
"Rasya ini" ibu menyerahkan sesuatu ke arahku ketika aku sedang memakai sepatu untuk bersiap berangkat. Itu adalah sebuah foto seorang anak perempuan dan anak laki-laki sedang tersenyum manis melihat ke arah kamera.
"Ini Rasya sama siapa?" tanyaku dan mengambil foto itu.
"Dibaliknya ada namanya" jawab ibu.
Saat ku balikan fotonya terlihat dua buah nama tertulis Aca dan Ibe dengan alamat lengkat di bawahnya.
"Alamat Ibe?" tanyaku memastikan.
"Iya, itu yang kamu carikan?"
"Iya makasih ya bu"
Akupun pamit kepada ibu untuk pergi ke sekolah dengan jawaban pasti yang selalu ku dengar.
"Hati-hati Sya"
"Iya bu"
Setiap hari bahkan setiap waktu ketika aku pamit ke luar pasti ibu akan mengucapkannya.
Aku berjalan memasuki gerbang sekolah dan melihat mobil sedan hitam yang aku yakini itu adalah mobil Alvin sedang melaju lambat memarkirkan mobilnya.
Aku berjalan pelan dan merapihkan pakaian juga rambutku berharap Alvin akan melihat ke arahku. dan benar Alvin melihatku namun seseorang ke luar dari mobilnya, dia adalah Jimin. Aku yang melihatnya hanya bisa terdiam mematung melihat pemandangan yang tidak kusangka akan terjadi di depan mata.
"Rasya" Jimin berlari ke arahku dengan cerita dan menggandeng tanganku berjalan menuju kelas.
"Wajah kalian mirip" ucapku kepada Jimin yang aku juga baru sadar ketika melihat wajah mereka berdampingan.
"Cantikkan gue" jawabnya
"Kata orang kalau wajah mirip itu jodoh" ungapku entah kenapa seperti menahan sakit tapi tertutup dengan senyumku di depannya.
"Jangan ngaco deh masa iya gue sama Alvin" jawabnya disertai tawa.
"Eh lu udah kenal lama?" tanyaku sedikit kepo.
"Kenal kak Alvin? Udah dari bayi"
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda mengerti dan tak terasa air mengalir dipipiku. Aku yang menyadarinya langsung menghapusnya dengan tanganku.
Kami memasuki kelas dan aku duduk bersama Jimin karena kulihat Sita masih bersikap dingin terhadapku.
\* \* \* \* \*
Kini aku di kantin bersama Jimin setelah aku meminta Zio untuk memberi tahu kepada Alvin bahwa hari ini aku tidak bisa melanjutkan misinya karena ada urusan. Urusan yang bisa kulakukan sendiri yaitu menuju rumah yang yang ditempati Ibe temanku waktu dulu juga sedikit menjauhi Alvin yang tidak tahu alasannya namun aku sedikit kesal kepadanya.
Semakin aku melihat Jimin semakin terlihat Jimin sedikit mirip dengan Alvin.
"Kenapa?" tanya Jimin disela makannya, mungkin dia sadar aku memperhatikannya dari tadi.
"Enggak" jawabku dan memakan makananku lagi.
"Sita" ucap Jimin sedikit berbisik.
Aku melihat-lihat sekeliling mencari Sita. Aku melihat dia sedang berjalan menuju kantin bersama 2 remaja perempuan di belakangnya yang aku sendiri tidak tahu siapa itu.
"Itu siapa?" tanyaku pada Jimin.
"Sita" jawabnya polos.
__ADS_1
"Ishh bukan itu loh di belakangnya"
"Fara dan Andin?"
"Lu tahu?"
"Masa lu gak tahu"
"Emang siapa?"
"Ituloh anak sok kaya dari kelas sebelah"
"Kelas sebelah?"
"XII IPS 2"
"Kok baru lihat"
"Astaga gue aja yang murid baru langsung apal wajah begituan, lu kemana aja Rasya"
"Kok Sita bisa kenal mereka?"
"Mana gue tahu"
Akupun pergi meninggalkan kantin dan kembali menuju kelas mengabaikan Sita dengan teman barunya itu.
Aku dan Jimin berjalan di koridor dengan tatapan hampir semua siswa mengarah kepada kami. Bukan pada kami tapi Jimin, para siswa kadang menggodanya sekedar menyapa atau berkenalan namun tak direspon olehnya.
"Jimin gue canggung jalan sama lu" jujurku dan melangkah lebih cepat.
