lantai 2. Aku memasuki kelas yang masih terbilang sepi hanya ada beberapa orang saja karena yang lain pasti akan datang pas bel mulai berbunyi. Aku melihat Sita yang duduk dengan memegang ponselnya seraya tersenyum tidak menyadari adanya aku.
"Kayanya asik tuh" aku menyapa Sita dan duduk di sampingnya.
"Rasya gue kangen" Sita memelukku begitu dia tahu aku sudah berada di sampingnya dan akupun membalas pelukkannya.
"Eh Sya gimana kabarnya?" Lanjutnya seraya melepaskan pelukkannya.
"Sehat dong" jawabku.
"Maaf ya gue kemarin-"
"Iya gakpapa" potongku mengerti apa yang dia maksud.
"Makasih" senyumnya.
"Siapa?" tanyaku mendengar dering handphone Sita yang dari tadi berbunyi bertanda pesan masuk.
"Bukan apa-apa" jawabnya berbohong.
"Dari Raysan?" tebakku.
"Hah? Emm.."
Mendengar tebakkanku Sita terlihat gugup dan panik. Aku yang melihatnya dibuat bingung seolah 'kenapa' namun tak terdengar.
"Sita gue tahu kok lu lagi deket Raysan. Santai aja kali" ucapku siapa tahu menenangkannya.
"Gak deket-deket amat kok" jawabnya seraya tersenyum namun seperti terpaksa.
"Masa sih?" ledekku berniat agar Sita tak lagi sungkan bercerita padaku.
"GUE BILANG GAK ADA APA-APA. APA SIH KOK LU SOK TAHU GITU" bentaknya seraya berdiri dan mengebrakkan tangannya ke meja.
Aku yang kaget hanya ikut berdiri dan tidak terucap sepatah katapun.
"Woy santai dong" bela Jimin yang baru datang dan langsung menarik bahu Sita menjauh dariku.
"Sorry Sya" ucap Sita menunduk dan mengecilkan suaranya. Dia pergi ke luar kelas dengan bel sekolah yang mulai berbunyi.
"Sita lu mau kemana?" tanyaku setengah berteriak melihat Sita yang sudah di ujung pintu.
Aku berniat mengikutinya namun bu Rina datang dan mencegahku ke luar. Akhirnya aku terpaksa duduk dengan perasaan tidak karuan.
"Udah jangan dipikirkan" ucap Jimin membalikan badannya kebelakang. Mungkin dia menyadari aku yang dipenuhi pikiran.
"Sekarang lu tahu. Hati-hati dengan Sita" lanjutnya pelan.
"Kemarin Sita baik-baik aja kan?" tanyaku khawatir.
Namun, sebelum Jimin menjawabnya Bu Rina dengan halus dan tanpa ekspresi menyuruh aku dan Jimin ke luar kelas.
__ADS_1
" Rasya, Jimin keluar!" suruh Bu Rina.
"Tapi bu-" keluhku berbarengan dengan jimin.
"Keluar atau ibu yang ke luar?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Akupun dan Jimin ke luar kelas dengan sedikit penyesalan karena mengganggu pembelajaran.
"Sya lu mau kemana?" tanya Jimin yang mengikutiku.
"Gue mau ke perpustakaan"
"Gue ikut ya?"
"Lu suka baca?" tanyaku melihat Jimin yang antusias mengikutiku.
"Gak suka"
"Terus ngapain ikut"
"Gue kan baru bertama kali bolos"
"Oh iya ya semanjak lu pindah ke sini gue belum lihat lu bolos"
"Iyalah ngapain juga gue bolos"
Jimin memang murid pindahan yang masuk sejak setahun kemarin tepatnya pada pertengahan semester kelas 10. Di balik sikapnya yang cuek dengan keadaan sekitar namun, dia cukup populer di kalangan remaja laki-laki karena wajahnya yang lancip seperti campuran wajah barat dan wajah korea, Jepang, atau China. Entahlah aku tak tahu pasti karena wajahnya seperti tidak ada keturunan wajah Indonesia. Mungkin juga ada tapi tak terlihat olehku. Rambutnya panjang berwarna kecoklatan dengan kulit putih dipadukan dengan tubuhnya yang kecil menjadikan dia terlihat sangat imut dan cara berbicaranya yang cadel membuatnya semakin lucu. Siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta itulah Menurutku.
"Jimin lu gak niat baca apa?" tanyaku yang sedikit canggung karena Jimin terus mengikuti.
