
Semakin terkumpul potongan puzzle semakin rumit mempersatukannya.
Saat ini aku masih bersama Zio duduk di taman kota yang masih ramai karena hari menjelang sore. Mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa berkumpul di sini sekerja bermain. Tempatnya luas dan banyak pedagang yang berlalu-lalang di sekitar taman.
"Lu kenal cewek yang tadi?" tanya Zio.
"Temennya Sita"
"Sita kenal?"
"Heem"
"Bagaimana bisa?"
"Gak tahu"
"Ini sembuhin trauma apa mecahin teka-teki?"
"Mecahin teka-teki kali ya"
Kami terdiam sejenak. Dan terdengar suara dering telpon yang berasal dari handphone Zio. Dia mengangkatnya singkat dan menutupnya kembali.
"Sya kita pulang sekarang yuk?" ajaknya.
"Kenapa?"
"Gue ada urusan."
"Ohh yaudah sana, gue pulang sendiri aja."
"Gakpapa nih?"
"Gakpapa"
"Lu sendiri dong?"
"Berdua"
"Sama bayangan, udah sana nanti kena marah nyokap lu lagi"
"Lu hati-hati ya kalo ada apa-apa langsung hubungi gue."
"Iya bawel iya"
"Tapi lu-"
"Iya iya udah sana" aku mendorong kedua bahu Zio dari belakang menjauhkannya dariku.
"Dah Sya hati-hati" Zio melambaikan tangannya sembari melangkah jauh.
Aku kembali duduk di kursi taman yang cukup untuk tiga orang. Aku masih dalam pikiranku tentang Fara dan Sita. Aku mengingat-ingat nama Fara berulang kali tapi tidak ada satupun ingatan tentangnya yang muncul.
Umur 5 tahun aku berulang tahun di tempat yang sama dengan orang-orang berbeda karena aku saat itu sudah masuk TK yang didatangi oleh teman-temanku dan banyak tamu undangan dari teman kerja ayah juga teman ibu yang berdekatan rumahnya.
Yang teringat jelas adalah saat semua anak berkerumun melihat anak perempuan memakai gaun mewah berwarna merah tanpak cantik melebihi aku yang ulang tahun pada saat itu. Aku yang memakai baju putih dengan pita di pinggangku dan hiasan sederhana mengelilinginya ikut masuk ke dalam kerumunan itu untuk ikut mengagumi gaun yang dia pakai. Namun, begitu aku masuk semua anak berbalik melihat ke arahku.
Flashback on
"Menurutku Rasya lebih cantik dengan gaunnya" ucap seorang anak laki-laki mengungkapkan pendapatnya.
__ADS_1
"Kalau gaun yang dipakai Fara dipakai Rasya kayanya lebih cocok" pendapat seorang anak perempuan terdengar yang disetujui dengan beberapa anggukkan anak lainnya.
"Aku sih lebih milih Rasya karena cantik" dan terakhir pendapat seorang anak laki-laki memperkeruh keadaan.
"Kamu lebih cantik kok" ucapku seraya tersenyum kepada anak yang memakai gaun merah itu.
Namun dia berbalik dan menjauh dari kerumunan.
"Fara" panggilku dan mengejarnya.
Flashback off
Akhirnya nama Fara muncul kembali dalam ingatanku. Setelah aku ingat-ingat lagi Fara ternyata satu SD denganku sampai kelas 4 aku pindah sekolah karena pekerjaan ayahku yang mengurusi cabang bisnis yang hampir bangkrut di wilayah kota Tasikmalaya sekitar 2 tahun makannya aku sedikit bisa berbahasa sunda, dan setelah semua pekerjaan beres dan akupun telah lulus SD kami kembali lagi ke rumah asalku dan masuk SMP di tempat terdekat.
"Nih" seseorang menempelkan benda dingin tepat di pipiku.
Dia adalah Alvin. Aku mengambil es krim yang dia berikan dan membukanya.
"Sya" panggilnya.
"Apa?" aku melihat Alvin dan seseorang di belakangnya.
"Siapa?" tanyaku.