"Jangan gitu dong gue juga awalnya risih tapi sekarang udah biasa" jawabnya mencegahku.
Ketika di tengah perjalanan menuju kelas aku melihat Alvin yang terlihat asik mengobrol bersama seorang remaja perempuan yang aku yakini itu bukan teman sekelasnya karena dari wajahnya dia terlihat seperti anak kelas 10.
"Sya gue tungguin gak?" tawar Jimin di luar toilet.
"Gak usah lu duluan aja" jawabku.
Aku berdiri di depan kaca wastafel yang berada di depan toilet sekolah. Berdebat dengan diriku sendiri.
"Wahh benar-benar cowok itu" tunjukku kesal pada kaca wastafel yang melihatkan wajahku yang tengah kesal.
"Gak cukup apa dengan Jimin hah?"
"Iya aku kesal karena dia mengkhianati Jimin bukan karena cemburu"
"Terus tadi aku kesal lihat Jimin sama Alvin kenapa dong?"
"Aishh" aku mengacak rambutku frustasi.
Ketika aku berniat ke luar, seseorang seperti akan berjalan mendekat ke arahku dan entah kenapa aku langsung memasuki toilet tempat buang air. Aku mendengar suara dua orang perempuan sedang merencanakan sesuatu. Aku mengeluarkan handphoneku dan merekamnya untuk berjaga-jaga.
"Rencananya berhasil"
"Gampang banget ditipu"
"Fotonya terlihat sedang berdua"
"Gue yang foto gitu loh"
"Habis itu apa?"
__ADS_1
"Sesuai rencana sakitin dulu temannya saat itu kita beraksi"
"Hahaha" keduanya tertawa dan ke luar sesudah berbincang dan memakai toilet.
Suara yang belum pernah aku dengar yang satu terdengar sedikit serak dan yang satu bersuara kecil juga cempreng sedang merencanakan sesuatu yang menurut itu menakutkan.
\* \* \* \* \*
Ketika bel berbunyi bertanda pulang aku langsung menaiki angkutan umum menuju alamat yang diberikan ibu. Ternyata alamatnya dekat rumah Nazwa dan aku sedikit lega karena aku tahu tempat itu karena sering ke sana apalagi Sita juga berada di sekitar rumah itu namun beda blok. Saat tepat di sebuah rumah yang ditunjukan alamat itu aku sedikit kaget karena tepat di depan rumah Alvin. Aku berulang kali mengecek alamatnya takutnya salah namun berulang kali aku cek tetap sama hasilnya.
Aku berniat pulang namun sebuah mobil sedan mewah berwarna putih menghentikan jalanku.
"Rasya masuk dulu" ajak seorang wanita paruh baya di balik jendela mobil yang dibukakannya. Itu adalah bunda, ibu dari Alvin.
Akupun akhirnya masuk menuruti kata bunda.
"Alvin mana?" tanya bunda padaku.
"Rasya tidak tahu bunda" jujurku.
Aku bersama bunda memasuki rumah mewah bernuansa eropa ini. Aku duduk di kursi tamu dengan bunda yang berada di sampingku.
"Minum apa?" tanya bunda dengan lembut.
"Apa aja bunda"
"Bi jus jeruk dua" panggilnya kepada pelayan yang bekerja di sana.
"Kamu suka jus jeruk?"
"Suka"
"Kok gak bareng Alvin?"
"Rasya gak tahu Alvin dimana" jawabku dengan jujur.
"Kamu kesini kangen ya sama bunda?" katanya dan terlihat pelayan yang menyimpan minuman di atas meja.
"Iya" jawabku.
"Jujur ada apasih, ada masalah sama Alvin?"
"Gak ada bunda, Rasya cuma.." ucapku ragu.
"Cuma apa?" tanya bunda penasaran.
"Maaf ya bunda mungkin Rasya tidak sopan menanyakannya tapi Rasya lagi cari seseorang"
"Siapa?"
"Dulu sebelum bunda tinggal di sini.."
"Heem"
"Rumah ini beli dari..."
"Beli dari? Rumah ini papah Alvin yang bangun kok gak beli dari bekas siapa-siapa"
"Hah?"
"Emang kenapa?"
__ADS_1
"Kalau gitu tante kenal dengan orang yang difoto ini gak" aku menunjukkan fotonya kepada bunda.
"Loh inikan Alvin" jawab bunda dengan pasti.