"Males baca" jawabnya.
"Lu harus coba baca ini" aku menyerahkan novel ke tangan Jimin dengan gendre komedi yang menurutku paling seru.
"Gak usah" tolaknya.
"Baca atau lu pergi sana" ancamku.
"Iya iya gue baca"
Akhirnya Jimin menyerah dan mengambil buku yang aku rekomendasikan. Setelah aku menemukan novel yang aku cari akhirnya kami duduk di bangku yang tersedia di perpustakaan sangat sedikit orang yang membaca mungkin bisa dihitung dengan jari karena kelas belum waktunya istirahat. Jimin duduk di sampingku dan dia mulai membaca.
Dia yang tadinya sangat malas membaca sekarang terlihat lebih asik dariku dengan disertai tawanya yang tidak bisa dia tahan dan teguran dari beberapa siswa ketika Jimin tertawa dengan lepas tanpa ragu.
"Temannya Sita?" tanya seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba duduk di hadapanku.
"Kenapa?" aku menjawabnya karena ku tahu itu Raysan yang saat ini katanya lagi dekat dengan Sita.
"Sita anaknya lucu ya?" tanyanya lagi yang jelas-jelas dia pasti tahu jawabnya.
"Iya lucu bawel juga" jawabku jujur.
Aku menceritakan beberapa kejadian lucu tentang Sita yang aku tahu. Dia beberapa kali tertawa mendengar. Aku berbicara yang baik-baik tentang Sita karena aku tahu pasti dia menemuiku untuk bertanya tentang sikap Sita yang sebenarnya. Namun, aku tidak berbohong karena yang aku tahu Sita anaknya memang baik.
__ADS_1
"Lebih baik lu cari tahu sendiri" timbal Jimin yang aku kira sedang sibuk membaca buku namun ternyata sedikit mendengarkan obrolan aku dan Raysan.
"Iya deh thanks ya" pamit Raysan mungkin sudah puas dengan ceritaku.
Setelah Raysan pergi aku mulai membaca lagi.
"Sya gue lapar, lu mau ke kantin gak?" tanya Jimin dengan memegang perutnya.
"Gue bentar lagi deh" tolakku karena masih asik membaca.
"Yaudah gue duluan ya"
Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakannya.
"Mau titip gak?" tawarnya.
"Gak usah nanti lu cape lagi ke sini lagi"
"Santai aja"
"Gak usah lagian belum laper kok"
"Yaudah gue ke kantin"
Aku menganggukkan kepalaku lagi mengiyakan. Jimin pergi dengan membawa bukunya.
Setelah beberapa menit berlalu aku yang fokus membaca melihat sedikit beberapa makanan di meja tempat aku membaca kulihat seseorang menyimpan beberapa makanan itu yang aku kira itu adalah Jimin.
"Gue bilang gak usah" aku menutup buku dan melihat orang yang duduk di hadapanku yang ternyata bukan Jimin.
"Zio?" tanyaku.
"Emang tadinya ada siapa di sini?" tanya Zio melihatku.
"Makanan datang" Alvin tiba-tiba datang dengan setumpuk makanan ringan dan beberapa roti juga minuman dengan berbeda-beda rasa. Ditaruhnya di atas meja dan menutupi makanan yang di bawa Zio. Alhasil penuhlah meja dengan beberapa makanan yang sudah di keluarkannya dari kresek yang tadi mewadahinya.
"Astaga apa-apaan ini?" tanyaku kaget melihat meja yang penuh dengan makanan.
"Aku gak tahu kamu suka apa jadi aku beli semua deh yang aku lihat " jawab Alvin dengan cengirannya.
Aku yang mendengarnya berusaha tenang dan mengantonginya lagi dengan kresek yang masih dipegang Alvin.
"Loh jangan dibalikin" cegah Alvin dengan tangannya.
"Siapa yang mau balikin?" tanyaku.
"Terus"
"Gue mau bawa pulang" jawabku.
"Hah?"
Aku tersenyum menanggapinya dan membawa semua makanan dari mereka berdua ke luar perpustakaan dan ku bawa ke dalam kelas aku simpan dan aku gantungkan dipinggiran mejaku. Aku membawa roti rasa keju dan air kemasan yang diberikan keduanya dimana roti dari Alvin dan minumnya dari Zio dan kembali ke perpustakaan tempat aku meninggalkan keduanya tadi untuk membahas tentang aku yang waktu itu.
__ADS_1