"Pedagang es krimnya" jawab Alvin sedikit gugup.
"Terus?"
"Pacar kamu ini belum bayar" jawab laki-laki berkumis dengan sinisnya.
"Aku lupa bawa dompet habis-" gugup Alvin.
"Berapa bang?" potongku malas mendengar ocehan Alvin.
Aku mengambil dompet di dalam tasku dan memberikan uang pas kepada pedagang es krim.
"Lain kali punya pacarnya yang duit ya neng" sinis pedagang tadi dan kini sudah melangkah pergi.
"Orang kaya gak guna" sinisku seraya tersenyum kecil.
"Bukan gitu tapi dompet aku tinggal rumah mobil ke bawa lupa-"
"Lu ngomong apasih hah"
"Maaf"
"Santai aja sih, lagian tumben lu gak bawa duit"
"Habis tadi setelah liat kamu bareng Zio, di depan rumah Sita aku buru-buru-" dia menutup mulutnya sendiri secara tiba-tiba.
"Vin, lu ngikutin gue dari tadi?" tebakku.
"Enggak kok"
Setelah aku ingat-ingat ketika dari rumah Sita sampai sini aku beberapa kali melihat motor yang tidak asing terus berada di belakang aku dan Zio.
"Vin lu beneran ngikutin gue" aku menutup mulutku seolah tidak percaya dan kaget.
"Eh kata bunda kamu teman yang di puncak itu ya? Pantes aku merasa tidak asing mendengarnya" ucap Alvin mengakihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Gue juga sedikit gak percaya sih ternyata dunia ini sempit"
"Iya mungkin takdir kita"
Aku tersenyum mendengarnya karena bingung harus berbicara apalagi dengannya. Semua menjadi sia-sia aku yang susah payah tidak menemuinya dan kini malah duduk berdua di taman dengan es krim yang masih tersisa.
"Setau gue anak laki-laki yang waktu itu umurnya beda 2 tahun" ucapku menyadari akan sesuatu.
"Hah lu gak naik kelas?" tebakku lagi melihat ke arahnya.
"Gue ngalamin kecelakaan dan kehilangan penglihatan selama kurang lebih satu tahun jadi gue berhenti sekolah selama itu"
"Ohh" aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti.
"Setelah setahun akhirnya aku mendapat donor yang cocok"
"Siapa?" tanyaku meyakinkan.
"Hah?"
"Siapa donornya?"
"Itu emm"
"Seseorang yang meninggal karena kecelakaan" tebakku melihat ke arahnya.
"Hah?"
"Bener?"
"Kamu tahu dari mana?" tanyanya yang terkejut akan tebakkanku yang benar.
"Orang itu berjasa untukku."
"Kamu kenal?"
"Sangat kenal, dia adalah sumber inspirasi dan mengajarkan hidup mandiri yang tidak bergantung hidup pada orang lain"
"Iya dia adalah orang yang sangat mandiri hinggal memisahkan diri dari keluarga tapi aku tidak percaya dia mengajarkan kamu hidup sepertinya"
"Mungkin dia sudah menduga akan pergi lebih awal"
"Jangan hidup sepertinya."
"Kenapa?"
"Aku takut kamu sepertinya yang tidak meminta bantuan saat dia dilanda masalah besar."
"Hah?"
"Aku tidak percaya dia yang tidak mudah bergaul dan tidak banyak berbicara bisa mengenalmu bahkan sampai mengajarkanmu."
"Dia orangnya bawel kok sangat banyak berbicara."
"Hah?"
"Iya dia baik, bawel, terlalu banyak bicara seperti lu Vin" ungkapku mengingat sikap ayah yang tidak jauh dengan Alvin, banyak bicaranya juga sikap lembutnya.
"Aku iri kenapa padaku tidak begitu."
__ADS_1
"Mungkin masih canggung."
Aku akhirnya membicarakannya tentang ayahku kepada dia yang telah menabrak ayahku hingga kini selamanya tidak ada di sampingku melihatku tumbuh menjadi seorang remaja SMA bahkan nanti ketika menikah tidak akan ada seorang ayah yang mendampingiku menjadi wali.